ADVERTORIALPendidikan

Marselina Juita, Harmoni Toleransi dan Prestasi di Kampus Kental Visi Keislaman

Bima (NTBSatu) – Mahasiswi STKIP Taman Siswa Bima, Marselina Juita membuktikan perbedaan keyakinan tidak pernah menjadi penghalang untuk berprestasi. Terlebih, di tengah atmosfer kampus dengan visi keislaman yang begitu kental.

Lulusan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) STKIP Taman Siswa Bima ini, berhasil menorehkan capaian gemilang dengan meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) nyaris sempurna, 3,98 dari skala 4,00. Sekaligus menunjukkan makna sejati dari toleransi dan inklusivitas di dunia pendidikan.

Marselina, seorang mahasiswi beragama Katolik, mengaku sejak awal kuliah telah merasakan ruang ekspresi yang lapang di kampus yang mayoritas warganya Muslim.

Ia tidak pernah merasa didiskriminasi, bahkan sebaliknya, merasakan dukungan penuh dari yayasan, dosen, hingga rekan-rekan mahasiswa.

“Bagi saya, STKIP Taman Siswa Bima adalah kampus yang sangat layak disebut toleran. Di sini saya belajar dan tumbuh dengan damai, tanpa sekat keyakinan. Saya diterima sebagai keluarga,” ungkapnya dengan senyum tulus.

IKLAN

Perjalanan Akademik Marselina Juita

Perjalanan akademik Marselina tidaklah instan. Sejak awal, ia menata langkah dengan disiplin dan kesungguhan.

Baginya, kuliah bukan sekadar mengejar angka di transkrip, tetapi juga membentuk karakter dan memberi manfaat bagi banyak orang. Hal itu terbukti saat ia lolos seleksi Program Kampus Mengajar dari Kemendikbudristek, yang mempertemukannya langsung dengan dunia sekolah dan siswa dengan segala dinamikanya.

“Di Kampus Mengajar, saya belajar lebih banyak dari apa yang tertulis di teori. Mengajar langsung, menghadapi karakter siswa yang beragam, itu membentuk rasa tanggung jawab sosial saya sebagai calon guru,” kenangnya.

Dedikasi sosialnya tidak berhenti di situ. Marselina pun mengabdi di Rumah Belajar Binabaru, Kota Bima, sebuah ruang sederhana untuk anak-anak kurang mampu.

Di sana, ia sabar membimbing mereka membaca, menulis, dan berhitung. Senyum kecil anak-anak yang berhasil memahami pelajaran sederhana menjadi energi besar baginya.

IKLAN

“Rumah Belajar adalah pengalaman paling berkesan. Pendidikan adalah hak semua anak, bukan hanya mereka yang punya akses lebih. Saat melihat mereka bahagia belajar, saya merasa itulah arti sejati dari ilmu,” tuturnya penuh haru.

Tentu, jalan yang ditempuhnya tidak selalu mulus. Jauh dari orang tua dan keluarga, kerinduan kampung halaman kerap menghampiri.

Namun, ia menjadikan itu sebagai bahan bakar semangat. Tekadnya kuat menyelesaikan studi dengan baik, bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk masa depan anak-anak yang kelak akan ia ajar.

“IPK tinggi hanyalah bonus. Yang lebih penting adalah bagaimana ilmu itu bisa bermanfaat bagi orang lain,” ujarnya mantap.

Lanjut S2

Kini, setelah meraih predikat lulusan dengan capaian akademik membanggakan, Marselina bertekad melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Sekaligus memperluas kiprahnya di dunia pendidikan.

Ia ingin menjadi pendidik yang menghadirkan perubahan nyata, terutama bagi daerahnya.

“Saya ingin menciptakan ruang belajar yang menyenangkan, inspiratif, dan membebaskan untuk anak-anak. Mereka semua berhak mendapatkan kesempatan yang sama,” tegasnya.

Bagi mahasiswa lain, Marselina menitip pesan penuh makna. Kuliah, katanya, jangan semata-mata dipandang sebagai perlombaan nilai atau sekadar cepat lulus. Yang lebih penting adalah menemukan alasan besar mengapa pendidikan ditempuh, memperluas pengalaman, dan menjadikan ilmu sebagai jalan kebermanfaatan.

“Setiap langkah kecil hari ini akan menjadi fondasi besar di masa depan. Jangan pernah berhenti mencari alasan untuk bermanfaat,” pungkasnya.

Melalui kisah Marselina Juita, STKIP Taman Siswa Bima sekali lagi menunjukkan bahwa toleransi bukan hanya semboyan, melainkan napas kehidupan kampus. Dari harmoni keberagaman lahirlah prestasi, dan dari hati yang tulus tumbuhlah generasi pendidik yang siap membawa cahaya perubahan. (*)

Berita Terkait

Back to top button