INTERNASIONAL

Lima Kandidat Teratas Pengganti Ali Khamenei Usai Meninggal Dunia

Mataram (NTBSatu) – Serangan Amerika Serikat–Israel pada Sabtu, 28 Februari 2026, mengakibatkan meninggalnya pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei.

Peristiwa tersebut langsung mengguncang peta politik kawasan Timur Tengah sekaligus memicu proses suksesi di Teheran. Iran kini bersiap menentukan figur baru yang akan memegang otoritas tertinggi negara dalam sistem velayat-e faqih.

Pemimpin tertinggi memegang kendali atas arah politik, militer, serta kebijakan strategis Iran. Konstitusi Iran memberi kewenangan kepada Majelis Ahli untuk memilih sosok pengganti. Majelis Ahli beranggotakan 88 ulama yang memperoleh mandat rakyat setiap delapan tahun.

Mengutip laporan Al Jazeera, Senin, 2 Maret 2026, calon anggota Majelis Ahli harus melewati seleksi ketat serta meraih persetujuan Dewan Garda. Sebagian anggota Dewan Garda memperoleh penunjukan langsung dari pemimpin tertinggi.

Ketika kursi kepemimpinan kosong, Majelis Ahli segera menggelar sidang dan menentukan pemimpin baru melalui suara mayoritas sederhana.

Konstitusi Iran mensyaratkan calon pemimpin tertinggi sebagai ahli hukum Islam senior dengan pemahaman mendalam tentang yurisprudensi Syiah.

Kandidat juga harus memiliki ketajaman membaca dinamika politik, keberanian mengambil keputusan, serta kemampuan administrasi yang solid.

Lima Kandidat Teratas Pengganti Ali Khamenei

Berikut ini lima tokoh yang kini masuk radar sebagai kandidat teratas pengganti Ali Khamenei:

1. Mojtaba Khamenei

Mojtaba Khamenei menjadi salah satu nama paling sering muncul dalam bursa suksesi. Putra kedua Ali Khamenei ini memiliki pengaruh kuat di lingkaran elite pemerintahan serta Korps Garda Revolusi Islam.

Jaringan politik yang luas memberi modal penting dalam kontestasi kepemimpinan. Namun, faktor hubungan keluarga memicu perdebatan karena sebagian kalangan menolak pola kepemimpinan yang menyerupai sistem turun-temurun.

2. Alireza Arafi

Alireza Arafi berusia 67 tahun dan memegang posisi strategis dalam struktur keagamaan Iran. Selain itu, ia menjabat sebagai Wakil Ketua Majelis Ahli serta anggota Dewan Penjaga. Pada masa transisi, ia ikut menjalankan tugas dalam dewan pimpinan sementara.

Pengaruhnya kuat dalam sistem seminari nasional serta kepemimpinan salat Jumat di Qom yang menjadi pusat spiritual utama Iran.

3. Mohammed Mehdi Mirbagheri

Mohammed Mehdi Mirbagheri dikenal sebagai ulama dengan sikap keras terhadap Barat. Ia menjadi anggota Majelis Ahli sekaligus memimpin Akademi Ilmu Pengetahuan Islam di Qom.

Pandangan politiknya yang tegas menarik dukungan kelompok konservatif yang menginginkan perlawanan kuat terhadap tekanan eksternal. Basis ideologis tersebut memperbesar peluangnya dalam proses pemilihan.

4. Gholam-Hossein Mohseni-Ejei

Gholam-Hossein Mohseni-Ejei merupakan ulama senior yang saat ini memimpin lembaga peradilan Republik Islam. Kariernya mencakup jabatan menteri intelijen, jaksa agung, serta wakil ketua hakim pertama.

Pengalaman panjang dalam sektor hukum dan keamanan memberi nilai tambah dalam persaingan suksesi. Banyak tokoh konservatif memandangnya sebagai figur tegas yang mampu menjaga stabilitas nasional.

5. Hassan Khomeini

Hassan Khomeini merupakan cucu Ruhollah Khomeini, pendiri Republik Islam Iran. Ia dikenal sebagai tokoh reformis dengan pandangan moderat terkait kebijakan publik.

Meski belum pernah memegang jabatan pemerintahan, namanya tetap kuat karena pengaruh simbolis keluarga Khomeini dalam sejarah revolusi Iran.

Pada 2016, ia sempat mencoba maju sebagai anggota Majelis Pakar, namun dewan seleksi menggugurkan pencalonannya.

Selanjutnya, Majelis Ahli kini memegang peran sentral dalam menentukan arah kepemimpinan Iran selanjutnya. (*)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button