OpiniWARGA

Idulfitri di Tengah Badai Global: Mengelola Amanah Alam untuk Kemaslahatan Semesta

Oleh: Dr. Najamuddin Amy, S.Sos., MM.

Fitrah Manusia dan Fitrah Alam

Idulfitri adalah momentum kemenangan, saat manusia kembali kepada fitrah kesucian. Namun, fitrah tidak hanya milik manusia. Alam semesta dengan segala isinya juga memiliki fitrah—keseimbangan yang telah ditetapkan Sang Pencipta. QS. Ar-Rahman: 7-9 mengingatkan:

IKLAN

“Dan Allah telah meninggikan langit dan meletakkan neraca (keadilan). Agar kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.”

Ayat ini menegaskan bahwa keseimbangan alam adalah sunnatullah. Manusia diberi amanah sebagai khalifah—pemimpin di muka bumi—bukan untuk mengeksploitasi, tetapi untuk menjaga harmoni. Di hari raya yang fitri ini, kita diajak merenung: sudahkah kita mengelola Sumber Daya Alam (SDA) titipan Allah dengan amanah? Atau justru sebaliknya, kita menjadi bagian dari kerusakan?

IKLAN

Satu: Potret Kondisi Global Hari ini

Dunia saat ini tengah menghadapi ketidakpastian yang mencekik. Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global 2026 hanya 2,6%—yang terendah dalam dekade ini—akibat perang dagang, ketegangan geopolitik, dan lemahnya konsumsi masyarakat. Ketegangan di Timur Tengah yang melibatkan Iran, AS, dan Israel memicu gangguan rantai pasok energi global. Penutupan Selat Hormuz berpotensi mendorong lonjakan harga minyak dan meningkatkan beban impor migas berbagai negara.

IKLAN

Di tengah kekacauan ini, World Economic Forum (WEF) 2026 mencatat bahwa fragmentasi global semakin tajam. Tarif dagang digunakan sebagai instrumen politik, dan kepercayaan terhadap institusi publik melemah. Negara-negara berlomba memperkuat ketahanan domestik, tetapi seringkali mengorbankan kerja sama multilateral. Padahal, masalah seperti perubahan iklim dan krisis pangan tidak mengenal batas negara.

Ironisnya, di saat dunia dilanda krisis, gaya hidup konsumtif dan eksploitatif terus berjalan. Deforestasi masih marak, emisi karbon belum turun signifikan, dan kesenjangan antara negara maju dan berkembang semakin melebar. Data World Bank menunjukkan bahwa pendapatan per kapita negara berkembang hanya mencapai 12% dari negara maju, dengan 1,2 miliar kaum muda memasuki usia kerja tanpa lapangan kerja yang memadai.

Dua: SDA sebagai Titipan, Bukan Warisan

Dalam Islam, sumber daya alam bukan milik mutlak manusia, melainkan titipan Allah yang harus dikelola untuk kemaslahatan bersama. QS. Hud: 61 menegaskan:

“Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya.”

Kata ista’marakum (menjadikan kamu pemakmur) mengandung makna aktif: manusia berkewajiban memakmurkan bumi, bukan merusaknya. Sayangnya, yang sering terjadi justru sebaliknya. Eksploitasi tambang, penggundulan hutan, dan pencemaran lingkungan dilakukan atas nama pembangunan, tetapi mengabaikan keberlanjutan.

Pemerintah Provinsi Riau melalui program GREEN for Riau Initiative menegaskan komitmennya menjaga kelestarian SDA. Sekretaris Daerah Riau, Syahrial Abdi, menyatakan bahwa kekuatan utama provinsi itu terletak pada kekayaan alamnya, sehingga pengelolaan harus dilakukan dengan visi lingkungan yang kuat. Ini adalah contoh baik bagaimana kebijakan publik bisa selaras dengan amanah alam.

Di tingkat global, konferensi ICNRSD ke-4 di Universitas Sumatera Utara yang diikuti 15 negara membahas pengelolaan SDA berkelanjutan. Para peneliti menekankan pentingnya tata kelola transparan, dekarbonisasi industri ekstraktif, dan rehabilitasi lahan terdegradasi melalui riset ilmiah dan partisipasi masyarakat. Kolaborasi semacam ini membuktikan bahwa kesadaran akan krisis ekologi mulai terbangun, meski implementasinya masih jauh dari harapan.

