Buku Memoar “Broken Strings” Ungkap Kisah Kelam Aurelie Moeremans sebagai Korban Grooming
Mataram (NTBSatu) – Buku Memoar “Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth” karya Aurelie Moeremans menarik perhatian publik, karena memuat kisah kelam yang ia alami sebagai korban grooming atau manipulasi pada masa remaja.
Melalui buku ini, Aurelie membuka pengalaman pribadi yang penuh luka emosional sekaligus menyoroti bahaya manipulasi orang dewasa terhadap anak dan remaja. Selanjutnya, cerita tersebut hadir sebagai pengakuan jujur yang relevan dengan isu perlindungan anak.
Aurelie menulis “Broken Strings” sebagai memoar nonfiksi yang merekam fase hidup paling rapuh. Kemudian, ia memilih gaya bertutur lugas dan terbuka tanpa dramatisasi.
Setiap kisah tersaji apa adanya berdasarkan ingatan pribadinya. Pendekatan tersebut membuat pembaca memahami kenyataan pahit yang pernah ia hadapi secara utuh dan berurutan.
Pada 10 Oktober 2025, Aurelie merilis buku ini secara mandiri tanpa melibatkan penerbit maupun editor profesional. Ia memilih jalur tersebut demi menjaga keaslian cerita.
Aurelie juga memutuskan untuk tidak menjual bukunya. Ia membagikan “Broken Strings” secara gratis agar siapa pun dapat membaca dan memahami kisahnya. Kemudian, buku ini tersedia dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris melalui tautan resmi yang ia sediakan.
Aurelie dalam Lingkaran Manipulasi
Versi Bahasa Indonesia buku ini berjudul “Broken Strings: Kepingan Masa Muda yang Patah”. Isinya terdiri dari 24 bab yang tersusun kronologis, mulai dari masa remaja hingga proses berdamai dengan trauma. Alur tersebut memudahkan pembaca mengikuti perjalanan emosional Aurelie secara runtut.
Fokus utama buku ini mengarah pada pengalaman Aurelie sebagai korban child grooming (manipulasi anak). Saat berusia sekitar 15 tahun, Aurelie berkenalan dengan seorang pria berusia 30-an tahun yang ia samarkan dengan nama Bobby.
Pertemuan awal terjadi pada sebuah lokasi syuting iklan. Pada awal hubungan, Bobby menunjukkan sikap perhatian. Seiring waktu, sikap tersebut berubah menjadi kontrol, manipulasi, dan tekanan emosional.
Hubungan tersebut berkembang menjadi relasi tidak sehat yang menghadirkan kekerasan emosional, psikologis, hingga fisik. Meski sarat luka, “Broken Strings” juga menampilkan perjalanan Aurelie menemukan keberanian untuk bersuara, serta menerima dukungan keluarga dan lingkungan terdekat.
Sejak rilis, buku ini memperoleh respons positif dan menjadi pengingat penting tentang bahaya grooming serta hak korban untuk pulih.
Dalam prolog, Aurelie menegaskan, ia menulis cerita berdasarkan ingatan pribadi tanpa rekayasa. “Tidak semua kisah dimulai dengan ‘pada suatu waktu’. Sebagian kisah dimulai saat tak ada seorang pun yang melihat. Ketika seorang gadis terlalu muda untuk mengerti apa yang sedang terjadi,” tulis Aurelie dalam prolog bukunya. (*)



