Iran Umumkan Siap Perang Lawan Amerika Serikat
Jakarta (NTBSatu) – Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi memperingatkan Amerika Serikat (AS) agar tidak menguji kekuatan militer Teheran. Ia menegaskan, Iran siap menghadapi kemungkinan perang jika Washington memilih opsi militer dalam merespons situasi yang berkembang.
Dalam wawancara pada Senin, 12 Januari 2026, Araghchi menyatakan, meskipun jalur komunikasi dengan AS masih terbuka, Iran telah menyiapkan seluruh opsi. Menurutnya, kesiapan militer Iran saat ini jauh lebih kuat dibandingkan ketika konflik 12 hari yang terjadi tahun lalu.
“Jika Washington ingin menguji opsi militer yang pernah mereka uji sebelumnya, kami siap untuk itu,” ujar Araghchi, mengutip Al-Jazeera, Rabu, 14 Januari 2026.
Namun demikian, ia menambahkan, Iran tetap berharap AS memilih “opsi bijak” melalui dialog dan diplomasi. Peringatan Iran muncul di tengah meningkatnya ketegangan internal, akibat gelombang protes karena krisis ekonomi dan berkembang menjadi tuntutan perubahan sistemik.
Pertemuan AS dengan Iran
Sebelumnya, Presiden AS, Donald Trump menyatakan Washington tengah mempertimbangkan sejumlah “opsi kuat”. Termasuk kemungkinan aksi militer, sebagai respons atas penanganan keras Pemerintah Iran terhadap demonstrasi.
Meski demikian, Trump juga menyebut, adanya rencana pertemuan dengan Teheran untuk membahas program nuklir Iran. Namun, ia memperingatkan, AS dapat bertindak sebelum pertemuan tersebut berlangsung apabila situasi berubah menjadi mendesak.
Menanggapi hal itu, Araghchi menegaskan, Iran bersedia kembali ke meja perundingan nuklir, jika proses tersebut tanpa ancaman maupun tekanan. “Kami siap duduk di meja perundingan nuklir, asalkan tanpa ancaman atau perintah,” katanya.
Terkait situasi dalam negeri, Pemerintah Iran mengklaim, kekerasan yang terjadi dalam aksi protes akibat “unsur-unsur teroris” yang menyusup ke dalam kerumunan. Teheran juga menuduh AS dan Israel berada di balik upaya memprovokasi kerusuhan.
Media pemerintah melaporkan lebih dari 100 personel keamanan tewas, sementara kelompok oposisi menyebut jumlah korban jauh lebih besar, termasuk ratusan demonstran. Angka-angka tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Arus informasi dari Iran turut terganggu akibat pemadaman internet selama hampir empat hari. Pemerintah menyatakan layanan internet akan dipulihkan secara bertahap dengan koordinasi aparat keamanan
Sementara itu, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan, pasukan AS dan Israel akan menjadi “target sah” jika Washington benar-benar melakukan campur tangan. Di sisi lain, Gedung Putih menilai, Iran menyampaikan pesan yang berbeda secara tertutup dengan pernyataan ke publik. (*)



