Hujan Deras Picu Bencana Beruntun di Lombok Barat: Jembatan Ambruk, 708 Jiwa Terdampak Banjir
Lombok Barat (NTBSatu) – Hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi mengguyur wilayah Kabupaten Lombok Barat sepanjang Sabtu malam hingga Minggu pagi, 22 Februari 2026. Hal ini memicu rangkaian bencana alam di dua kecamatan sekaligus.
Tanah longsor terjadi di Kecamatan Lembar, sementara banjir melanda sejumlah desa di Kecamatan Sekotong. Akibatnya, akses antarwilayah terputus dan ratusan warga terdampak langsung.
Berdasarkan laporan resmi BPBD Provinsi NTB, longsor terjadi sekitar pukul 07.30 Wita di Desa Sekotong Timur, Kecamatan Lembar.
Material longsor menyebabkan ambruknya jembatan di Dusun Kambeng Dese. Jembatan ini yang merupakan satu-satunya akses penghubung antara Desa Sekotong Timur dengan Desa Mareje.
Selain itu, tanah longsor juga menutup badan jalan di Dusun Kambeng Timur, sehingga aktivitas masyarakat lumpuh total.
“Jembatan yang ambruk ini adalah akses vital warga. Kerusakan ini berdampak langsung pada mobilitas masyarakat, distribusi logistik, hingga aktivitas ekonomi sehari-hari,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Provinsi NTB, Sadimin dalam keterangannya, Minggu, 22 Februari 2026.
Ia menambahkan, hujan deras yang berlangsung hampir satu malam penuh membuat struktur tanah menjadi labil.
“Curah hujan tinggi menjadi pemicu utama. Begitu menerima laporan, tim langsung turun melakukan survei, pendataan, dan koordinasi dengan aparat desa serta kecamatan untuk penanganan darurat,” jelasnya.
Banjir Rendam Dua Desa di Sekotong
Sementara itu, bencana banjir terjadi di Kecamatan Sekotong pada waktu yang hampir bersamaan. Banjir merendam dua desa, yakni Desa Sekotong Barat dan Desa Batu Putih.
Di Desa Sekotong Barat, banjir berdampak signifikan di Dusun Aik Samin dan Dusun Pandanan Bersemi. Data sementara mencatat 97 kepala keluarga (368 jiwa) terdampak di Dusun Aik Samin, serta 85 kepala keluarga (340 jiwa) di Dusun Pandanan Bersemi.
Totalnya, 182 kepala keluarga atau 708 jiwa terdampak langsung akibat banjir. “Air menggenangi permukiman warga dan sempat mengganggu aktivitas masyarakat. Meski saat ini air sudah surut, dampaknya masih dirasakan warga, terutama kebutuhan logistik dan pemulihan pasca-banjir,” kata Sadimin.
Di Desa Batu Putih, banjir juga merendam Dusun Labuan Poh Timur, Dusun Labuan Poh Barat, dan Dusun Selegong.
Hingga kini, BPBD masih melakukan asesmen lanjutan untuk memastikan jumlah pasti warga terdampak serta tingkat kerusakan rumah dan fasilitas umum di wilayah tersebut.
Dalam penanganan bencana ini, BPBD Provinsi NTB bersama BPBD Lombok Barat, TNI, Polri, aparat kecamatan dan desa. Serta, masyarakat setempat bahu-membahu melakukan langkah darurat.
Sejumlah kebutuhan mendesak telah diidentifikasi. Di antaranya, pembuatan jembatan darurat, air bersih, makanan siap saji, selimut, tikar, karung, serta alat kebersihan.
“Kami sudah menyampaikan laporan lengkap ke BNPB RI dan Pemerintah Provinsi NTB untuk mendapatkan dukungan penanganan lanjutan. Terutama, terkait akses jembatan dan logistik warga terdampak,” ungkap Sadimin
BPBD NTB juga mengeluarkan imbauan kepada masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Berdasarkan prakiraan cuaca, wilayah NTB saat ini memasuki puncak musim hujan.
Pada dasarian ketiga Februari 2026, peluang hujan dengan intensitas lebih dari 50 hingga 100 milimeter per dasarian diperkirakan mencapai 80 hingga 90 persen, termasuk di sebagian wilayah Lombok Barat.
“Kami mengimbau masyarakat, khususnya yang tinggal di daerah rawan longsor dan banjir, untuk tetap waspada dan segera melapor jika terjadi kondisi darurat. Keselamatan warga adalah prioritas utama,” tutupnya. (Zani)



