“Nyelamet Dowong”, Cara Warga Lombok Timur Wujudkan Swasembada Pangan Berbasis Adat
Lombok Timur (NTBSatu) – Masyarakat Kelurahan Denggen, Kecamatan Selong, Kabupaten Lombok Timur, terus menjaga tradisi leluhur “Nyelamet Dowong” sebagai ikhtiar melindungi tanaman padi dari hama sekaligus mendorong terwujudnya swasembada pangan.
Ritual adat ini rutin setiap tahun sebelum masa panen mulai, tepat saat padi berusia sekitar satu bulan. Pada tahun ini berlangsung pada Senin, 2 Februari 2026 kemarin.
Puluhan perempuan Sasak tampak beriringan keluar dari area masjid dengan membawa Tembolaq, baki tradisional berisi hasil bumi, nasi, ketupat lengkap dengan lauk-pauk, serta aneka kue khas Lombok.
Warga kemudian membawa Tembolaq tersebut menuju makam leluhur untuk melaksanakan zikir dan doa, kemudian pengambilan air suci di mata air Merta Sari.
Tokoh adat Kelurahan Denggen, Lalu Selamet menegaskan, upacara “Nyelamet Dowong” menjadi ritual wajib yang tidak pernah masyarakat setempat tinggalkan.
“Kegiatan ini selalu dilaksanakan setiap tahun ketika padi sudah berumur satu bulan,” ujar Lalu Selamet.
Ia menjelaskan, rangkaian “Nyelamet Dowong” berlangsung selama dua hari. Pada hari pertama, warga melakukan pembersihan makam para leluhur. Ritual kemudian berlanjut pada hari berikutnya dengan prosesi pemotongan ayam yang sarat makna filosofis.
“Pemotongan ayam dilakukan di satu tempat dan dibuatkan lubang sebagai simbol agar penyakit tidak menyebar. Darah ayam dialirkan ke daun bambu hingga menempel,” jelasnya.
Menurut Lalu Selamet, daun bambu yang telah terkena darah ayam itu warga manfaatkan sebagai pestisida alami. Tradisi ini telah berlangsung sejak zaman dahulu, jauh sebelum masyarakat mengenal pestisida kimia.
“Daun bambu itu diletakkan di tengah sawah. Hama akan mendekat karena bau amis darah ayam. Setelah hama kenyang, mereka akan mati,” imbuhnya.



