Prabowo Emosional Dengar Nama PSI, Kenang Ayah Jadi Ketua Umum Partai Sosialis Indonesia

Jakarta (NTBSatu) – Presiden Prabowo Subianto mengungkap perasaan yang selalu emosional ketika mendengar nama PSI.
“Saya sedikit emosional kalau mendengar kata-kata PSI,” ungkap Prabowo saat sambutan menutup Kongres pertama Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di Solo, Jawa Tengah, Minggu malam, 20 Juli 2025.
Menurut Prabowo, nama PSI selalu identik dengan ayahnya, Soemitro Djojohadikusumo. Ia menyebut, ayahnya dulu merupakan Ketua Umum pertama PSI, merujuk pada Partai Sosialis Indonesia.
“Karena dahulu, ayahanda saya pernah menjadi Ketua PSI yang lama, yaitu Partai Sosialis Indonesia,” kata Prabowo.
Prabowo senang karena kini ada partai yang meneruskan nama tersebut, meski dengan kepanjangan yang berbeda.
“Terima kasih memilih nama PSI. Hurufnya dipilih, tapi solidaritas, Pancasila juga sosial,” ucap Prabowo.
Sebagai informasi, Partai Sosialis Indonesia berdisi pada 1948 oleh Sutan Sjahrir. Namun, 10 tahun kemudian partai itu bubar karena dugaan ketelibatan dalam pemberontakan PRRI/Permesta.
Ayah dari Presiden Prabowo, Sumitro Djojohadikusumo, seorang begawan ekonomi dan menteri pada masa Orde Lama dan Orde Baru, merupakan orang penting Partai Sosialis Indonesia.
Sumitro berjuang bersama-sama dengan tokoh-tokoh pejuang lainnya seperti Sutan Sjahrir, Ketua Umum Partai Sosialis Indonesia dan Perdana Menteri Republik Indonesia 1945-1947.
Dalam berbagai memoar dan biografinya, Sumitro merupakan politikus Partai Sosialis Indonesia yang aktif menyuarakan pentingnya pemerataan pembangunan. Serta, aktif mengkritik kebijakan-kebijakan yang dinilai terlalu “Jawa-sentris”.
Namun, Presiden Soekarno pada 17 Agustus 1960 mengeluarkan surat keputusan yang membubarkan PSI dan Masyumi.
Sumitro, yang saat itu sempat menjadi buronan politik Soekarno, pun sempat berpindah-pindah negara, termasuk memilih menetap di Singapura.
Sumitro baru kembali ke Indonesia pada tahun 1967, yaitu saat Orde Lama tumbang, dan Presiden Ke-2 Soeharto memulai rezim Orde Baru menggantikan Orde Lama pimpinan Soekarno. (*)