Bupati Jarot Prioritaskan Program Sumbawa Hijau Lestari 2026: Tak Ada Hari Libur untuk Penyelamatan Hutan
Sumbawa Besar (NTBSatu) – Bupati Sumbawa, Ir. H. Syarafuddin Jarot menegaskan, akan memprioritaskan Program Sumbawa Hijau Lestari pada tahun 2026.
Mengingat kondisi hutan yang semakin kritis, ia menegaskan pemerintah daerah tidak akan berhenti bekerja demi menyelamatkan hutan Sumbawa.
”Untuk 2026, Program Sumbawa Hijau Lestari saya prioritaskan. Kami tidak punya hari libur, tidak ada tanggal merah, tidak ada tanggal kuning, semuanya hitam. Siang dan malam,” tegas Bupati Jarot, Rabu, 31 Desember 2025.
Menurutnya, penyelamatan lingkungan merupakan fondasi vital yang harus berjalan beriringan dengan pembangunan infrastruktur dan ekonomi.
Hal ini karena kondisi hutan Sumbawa mulai gundul dan tergerogoti, yang secara langsung mengancam ketersediaan mata air bagi masyarakat.
”Kita berjuang secara fisik untuk infrastruktur, pertanian, peternakan, hingga hilirisasi. Tapi menghijaukan Sumbawa jauh lebih penting,” ungkapnya.
Komitmen ini bukan sekadar retorika. Bupati Jarot menceritakan, bagaimana ia bersama tim gabungan TNI dan Polri merespons cepat laporan masyarakat tentang pembalakan liar (illegal logging). Tim gabungan mengejar oknum pengguna gergaji mesin hingga dini hari di tengah hutan belantara.
”Jam satu malam ada laporan, kita turun sampai jam empat subuh di tengah hutan belantara mengejar orang yang babat hutan. Ini komitmen kita, tidak boleh lagi ada pembabatan,” jelasnya.
Sentil Pejabat Pemkab Sumbawa
Di sisi lain, Bupati Jarot juga menuntut keseriusan para pejabat OPD dan ASN dalam implementasi program penghijauan.
Ia menyentil, perilaku aparat yang masih terjebak dalam gaya kerja seremonial dan lebih sibuk berswafoto (selfie) daripada memastikan bibit pohon tertanam dengan baik.
“Saya mencatat ada beberapa kepala OPD dan ASN yang datang ikut menanam tapi banyak selfie–selfie. Bibitnya sampai rusak belum ditanam karena diajak selfie kiri-kanan. Tolong ini jangan banyak selfie, kalau menanam ya menanam,” tegas Bupati Jarot.
Ia juga mencontohkan pengalamannya menanam pohon di wilayah Lantung. Meski diguyur hujan deras hingga basah kuyup, ia tetap menanam lebih dari 50 pohon, sementara sebagian jajaran memilih berteduh di bawah tenda atau rumah warga.
“Menanam pohon membawa pesan moral, ekologis, dan kepemimpinan. Kita mungkin tidak menikmati hasilnya sekarang, tapi anak cucu kita akan memetik manfaatnya. Ini amal jariyah kita di dunia dan akhirat,” jelasnya.
Bupati Jarot menegaskan, gerakan menanam pohon adalah investasi jangka panjang untuk generasi mendatang, bukan sekadar ajang pencitraan. Dengan barisan yang kuat dan kerja yang terstruktur, ia yakin Sumbawa bisa mengejar ketertinggalan di berbagai sektor.
“Sumbawa perlu kecepatan tinggi untuk mengejar ketertinggalan. Kita ingin semua bergerak cepat, dan insyaAllah jika barisan kita kuat dan terarah, kita bisa membawa Sumbawa lari ke depan,” tutupnya. (*)



