Hadirkan Diskursus Global dari Bima, GIHEF 2026 Catat Antusiasme Tinggi
Bima (NTBSatu) – Seminar internasional Global Intercultural Higher Education Forum (GIHEF) 2026 berlangsung semarak dan melampaui target partisipasi.
Kegiatan akademik yang digelar secara hybrid ini semula dirancang untuk 400 peserta luring dan 300 partisipan daring.
Namun, dalam pelaksanaannya jumlah peserta membengkak hingga sekitar 500 orang, terdiri atas mahasiswa internasional, dosen dan mahasiswa perguruan tinggi, serta guru dari wilayah Bima dan Dompu.
Antusiasme tersebut mencerminkan tingginya minat terhadap isu internasionalisasi pendidikan tinggi berbasis pemahaman interkultural.
Pada sambutan pembukaannya, Ketua STKIP Taman Siswa Bima, Assoc. Prof. Dr. H. Ibnu Khaldun Sudirman, M.Si., menegaskan, GIHEF 2026 merupakan bagian penting dari rangkaian hari ketiga Global Civilization and Intercultural Immersion Program (GCIIP).
Ia menekankan, internasionalisasi pendidikan tinggi tidak lagi dapat dimaknai sebatas mobilitas mahasiswa atau kerja sama formal antar-institusi, melainkan proses membangun pemahaman, saling menghargai perbedaan, serta memperkuat kolaborasi lintas budaya.
Menurutnya, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam melahirkan lulusan yang unggul secara akademik, peka secara budaya, dan mampu memberikan dampak nyata di tingkat lokal maupun global.
Forum ini menghadirkan diskursus global yang berpijak pada praktik lokal melalui sejumlah keynote speaker internasional dan nasional.
Mr. Abdullah A. Safi dari Australian International Center for Training and Education (Australia) membuka sesi dengan topik “Civilization as a Shared Human Narrative”, yang memandang peradaban sebagai perjalanan kolektif umat manusia yang dibentuk oleh keberagaman budaya dan sistem pengetahuan.
Isu akses dan inklusivitas internasional dibahas oleh Mr. S.K. Shahin Hossain dari Asian Institute of Technology (Thailand) melalui topik “Student Mobility, Virtual Exchange, and Inclusive Participation”.
Ia menekankan, pentingnya pertukaran virtual dan partisipasi inklusif sebagai alternatif mobilitas fisik dalam membangun pengalaman internasional.
Sementara itu, Ida Puspita, S.S., M.A. Res. dari Universitas Ahmad Dahlan mengangkat tema “Intercultural Competence as a Core Graduate Attribute”, yang menegaskan kompetensi interkultural sebagai bekal utama lulusan dalam menghadapi tantangan kewargaan global dan dunia kerja.
Perspektif penguatan kelas lokal dengan wawasan global dipaparkan oleh Mr. Thomas Harding dari Arab Lombok International Friendship (Australia) melalui topik “Internationalization at Home: Bridging Global and Local Classrooms”.
Selanjutnya, Dr. Ravindra Jadhav dari K.J. Somaiya College of Arts, Commerce and Science (India) membahas “Knowledge Exchange Across Civilizations for Sustainable Development”, yang mendorong peserta menerjemahkan pembelajaran lintas budaya ke dalam aksi etis dan pembangunan berkelanjutan.
Paparan ditutup oleh Ika Suciwati, M.TESOL dari STKIP Taman Siswa Bima dengan topik “From Intercultural Learning to Meaningful Local and Global Impact”, yang menekankan pentingnya dampak nyata pembelajaran interkultural bagi komunitas lokal dan global.
Selain sesi utama, GIHEF 2026 juga diramaikan dengan sesi paralel yang berlangsung dinamis di tiga ruang. Di Ruang 1, sejumlah presenter memaparkan topik beragam, mulai dari pengalaman mahasiswa internasional hingga pengembangan media pembelajaran dan riset pendidikan.
Di antaranya Hateem (mahasiswa internasional) dengan topik “Beyond the Border: My Exchange Journey and How You Start Yours“, serta Muliana, M.Pd., guru SMAN 1 Kota Bima, yang mempresentasikan hasil penelitian dua tahunnya berjudul “Development of Project-Based Learning Model with STEM Approach“, yang telah mengantarkannya meraih berbagai penghargaan.
Di Ruang 2, diskusi tak kalah aktif dengan presentasi mahasiswa internasional dan mahasiswa lokal, seperti Abdul Karim dengan topik “From NTB to the World: My Journey as an International Student at Ummat”, hingga kajian tentang pemanfaatan teknologi dan kecerdasan buatan dalam pembelajaran dan pengembangan keterampilan berbahasa.
Sementara di Ruang 3, para presenter membahas inovasi pembelajaran berbasis project-based learning, deep learning, hingga pemanfaatan media digital dan kecerdasan buatan dalam pendidikan dasar dan menengah.
Diskusi di ruang-ruang paralel berlangsung interaktif dengan keterlibatan aktif mahasiswa internasional dan mahasiswa STKIP Taman Siswa Bima.
Proses moderasi bahasa oleh para moderator turut mempermudah pertukaran gagasan, sehingga suasana forum tetap hidup dan akademis.
Melalui sesi ini, mahasiswa memperoleh pengalaman berharga berpartisipasi dalam forum ilmiah berskala internasional, sekaligus menjadi best practice bagi institusi dalam menyelenggarakan forum akademik secara luring, daring, maupun hybrid.
Rangkaian kegiatan GIHEF 2026 juga ditandai dengan penandatanganan perjanjian kerja sama antara Universitas Muhammadiyah Mataram (Ummat) dan sejumlah perguruan tinggi, sebagai langkah strategis memperkuat komitmen internasional dan jejaring kolaborasi pendidikan tinggi.
Melalui GIHEF 2026, STKIP Taman Siswa Bima tampil sebagai pendobrak ruang dialog global pendidikan tinggi interkultural yang tumbuh dari daerah dan berorientasi pada dampak berkelanjutan. (*)



