Petani Milenial Kopi Arabika Sembalun Mulai Mengemuka, Harapkan Bantuan Ekspor Pemerintah
Hadirkan Inovasi Teknik Budidaya
Transformasi pertanian kopi di Sembalun juga menghadirkan inovasi teknik budidaya. Petani milenial, Neli Pujiawan yang mulai menanam kopi sejak 2017, menerapkan sistem tanam pagar untuk meningkatkan produktivitas.
“Potensi produksi bisa mencapai 2 ton per hektar. Dengan harga pasar saat ini, pendapatan bisa menyentuh Rp500 juta per hektar, dan perawatannya jauh lebih minim dibanding sayuran,” jelas Pujiawan.
Potensi tersebut membuat kopi Arabika Sembalun semakin dilirik sebagai komoditas bernilai tinggi. Namun, para petani menghadapi tantangan besar untuk menembus pasar internasional.
Neli mengungkapkan, biaya logistik dan perizinan ekspor menjadi hambatan utama. Ongkos pengiriman dan izin ekspor bisa mencapai Rp160 ribu per kilogram, angka yang dinilai tidak rasional karena setara bahkan melebihi harga beli di tingkat petani.
“Tidak mungkin ekspor kalau biayanya setara harga jual. Kami berharap pemerintah mempermudah izin dan menekan biaya pengiriman agar kopi Sembalun bisa mendunia,” harapnya.
Dengan tren harga yang stabil, dukungan teknologi budidaya, serta semangat petani milenial, kopi Arabika Sembalun berpeluang menjadi komoditas strategis baru Lombok Timur.
Kini, para petani menanti kebijakan konkret pemerintah untuk membuka keran ekspor dan membawa kopi dari lereng Rinjani itu bersaing di pasar global. (*)