Tiga: Manusia sebagai Pusat Pembangunan yang Berkeadilan

Pembangunan yang berpusat pada manusia (people-centered development) bukan sekadar jargon. Ini adalah amanat konstitusi dan ajaran agama. QS. Al-Qashash: 77 mengingatkan:

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

Ayat ini mengajarkan keseimbangan: mencari kebahagiaan akhirat tanpa melupakan urusan dunia, dan berbuat baik tanpa merusak. Prinsip ini sejalan dengan konsep Sustainable Development Goals (SDGs) yang mengintegrasikan pertumbuhan ekonomi, inklusi sosial, dan perlindungan lingkungan.

Pemerintah Indonesia dan PBB telah meluncurkan Indonesia-United Nations Sustainable Development Cooperation Framework (UNSDCF) 2026-2030. Kerangka kerja ini mencakup tiga capaian transformatif: pembangunan manusia (kesehatan, pendidikan, perlindungan sosial), alam dan dekarbonisasi (keanekaragaman hayati, transisi energi), serta transformasi ekonomi digital. Wakil Menteri PPN/Kepala Bappenas, Febrian Alphyanto Ruddyard menegaskan bahwa SDGs bukan sekadar kewajiban global, melainkan janji kepada rakyat untuk masa depan yang inklusif, adil, dan tangguh.

Namun, pembangunan berpusat manusia tidak boleh berhenti pada kebijakan makro. Ia harus menyentuh akar rumput. Pemberdayaan masyarakat lokal, pengakuan atas pengetahuan tradisional, dan perlindungan kelompok rentan adalah kunci. Di sinilah peran Idul Fitri sebagai momentum berbagi dan peduli menemukan relevansinya. Zakat, infak, dan sedekah adalah instrumen redistribusi kekayaan yang mencerminkan tanggung jawab sosial.

Empat: Rahmatan Lil ‘Alamin—Kasih Sayang untuk Semesta

Konsep rahmatan lil ‘alamin sering dipahami sempit sebagai kasih sayang hanya untuk manusia. Padahal, al-‘alamin mencakup seluruh alam: manusia, hewan, tumbuhan, bahkan ekosistem. QS. Al-Anbiya: 107 dengan tegas menyatakan:

“Dan tiadalah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”

Penelitian akademis di UIN Sultan Syarif Kasim Riau mengkaji konsep rahmatan lil ‘alamin dalam Tafsir Al-Misbah karya M. Quraish Shihab. Hasilnya menunjukkan bahwa Nabi Muhammad saw., membawa konsep rahmat yang meliputi tanggung jawab terhadap alam dan kesejahteraan semua makhluk hidup. Penafsiran ini sejalan dengan prinsip ekosentrisme—pandangan yang menekankan pentingnya menjaga keseimbangan dan menghormati ekosistem, bukan sekadar memanfaatkannya.

Universitas Negeri Surabaya (UNESA) dalam sebuah opini ilmiah menegaskan bahwa membumikan Islam rahmatan lil ‘alamin melalui akulturasi budaya dapat mendukung pembangunan berkelanjutan. Tradisi lokal seperti gotong royong, musyawarah, dan penghormatan pada alam sejatinya selaras dengan nilai-nilai Islam. Sayangnya, intoleransi dan pemahaman agama yang kaku justru mengikis kearifan lokal ini.

Di tingkat global, UNDP dalam laporan Human Development Report 2026 yang akan datang mengusulkan pendekatan baru: membangun hubungan timbal balik (reciprocity) antara manusia dan alam. Selama ini, hubungan bersifat satu arah—apa yang bisa alam berikan untuk manusia. Kini saatnya bertanya: apa yang bisa manusia lakukan untuk alam? UNDP bahkan sedang menjajaki Nature Relationship Index (NRI) sebagai indikator untuk mengukur kualitas hubungan manusia dengan alam, setara dengan Human Development Index (HDI) yang sudah dikenal luas.

