Bahlil: Indonesia Alihkan Impor Minyak dari Timur Tengah ke AS Usai Selat Hormuz Ditutup
Jakarta (NTBSatu) – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia menyiapkan sejumlah strategi untuk menjaga ketahanan energi nasional di tengah memanasnya geopolitik Timur Tengah. Langkah tersebut menyusul penutupan Selat Hormuz oleh Iran yang menghambat pasokan minyak mentah global.
Penutupan jalur strategis tersebut menghentikan sekitar 20,1 juta barel per hari pasokan minyak mentah dunia. Dampaknya turut Indonesia rasakan, sekitar 20 hingga 25 persen impor minyak mentah dari kawasan Timur Tengah mengalami kendala.
Sebagai langkah antisipatif, pemerintah memutuskan mengalihkan sebagian impor minyak mentah (crude) dari Timur Tengah ke Amerika Serikat (AS).
“Skenarionya sekarang ini untuk minyak mentah yang kita ambil dari Timur Tengah, sebagian kita alihkan untuk ambil dari Amerika. Supaya ada kepastian ketersediaan minyak mentah kita,” ujar Bahlil dalam konferensi pers di kanal YouTube Kementerian ESDM, Selasa, 3 Maret 2026.
Bahlil menjelaskan, untuk impor Bahan Bakar Minyak (BBM) dengan angka oktan (RON) 90 hingga 98, Indonesia tidak bergantung pada pasokan dari Timur Tengah. Produk BBM tersebut diimpor dari negara-negara di luar kawasan tersebut, sehingga tidak terdampak langsung oleh penutupan Selat Hormuz.
Lakukan Penyesuaian Impor Elpiji
Sementara itu, untuk komoditas elpiji, pemerintah juga melakukan penyesuaian sumber impor. Saat ini, Indonesia mengimpor sekitar 7,3 juta ton elpiji per tahun dan meningkat menjadi 7,8 juta ton pada tahun ini.
Dari jumlah tersebut, sekitar 70 persen berasal dari AS, sedangkan 30 persen lainnya dari Timur Tengah melalui Saudi Aramco.
Bahlil mengakui, dinamika ketegangan di Timur Tengah turut memengaruhi distribusi dari Saudi Aramco akibat penutupan Selat Hormuz. Karena itu, pemerintah mengambil langkah pengalihan sebagian impor elpiji ke negara-negara yang tidak terdampak langsung oleh situasi tersebut.
“Kita tahu dari informasi dinamika ketegangan di Timur Tengah juga terkait Saudi Aramco. Itu juga terkena dampak dari penutupan Selat Hormuz. Maka alternatifnya adalah kita swip lagi agar kita tidak mau mengambil risiko. Sebagiannya kita belanja di negara yang tidak ada hubungannya dengan Selat Hormuz,” paparnya.
Berdampak Terhadap Harga Minyak Mentah Indonesia
Di sisi lain, kenaikan harga minyak mentah global turut berdampak pada harga rata-rata minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP). Rata-rata tersebut menjadi acuan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Dalam APBN, ICP ditetapkan sebesar USD70 per barel. Namun, saat ini harga ICP telah meningkat ke kisaran USD78 hingga USD80 per barel.
“Kita tahu di dalam APBN kita, harga ICP itu USD70 per barel. Sekarang sudah naik menjadi USD78 hingga USD80 per barel,” ujar Bahlil.
Menurutnya, kenaikan tersebut membuat pemerintah harus berhati-hati dalam melakukan penyesuaian harga BBM. Sebab, berimplikasi terhadap besaran subsidi yang harus negara tanggung.
Meski demikian, peningkatan harga ICP juga berpotensi menambah penerimaan negara, mengingat Indonesia memproduksi sekitar 600 ribu barel minyak per hari.
“Tapi di sisi lain dengan kenaikan harga ICP itu juga negara mendapatkan pendapatan karena kita menyumbang sekitar 600 ribu barel per hari. Nah, selisih ini yang akan kita hitung,” jelasnya.
Bahlil menegaskan, arahan Presiden adalah agar pemerintah menghitung secara cermat seluruh dampak kenaikan harga minyak, sembari tetap memastikan ketersediaan BBM nasional guna menjamin pelayanan kepada masyarakat.
“Arahan Presiden adalah kita harus sangat berhati-hati untuk menghitung semuanya dengan tetap memastikan ketersediaan BBM di negeri ini, untuk memberikan kepastian pelayanan kepada masyarakat kita,” tegasnya. (*)



