Prabowo Bakal ke Teheran dengan Pemimpin Pakistan Redam Konflik Timur Tengah
Jakarta (NTBSatu) – Presiden Indonesia, Prabowo Subianto disebut berencana melakukan perjalanan ke Teheran, Iran bersama pemimpin Pakistan. Hal tersebut untuk membantu menurunkan eskalasi konflik yang tengah memanas di kawasan Timur Tengah.
Hal tersebut Jimly Asshiddiqie ungkapkan usai menghadiri pertemuan antara Presiden Prabowo dan sejumlah ulama di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis malam, 5 Maret 2026.
Menurut Jimly, Prabowo menerima panggilan telepon dari pimpinan Pakistan yang mengajaknya untuk bersama-sama mengunjungi Teheran dalam rangka mencegah konflik di kawasan itu semakin meluas.
“Presiden Pakistan. Nah mereka akan sama-sama pergi ke Teheran,” kata Jimly mengutip CNNIndonesia, Jumat, 6 Maret 2026.
Namun demikian, Jimly mengaku tidak mengetahui secara pasti apakah panggilan tersebut datang dari Presiden atau Perdana Menteri Pakistan. Ia menjelaskan, rencana perjalanan itu bukan untuk memediasi konflik antara Israel dan Iran.
Menurutnya, langkah tersebut lebih merupakan upaya Indonesia untuk mengambil peran yang lebih besar dalam dinamika geopolitik global sekaligus mendorong penurunan eskalasi konflik.
“Jangan dianggap negatif dulu ya. Dia bukannya mendamaikan orang yang baru dibunuh, bukan begitu. Tetapi untuk menurunkan eskalasi dan mencegah apa serangan lagi dari Israel,” ujar Jimly.
Ia menambahkan, situasi di Iran saat ini tengah bergejolak setelah pemimpin tertingginya, Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan. Karena itu, menurut Jimly, pendekatannya bukan dalam konteks menawarkan perdamaian secara langsung, melainkan untuk mencegah konflik semakin meluas.
“Ini kan orang presidennya sudah dibunuh, ayatollah-nya sudah dibunuh. Masa ditawarin damai bukan dalam konteks itu, tetapi ini untuk mencegah eskalasi,” katanya.
Iran Negara Sahabat Indonesia
Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris Majelis Syuro Front Persaudaraan Islam, Muhammad Hanif Alatas berharap, Presiden Prabowo menyampaikan belasungkawa secara terbuka atas wafatnya Ayatollah Ali Khamenei.
Hanif mengatakan, pesan tersebut merupakan amanat dari Habib Rizieq Shihab. Ia menilai, penyampaian duka cita melalui surat dan melalui Menteri Luar Negeri saja belum cukup.
“Kita minta Presiden jangan hanya mengutus Menteri Luar Negeri untuk menyampaikan belasungkawa, tetapi kita minta supaya Presiden sampaikan belasungkawa secara terbuka,” kata Hanif di Istana Kepresidenan Jakarta.
Ia juga menegaskan, Iran merupakan negara sahabat Indonesia dan saat ini tengah menghadapi serangan dari Amerika Serikat dan Israel. Karena itu, menurutnya, Iran membutuhkan dukungan dalam mempertahankan kedaulatan negaranya.
“Iran butuh didukung dalam hal membela kedaulatannya. Dia sedang diserang, dia bela kedaulatannya. Sebagaimana kita ingin tidak ada penjajahan di atas muka bumi, saya rasa sikap Iran untuk membela kedaulatannya perlu untuk di-support,” ujarnya. (*)



