Kasus DBD di Sumbawa Naik Awal 2026, Empang dan Moyo Hilir Jadi Titik Rawan Penyebaran
Sumbawa Besar (NTBSatu) – Lonjakan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) mulai mengancam kesehatan masyarakat Kabupaten Sumbawa di awal tahun 2026. Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa mencatat, sebanyak 34 kasus DBD tersebar di sembilan kecamatan, dengan wilayah Empang dan Moyo Hilir menjadi daerah dengan jumlah kasus tertinggi.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa, Sarip Hidayat mengungkapkan, peningkatan kasus DBD terjadi seiring intensitas musim hujan yang memicu berkembangnya nyamuk Aedes aegypti, faktor utama penyebaran virus dengue.
“Penyebaran DBD di Sumbawa meningkat sejak awal tahun 2026,” ujar Sarip, Jumat, 6 Februari 2026.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Sumbawa, Kecamatan Empang dan Moyo Hilir masing-masing mencatat tujuh kasus. Kemudian, Kecamatan Plampang dan Labuhan Badas masing-masing empat kasus.
Sementara itu, Kecamatan Buer dan Sumbawa tercatat tiga kasus, Moyo Utara dan Alas Barat masing-masing dua kasus, serta Unter Iwes satu kasus.
Sarip menjelaskan, musim penghujan menjadi faktor utama meningkatnya kasus DBD. Curah hujan yang tinggi menciptakan banyak genangan air yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.
“Nyamuk Aedes berkembang biak sangat cepat pada air yang tergenang. Risiko penyebaran semakin tinggi jika lingkungan kurang bersih dan tidak terkelola dengan baik,” jelasnya.
Gejala Awal dan Ingatkan 3M Plus
Ia menegaskan, masyarakat perlu mewaspadai gejala awal DBD yang sering muncul secara mendadak. Misalnya, demam tinggi tanpa sebab jelas, nyeri kepala, sakit otot dan sendi, mual, muntah, muncul ruam merah di kulit, hingga mudah mengalami perdarahan.
“Jika muncul gejala tersebut, masyarakat harus segera memeriksakan diri ke Puskesmas atau rumah sakit agar mendapatkan penanganan sedini mungkin,” tegasnya.
Untuk menekan penyebaran DBD, pihaknya mengimbau masyarakat aktif melakukan gerakan 3M Plus. Yakni, menguras tempat penampungan air secara rutin, menutup rapat wadah penampung air, serta mengubur atau memanfaatkan barang bekas yang berpotensi menampung air.
Langkah tambahan lainnya berupa penggunaan obat anti nyamuk, pemasangan kelambu, dan menjaga kebersihan lingkungan rumah.
“DBD sebenarnya bisa dicegah jika masyarakat disiplin menjaga kebersihan lingkungan dan rutin melakukan pemberantasan sarang nyamuk. Semakin cepat kita bertindak, semakin besar peluang melindungi keluarga dari ancaman penyakit ini,” tambahnya. (Marwah)



