Tiga SD di Sumbawa Rusak Parah Akibat Puting Beliung, KBM Terapkan Sistem Shift
Sumbawa Besar (NTBSatu) – Cuaca ekstrem berupa angin kencang dan puting beliung yang melanda wilayah Kabupaten Sumbawa pada Jumat, 23 Januari 2026, berdampak serius pada infrastruktur pendidikan di Sumbawa.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Sumbawa melaporkan tiga SD mengalami kerusakan signifikan, terutama pada bagian atap bangunan.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sumbawa, Budi Sastrawan membenarkan kejadian tersebut. Berdasarkan data, ketiga sekolah yang terdampak tersebar di tiga kecamatan berbeda.
”Ada tiga sekolah yang terdampak secara langsung akibat bencana puting beliung. Pertama SDN Kelungkung di Kecamatan Batulanteh, kedua SDN 1 Muer di Kecamatan Plampang, dan ketiga SDN Gontar Baru di Kecamatan Alas Barat,” ungkapnya, Senin, 26 Januari 2026.
Dari ketiga satuan pendidikan tersebut, Budi menyebut kondisi terparah di SDN Kelungkung. Kerusakan pada struktur atap mengakibatkan tiga ruang kelas tidak bisa untuk aktivitas belajar mengajar normal.
”Tingkat kerusakan yang paling parah memang SDN Kelungkung. Itu terdampak sampai tiga ruang kelasnya,” jelasnya.
Menyikapi kondisi darurat ini, pihaknya mengambil langkah taktis untuk menjamin keselamatan siswa dan guru, sekaligus memastikan hak belajar siswa tetap terpenuhi.
Pastikan Alokasi Anggaran Perbaikan
Budi menjelaskan, langkah awal adalah instruksi Belajar Dari Rumah (BDR) apabila kondisi cuaca dan angin masih membahayakan. Namun, jika cuaca sudah kondusif, sekolah diinstruksikan menerapkan sistem pembagian waktu masuk atau shift.
”Jika kondisi cuaca normal, nanti dibuat shift saja. Karena ada tiga kelas yang terdampak di SDN Kelungkung, tidak mungkin semua masuk pagi. Skenarionya, kelas 1 sampai 3 masuk pagi, kemudian kelas 4 sampai 6 masuk siang,” paparnya.
Budi memastikan, telah melapor secara resmi kepada Sekretaris Daerah (Sekda) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sumbawa. Laporan ini bertujuan agar sekolah-sekolah tersebut segera mendapatkan alokasi anggaran perbaikan, baik melalui pos Belanja Tidak Terduga (BTT) atau mekanisme kedaruratan lainnya.
Sementara itu, terkait isu adanya sekolah lain yang terdampak banjir, seperti di wilayah Kecamatan Badas, Budi menyatakan belum menerima laporan resmi dari pihak sekolah maupun UPT setempat.
”Kalau banjir atau sekolah di Badas, saya belum dapat laporan resmi. Jadi belum bisa kami laporkan untuk tindak lanjutnya,” jelasnya. (*)



