72 Jam di Titik Nadir, Kondisi Mental 18 Pekerja Freeport Sebelum Operasi Senyap Dimulai
Mataram (NTBSatu) – Dari Pos Tower 270 di antara pegunungan Papua dan ketinggian 2.500 meter di atas permukaan laut (mdpl), 18 pekerja PT Freeport Indonesia tengah menunggu nasib.
Selama 72 jam, para ahli psikologi forensik menyebut mereka berada di “titik nadir” eksistensi manusia. Merasa terkepung, tidak aman, terancam, terisolasi, di bawah ancaman senjata yang membahayakan nyawa.
Ada belasan nyawa yang menunggu diselamatkan, sebelum evakuasi dengan taktis jitu dilakukan TNI di bawah komando Pangkoops Habema, Mayjen TNI Lucky Avianto.
Selain kisah penyelamatan heroik yang kini viral, rupanya ada pergulatan mental yang tidak banyak disorot. Keberhasilan para pekerja di tengah cuaca ekstrem dan oksigen yang minim, tentunya tidak boleh luput dari perhatian.
Sebelumnya, 18 orang pekerja berada di antara hidup dan mati. Selain bertaruh dengan peluru, mereka juga bertaruh dengan kepastian waktu penyelamatan.
Para pekerja bertahan di suhu malam ekstrem di bawah 10 derajat Celcius, dengan akses komunikasi ke luar yang terputus hingga persediaan logistik yang menipis.
Setiap suara yang terdengar akan menjadi kecemasan bagi mereka yang berlindung di balik kabut tebal Tower 270. Mereka bukan sekedar lapar, tetapi lebih takut dengan waktu yang bisa menjadi saat terakhir mereka di dunia.
Ketakutan semakin memuncak saat posisi mereka berada di area strategis yang menjadi incaran konflik bersenjata. Kondisi ini memunculkan tekanan psikologis yang berlipat ganda bagi para pekerja.
Drone Kargo Jadi Keajaiban di Antara Kepungan
Secercah harapan mulai datang saat pasukan Kopassus mulai mengirim drone kargo area Tower 720. Kali ini, TNI tidak hanya membawa senjata tetapi membawa rasa empati.
Kebutuhan seperti obat-obatan dan pasokan logistik mulai berdatangan. Pasokan ini menjadi harapan hidup baru bagi 18 pekerja yang terjebak di Tower 270.
Kedatangan drone kargo seolah menjadi pesan tersirat dari negara, “Bertahan dulu, negara segera menjemput”. Harapan kecil yang mampu membuat 18 pekerja tidak putus asa dan ceroboh saat menjadi sandera.
Titik balik terjadi saat operasi yang disebut “senyap”, mulai dilakukan. Kopassus tetap melancarkan aksinya dengan presisi tinggi melalui tebing-tebing curam.
Saat pertemuan antara petugas dan para pekerja, keheningan mulai terjadi. Beberapa orang bahkan dikabarkan sempat mengalami syok ringan, saat penyelamatan.
Kehadiran TNI yang melakukan penyelamatan menimbulkan reaksi emosional yang besar. Pertemuan mereka menjadi akhir drama 72 jam perjuangan di ambang hidup dan mati.
Perjuangan Pasca-Trauma Bagi 18 Pekerja
Setelah penyelamatan,18 pekerja PT Freeport Indonesia kini berjuang menyembuhkan luka fisik dan luka Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD). Tenaga medis dari perusahaan dan TNI akan membantu memberikan perawatan intensif.
Dari tragedi Tower 720, terlihat jika proses penyelamatan, harus sejajar dengan aspek humanis. Terbukti dengan keberhasilan menyelamatkan 18 nyawa yang berada di ketinggian 2.500 mdpl. (Inda)