Lima: Idulfitri dan Refleksi Ekologis

Idulfitri mengajarkan kita tentang kembali ke fitrah. Fitrah manusia adalah suci, tetapi fitrah alam juga suci—diciptakan dalam keseimbangan. Ketika kita merusak alam, sejatinya kita merusak fitrah. Ketika kita mengeksploitasi SDA secara berlebihan, kita melampaui batas yang Allah tetapkan.

Di hari raya ini, mari renungkan:

  1. Sudahkah konsumsi kita ramah lingkungan? Makanan berlebih, kemasan plastik, dan pemborosan energi saat Lebaran adalah ironi di tengah krisis iklim.
  2. Sudahkah sedekah kita memberdayakan? Zakat dan infak seharusnya tidak hanya memberi ikan, tetapi juga kail—memberdayakan mustahik secara berkelanjutan tanpa merusak lingkungan.
  3. Sudahkah kebijakan kita berpihak pada alam? Para pemimpin dan birokrat harus bermuhasabah: apakah proyek-proyek yang digulirkan memperhatikan kelestarian lingkungan atau justru merusaknya?

Rasulullah saw., bersabda:

“Tidaklah seorang Muslim menanam pohon atau bercocok tanam, lalu burung, manusia, atau hewan memakannya, melainkan itu menjadi sedekah baginya.” (HR. Bukhari)

Hadits ini mengajarkan bahwa menanam pohon adalah sedekah jariyah. Di tengah krisis iklim, gerakan menanam pohon dan merehabilitasi lahan kritis adalah wujud nyata rahmatan lil ‘alamin.

Enam: Jalan ke Depan—Kolaborasi untuk Bumi

Tidak ada satu negara pun yang bisa menyelesaikan krisis ekologi sendirian. Kolaborasi global, nasional, dan lokal adalah keniscayaan. World Bank merekomendasikan tiga pilar kebijakan: memperkuat modal fisik, digital, dan sumber daya manusia; memperbaiki iklim usaha; serta memobilisasi modal swasta untuk investasi berkelanjutan. World Economic Forum menekankan pentingnya aturan main yang jelas, kredibilitas institusi, dan investasi pada keterampilan manusia.

Di tingkat nasional, sinergi antara pemerintah, swasta, akademisi, dan masyarakat sipil harus diperkuat. Program seperti GREEN for Riau Initiative dan Indonesia SDGs Accelerator Fund perlu direplikasi di daerah lain. Di tingkat akar rumput, gerakan budaya seperti sedekah bumi, bersih desa, dan tradisi lokal lainnya harus dilestarikan karena mengandung nilai-nilai ekologis.

Yang tak kalah penting adalah pendidikan. Generasi muda harus ditanamkan kesadaran bahwa menjaga alam adalah bagian dari iman. Kurikulum berbasis nilai lokal dan wawasan lingkungan perlu diperkuat, sebagaimana direkomendasikan UNESA.

Fitrah yang Kembali, Bumi yang Bersemi

Idulfitri adalah simbol kemenangan melawan hawa nafsu. Namun, kemenangan sejati adalah ketika kita mampu menundukkan ego—baik ego pribadi, kelompok, maupun bangsa—demi kemaslahatan bersama. Ego yang mendorong eksploitasi berlebihan, korupsi sumber daya alam, dan ketidakpedulian pada lingkungan harus kita tinggalkan.

Allah SWT berfirman dalam QS. Ar-Rum: 41:

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Ayat ini adalah peringatan sekaligus harapan. Peringatan bahwa kerusakan alam akibat ulah manusia. Harapan bahwa masih ada pintu taubat—kembali ke jalan yang benar.

Di hari yang fitri ini, mari kita jadikan momentum untuk kembali ke fitrah: fitrah manusia sebagai khalifah, fitrah alam sebagai titipan, dan fitrah Islam sebagai rahmat bagi semesta. Mari kelola SDA dengan amanah, bangun dengan berkeadilan, dan jaga bumi untuk generasi mendatang.

Selamat Idulfitri. Mohon maaf lahir dan batin. Semoga kita semua termasuk hamba-Nya yang bertakwa dan membawa rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil alamin). (Drna76)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button