Wamen Giring Sindir Kemenpora Terkait Sertifikasi Pelatih dan Wasit Perssoci Fornas VIII

Mataram (NTBSatu) – Persatuan Street Soccer (Perssoci), melaksanakan pelatihan untuk pelatih dan wasit di tengah-tengah pelaksanaan Festival Olahraga Masyarakat Nasional (Fornas) VIII NTB 2025.
Wakil Kementerian (Wamen) Kebudayaan, Giring Ganesha meninjau kegiatan pelatihan pelatih dan wasit Perssoci ini. Ia menekankan, sertifikasi adalah bentuk nyata dalam pelaksanaan pelatihan.
“Untuk melakukan kegiatan-kegiatan seperti ini, harusnya ada sertifikasi,” ucap Wamen Giring, Senin 28 Juli 2025.
Sebab, ia membandingankan dengan Kementerian Kebudayaan, terdapat sertifikasi untuk berbagai pelatihan. Namun saat meninjau pelatihan pelatih dan wasit Perssoci, Giring merasa kaget karena tidak ada sertifikasi untuk peserta.
“Kebetulan, untuk Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, kita ada sertifikasi untuk pelaku budaya. Tapi kalau sertifikasi pelatih dan wasit kayaknya Kemenpora ya,” katanya.
Lebih lanjut, Giring menyampaikan, bentuk komitmen pemerintah di era Presiden Prabowo Subianto untuk hadir lebih cepat dan aktif d itengah masyarakat.
“Kementerian Kebudayaan itu hanya alat, jadi peralatlah kami semaksimal mungkin demi kepentingan. Begitu juga Kemenpora, peralatlah demi kepentingan. Itu tujuannya, karena memang kekompakan selalu dijaga pada Kabinet Merah Putih ini,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Perssoci, Lalu Wira Kencana menjelaskan, street soccer hadir sebagai salah satu Induk Olahraga Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (Inorga KORMI). Tidak hanya aktif dalam kompetisi, tapi juga pengembangan kapasitas sumber daya manusia.
“Dalam rangka Fornas VIII di NTB, kami punya dua rangkaian. Pertama kita laksanakan pelatihan untuk wasit dan pelatih, kedua pelaksanaan pertandingan,” katanya.
Pelatihan ini bertujuan untuk menyamakan persepsi antar pelatih dan wasit mengenai aturan teknis pertandingan.
“Street soccer punya spesifikasi teknis pertandingan tersendiri. Misalnya, ada pemanfaatan dinding sebagai pantulan bola, lama membawa bola, dan lain-lain. Jika tidak dipahami dengan benar, bisa timbul komplain saat pertandingan. Itulah mengapa pelatihan ini penting,” jelas Lalu. (*)