Petani Milenial Kopi Arabika Sembalun Mulai Mengemuka, Harapkan Bantuan Ekspor Pemerintah
Lombok Timur (NTBSatu) – Petani milenial kopi Arabika di Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, mulai menunjukkan geliat signifikan dan menuntut dukungan konkret pemerintah untuk membuka akses ekspor.
Di tengah stabilnya harga green bean yang bertahan di kisaran Rp100 ribu hingga Rp200 ribu per kilogram selama empat tahun terakhir, para petani optimistis kopi Arabika Sembalun mampu menjadi komoditas unggulan baru yang menopang ekonomi daerah.
Di bawah kaki Gunung Rinjani, perubahan arah usaha tani itu terus menguat. Para pemuda dan petani milenial tidak lagi bergantung sepenuhnya pada hortikultura seperti sayur-mayur dan bawang putih.
Mereka kini mengembangkan kopi Arabika sebagai alternatif yang dinilai lebih stabil dan berkelanjutan di lahan-lahan kering, yang sebelumnya kurang produktif.
Kelebihannya, menurut banyak sumber terpercaya, produksi biji kopi akan lebih baik jika ditutupi oleh pohon naungan, tidak seperti bawang putih yang harus banyak mendapat sinar matahari langsung. Artinya, penanaman kopi tidak memerlukan pembukaan lahan dan vegetasi alami tetap terjaga.
Penggiat kopi lokal, Rusmala menegaskan, peralihan ini bukan sekadar tren sesaat. Ia menyebut, lonjakan minat terhadap kopi Arabika akibat perubahan gaya hidup masyarakat serta pesatnya pertumbuhan sektor pariwisata di Sembalun.
“Kopi sekarang bukan hanya oleh-oleh atau minuman biasa. Ini sudah menjadi gaya hidup. Selama empat tahun terakhir harganya tidak pernah turun. Green bean stabil di angka Rp100 ribu sampai Rp200 ribu,” ujar Rusmala, Rabu, 18 Februari 2026.
Menurutnya, keterbatasan lahan subur akibat intensifnya tanaman hortikultura mendorong petani memanfaatkan lahan kering untuk kopi. Mereka juga mengganti varietas lama seperti Typica dengan Ateng Super yang lebih produktif dan memiliki buah lebih lebat.
Rusmala menjelaskan, karakter rasa kopi Sembalun sangat dipengaruhi oleh ketinggian di atas 1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl). Namun ia menekankan, kualitas akhir kopi tetap sangat ditentukan oleh ketelitian proses pasca-panen.
“Kalau salah proses, kualitas bisa turun drastis,” tegasnya.



