Lombok Barat

Dari Sampah Jadi Cuan: TPST RDF Kebon Kongok Sumbang Rp2 Miliar PAD, Lampaui Target

Lombok Barat (NTBSatu) – Siapa sangka, gunungan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kebon Kongok justru menjadi sumber pendapatan daerah. Melalui pengolahan berbasis teknologi di fasilitas Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Refuse Derived Fuel (RDF), TPA Kebon Kongok berhasil menyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) hingga sekitar Rp2 miliar per tahun. 

Kasi Pengolahan dan Pemrosesan Akhir TPA Kebon Kongok, Mulyadi Gunawan mengatakan bahwa TPA mampu menghasilkan PAD sampai setinggi itu. Angka ini bahkan melampaui target yang ditetapkan sebelumnya sebesar Rp1,8 miliar.

“Tahun kemarin target kita Rp1,8 miliar, realisasinya bisa sampai sekitar Rp2 miliar lebih,” ungkap  Mulyadi kepada NTBSatu, Senin, 20 April 2026. 

Menurutnya, capaian tersebut berasal dari tiga produk utama hasil pengolahan sampah, yakni bahan bakar alternatif SRF, produk daur ulang bernilai ekonomi, serta kompos dari limbah organik.

Produk SRF (Solid Recovered Fuel) menjadi salah satu andalan. Bahan ini dihasilkan dari limbah seperti daun, ranting, dan sapuan jalan yang dicacah menggunakan mesin khusus.

Selanjutnya, SRF dikirim ke PLN untuk dimanfaatkan sebagai campuran batu bara dalam pembangkit listrik.

“Jadi tidak ada yang terbuang. SRF ini jadi bahan bakar biomassa, dicampur dengan batu bara,” jelasnya.

TPST Kebon Kongok

Selain itu, TPST Kebon Kongok juga mengolah sampah anorganik seperti plastik kresek, botol, kardus, hingga logam yang memiliki nilai jual. Barang-barang tersebut dikumpulkan dan dipilah oleh sekitar 118 tenaga harian sebelum dijual kembali ke pengepul.

Menariknya, TPA Kebon Kongok menjadi salah satu dari sedikit pengumpul plastik kresek di Pulau Lombok. Bahkan, TPST dari seperti Gili Trawangan dan Lingsar turut menyuplai sampah plastik ke lokasi ini.

“Masalah kresek ini kan biasanya tidak ada yang ambil. Jadi kita bantu kumpulkan di sini,” ujarnya.

Sementara itu, limbah organik seperti sisa makanan diolah menjadi kompos melalui proses pemilahan dan pengolahan menggunakan mesin. Produk kompos ini kemudian dikemas dan dijual ke masyarakat.

Tak hanya tiga produk tersebut, kontribusi PAD juga diperkuat dari pengolahan limbah medis melalui insinerator di Pusat Pengelolaan Sampah Terpadu (PPST) Regional Lemer, Sekotong, Lombok Barat. 

“Ada satu tambahan lagi untuk penghasil PAD kita yakni mesin insinerator di PPST Lemer, itu khusus limbah medis,” jelasnya. 

Meski menghasilkan pendapatan miliaran rupiah, operasional fasilitas ini juga membutuhkan biaya besar. Mulyadi mengungkapkan, tagihan listrik saja bisa mencapai Rp60 juta per bulan, belum termasuk biaya perawatan alat dan gaji tenaga kerja. Sehingga, PAD 2 Miliar itu sebenarnya tidak terlalu berdampak terhadap operasional TPA sendiri. 

“Untuk gaji tenaga harian saja setahun bisa lebih dari Rp1 miliar. Belum lagi listrik dan maintenance,” katanya.

Namun demikian, ia menilai keberadaan TPST RDF ini tetap memberikan nilai tambah signifikan, tidak hanya dari sisi lingkungan tetapi juga ekonomi.

“Setidaknya sampah tidak lagi jadi beban, tapi punya nilai. Bahkan bisa berkontribusi ke PAD,” tegasnya.

Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa pengelolaan sampah yang tepat tidak hanya menyelesaikan persoalan lingkungan, tetapi juga mampu menjadi sumber pendapatan baru bagi daerah. (Zani)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button