Dua Hari, Empat Kecamatan di Kabupaten Bima Diterjang Banjir
Mataram (NTBSatu) – Curah hujan lebat dengan angin kencang menyebabkan banjir luapan di sejumlah wilayah Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), Jumat, 6 Maret 2026.
Berdasarkan laporan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi NTB, sedikitnya empat kecamatan terdampak hingga mengakibatkan ratusan rumah terendam. Serta, jembatan di Kecamatan Ambalawi putus total.
Kepala BPBD Provinsi NTB, Sadimin mengungkapkan, kondisi warga pasca terkena banjir luapan. “Kondisi saat ini banjir sudah surut dan warga mulai melakukan pembersihan mandiri pasca banjir,” katanya dalam keterangan tertulis, Senin, 9 Maret 2026.
Bencana ini terjadi karena aktifnya gelombang atmosfer MJO, Kelvin, dan Low Frequency di wilayah NTB. Sehingga, menciptakan pertemuan dan perlambatan kecepatan angin.
Kondisi ini tambah parah dengan kelembaban udara basah. Sehingga, memicu pertumbuhan awan konvektif yang signifikan di Kabupaten Bima dan sekitarnya.
Dampak di Lima Kecamatan
Dari data BPBD NTB, ada lima kecamatan yang terdampak, yaitu Kecamatan Tambora, Wera, Ambalawi, Bolo, dan Madapangga. Di Kecamatan Tambora, sebanyak 52 rumah di Desa Labuan Kananga dan Kawinda Naāe, terendam banjir setinggi 30 sentimeter.
Beberapa fasilitas publik juga turut terdampak, mulai dari SDN 2 Labuhan Kenanga hingga kantor desa setempat. Sedangkan di Kecamatan Wera, banjir berdampak pada Kantor Camat Wera dan tiga desa, yakni Nangawera, Wora, dan Tawali.
Selain rumah warga, banjir juga menggenangi ruas jalan lintas Wera – Bima setinggi 30 sentimeter. Dari laporan BPBD, banjir ini mengakibatkan kerusakan infrastruktur patah di Desa Mawu, Kecamatan Ambalawi.
Dilaporkan satu jembatan penghubung putus total, karena sempat terendam banjir setinggi 70 sentimeter hingga 2 meter. “Tim BPBD melakukan pengamatan, pendataan, dan kaji cepat serta penanganan darurat terhadap daerah terdampak,” lanjut Sadimin.
Banjir masih terjadi hingga Sabtu, 7 Maret 2026 dan berdampak parah di Kecamatan Bolo. Sebanyak 454 unit rumah terendam di Desa Rato dan Desa Rasabou.
Di Desa Rasabou tercatat. 1.027 jiwa terdampak dengan ketinggian air hingga 60 sentimeter. Selain itu, Gedung SDN Inpres Rasabou 2 turut terendam.
Bantuan tanggap darurat dan logistik (logpal) menjadi kebutuhan mendesak. Pemantauan potensi bencana susulan melibatkan koordinasi lintas sektor, seperti TNI, Polri, hingga aparatur desa terus.
Imbauan dan Waspada Puncak Musim Hujan
Berdasarkan analisis meteorologi dari BMKG, dasarian I Maret 2026 (1-10 Maret) berpeluang terjadi curah hujan tinggi di atas 50 hingga 100 milimeter per dasarian dengan probabilitas hingga 90 persen. Pemerintah daerah mengimbau masyarakat tetap waspada, mengingat wilayah NTB berada pada periode puncak musim hujan. (Inda)



