Pemerintahan

Program MBG di NTB Serap 31 Ribu Tenaga Kerja

Perkuat Sinergi Lintas Sektor

Deputi Bidang Pemantauan dan Pengawasan Badan Gizi Nasional, Letjen TNI (purn) Dadang Hendrayudha menyampaikan, pihaknya terus memperkuat sinergi lintas sektor dalam pelaksanaan Program MBG agar seluruh penerima bisa merasakan manfaatnya secara merata. Termasuk, anak usia dini hingga pelajar SMA serta kelompok rentan lainnya.

Ia menegaskan, kolaborasi yang terbangun antara Pemerintah Pusat, pemerintah provinsi, hingga kabupaten/kota menjadi kunci keberhasilan pelaksanaan program MBG di lapangan.

“Alhamdulillah, dengan kerja sama yang sangat baik ini, capaian program sampai hari ini sangat signifikan. Kami melakukan brainstorming dengan rekan-rekan di wilayah, agar program MBG benar-benar bisa dirasakan oleh semua penerima manfaat dan memiliki persepsi yang sama,” ujarnya.

Menurutnya, pelaksanaan MBG ditujukan bagi berbagai kelompok penerima manfaat, mulai dari balita, anak usia sekolah dari PAUD hingga SMA, serta kelompok B3. Seluruh pihak diminta memiliki visi yang sama karena program ini sepenuhnya ditujukan untuk kepentingan masyarakat.

Dalam pelaksanaannya, pemerintah juga menerapkan prinsip reward and punishment. Mitra pelaksana yang telah memenuhi standar akan mendapat apresiasi, sementara yang belum memenuhi ketentuan pihaknya beri kesempatan untuk melakukan perbaikan.

“Yang sudah bagus kita pertahankan, yang kurang kita sempurnakan. Mitra yang belum sesuai standar kita beri ruang untuk memperbaiki,” jelasnya.

Perhatian khusus juga kepada wilayah 3T. Meski pembangunan infrastruktur di kawasan tersebut masih berjalan, pemerintah memastikan masyarakat di daerah terpencil tetap menjadi prioritas.

“Di daerah terpencil, jumlah siswa mungkin hanya 100 sampai 300 orang. Namun mereka tetap harus mendapat perhatian, termasuk kelompok B3 dan lansia,” katanya.

Terkait pelaksanaan program MBG selama bulan Ramadan, ia memastikan tidak ada kendala berarti. Penyesuaian menu akan memperhatikan kondisi mayoritas masyarakat setempat.

“Untuk wilayah mayoritas Muslim, menu diberikan dalam bentuk kering untuk dibawa pulang, seperti telur, roti, atau buah, dengan nilai yang sama. Makanan tersebut bisa dikonsumsi saat berbuka puasa. Sementara bagi yang tidak berpuasa, pelayanan tetap berjalan seperti biasa,” tutupnya. (*)

Laman sebelumnya 1 2

Muhammad Yamin

Jurnalis NTBSatu

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button