Mengenal SD Muhammadiyah Sapen, Sekolah di Yogyakarta dengan Antrean Pendaftaran hingga 2033
Mataram (NTBSatu) – SD Muhammadiyah Sapen, Yogyakarta, menjadi perbincangan ramai di media sosial. Hal ini mengingat fenomena antrean sekolah yang tembus hingga 2033 mendatang.
Menjadi salah satu sekolah terbaik di Indonesia, SD Muhammadiyah Sapen, Yogyakarta, terkenal dengan berbagai prestasi baik tingkat nasional maupun internasional. Serta, memiliki kurikulum terintegrasi.
Profil Sekolah
SD Muhammadiyah Sapen berdiri pada 1 Agustus 1967, dengan bangunan yang cukup sederhana. Sejak awal, sekolah ini sudah berusaha mendapat kepercayaan masyarakat.
Namun setelah melewati tahun demi tahun, sekolah ini mulai melakukan inovasi manajemen dan fokus pada prestasi. Bahkan dalam beberapa waktu saja, Sapen berhasil bertransformasi dengan rujukan nasional.
- Nama Resmi: SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta;
- Status: Swasta (Akreditasi A);
- Alamat: Jl. Bimokurdo No. 33, Sapen, Kelurahan Demangan, Kapanewon Gondokusuman, Kota Yogyakarta;
- Slogan: Sapen Juara, Sapen Mendunia;
- Afiliasi: Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Kurikulum dan Fasilitas Unggulan
SD Muhammadiyah Sapen mengkolaborasikan kurikulum umum, dengan nilai-nilai keagamaan secara moderat dan modern. Pelajarannya mencakup integrated learning, yang memadukan penguatan karakter dengan pembelajaran umum.
Kemudian, fokus olimpiade dengan pembinaan prestasi. Terakhir, kelas internasional, dengan menjalin kerjasama bersama mitra sekolah luar negeri.
Dengan jumlah siswa yang menyentuh ribuan orang, dalam mendukung operasionalnya sebagai salah satu sekolah terbaik, fasilitas SD Muhammadiyah Sapen cukup lengkap dan memadai.
Fasilitasnya mencakup laboratorium, pusat robotik, perpustakaan digital, klinik dan area olahraga, hingga Masjid Al-Ittihad.
Budaya Sekolah dan Ekstrakurikuler
Pembentukan karakter menjadi kekuatan utama. Di samping didorong menjadi seorang juara, juga ditanamkan etika islami.
Ekstrakurikulernya berupa Drumband (Gita Bagaskara yang legendaris), Seni Tari, Pencak Silat Tapak Suci, hingga Coding untuk anak.
Fenomena Antrean Panjang
Hingga 2026, jumlah orang tua yang mendaftarkan anaknya masuk ke pondok pesantren tersebut menyentuh angka 5,1 juta.
Saat ini, sebagian besar orang tua di Yogyakarta lebih memilih pondok dan yang lain memilih mengamankan kursi sekolah untuk satu dekade ke depannya. Hal ini menandakan adanya tren “Outsourcing Parenting“.
Ini yang terjadi di SD Muhammadiyah Sapen, pendaftaran siswa baru menggunakan sistem waiting list karena daftar siswanya dikabarkan sudah penuh hingga 2033.
Kondisi ini menandakan, orang tua dengan perekonomian tingkat menengah merasa tidak sanggup melakukan pengasuhan secara mandiri. Selain mencari tempat pendidikan, mereka juga ingin mengalihkan pengasuhannya secara total.
Potret kepanikan orang tua, bisa dilihat dari banyaknya jumlah antrean pendaftaran hingga 9 tahun ke depan. Anak sudah mulai didaftarkan sebelum bisa bicara, bahkan saat masih dalam kandungan.
Ditambah media sosial yang menampilkan banyaknya adegan perundungan, orang tua memilih membayar mahal, dan antre lama demi mendapat lingkungan sosial yang terakurasi, sebagai safe house.
Fenomena antrean panjang di SD Muhammadiyah Sapen, Yogyakarta, menjadi cerminan tinggi harapan orang tua pada masa depan anak. (Inda)



