OpiniWARGA

Bank NTBs: Sehat, Tapi Rentan?

Oleh: Sambirang Ahmadi – Ketua Komisi III DPRD NTB

Bank NTB Syariah (NTBs) dipastikan masih sehat. Baik-baik saja. Asetnya sudah menembus Rp16,12 triliun. Laba naik. Dividen untuk daerah juga makin tebal. Provinsi NTB, sebagai pemegang saham terbesar, mendapat hampir Rp80 miliar tahun ini. Naik 12 persen dari tahun lalu. Luar biasa. Patut diapresiasi.

Tapi Bank NTBs masih rentan kena siber. Maret lalu, sistem keuangannya disusupi. Peretas tiba-tiba masuk lewat celah digital, langsung bypass sistem. Tanpa izin. Tanpa ketahuan. Akibatnya ratusan miliar melayang. Bukan uang nasabah yang kena, tapi uang bank sendiri. Yang disimpan di kanal BI-Fast dan RTOL.

Beruntung. Masih bisa ditangani. Bank Jatim ikut turun tangan. Tapi harga yang harus dibayar mahal: reputasi, kepercayaan, dan keamanan bank terguncang.

Sebetulnya bukan hanya Bank NTBs yang rentan. Semua bank juga rentan. Insiden kejahatan siber telah menimpa puluhan bank di Indonesia. Pada waktu yang sama. Tak terkecuali Bank Jatim yang menjadi induk KUB Bank NTBs.

IKLAN

Insiden ini adalah peringatan keras. Hati-hati. Jika teknologi deteksi kejahatan siber lemah, bank akan terus dalam bahaya. Risiko reputasi taruhannya. Kepercayaan nasabah itu mahal. Harus dijaga.

Bank NTBs ini menarik. Kinerjanya oke. Raport keuangannya semua di atas standar. Modal cukup (CAR 25,14%). ROA-nya sehat (1,85%). ROE-nya tinggi (12,58%). Kredit macetnya rendah (NPF 1,06%). Bahkan dividen ke daerah terus meningkat selama empat tahun terakhir: 2021: Rp95 miliar, 2022: Rp138 miliar, 2023: Rp158 miliar, 2024: Rp176 miliar.

Tapi kita harus jujur. Karakter seluruh BPD hampir sama. Terlalu nyaman di zona konsumtif. Termasuk Bank NTBs. Lebih dari 89 persen pembiayaannya untuk sektor konsumsi—gaji ASN, cicilan rumah, kendaraan. Sementara sektor produktif? UMKM? Petani? Nelayan? Pariwisata? Hanya dapat secuil kue pembiayaan. Hanya sekitar 10% dari total 11,29 triliyun pembiayaan mengarah ke produktif.

Padahal potensi sektoral NTB sangat bagus. Selain sektor tambang. Pertanian, perikanan, pariwisata, industri halal adalah sektor potensial. Semua butuh dukungan modal. Bank NTBs harus hadir di situ.

Apalagi gubernur NTB saat ini punya triple agenda: kemiskinan ekstrim nol, ketahanan pangan, dan pariwisata mendunia. Pembiayaan bank daerah mestinya sejalan dengan mimpi kepala daerah.

IKLAN

Bank NTBs saat ini sedang menunggu direksi baru. Kandidatnya sudah diajukan ke OJK. Tinggal tunggu ketuk palu.Tentu kita berharap: siapapun yang terpilih, bukan sekadar pengurus bank.

Tapi pemimpin perubahan. Bukan hanya tahu angka untung-rugi, tapi pandai kelola tantangan. Ada nilai baru. Ada budaya baru. Ada prestasi baru yang jauh melampaui pengurus lama.

Akankah arah bisnis Bank NTBs berubah? Dari zona konsumtif ke produktif? Apa yang akan dilakukan pengurus baru? Kita wait and see aja.

Bank NTBs harus segera pulih. Layanannya harus segera normal kembali.

Kita juga berharap Bank Jatim sebagai induk KUB, menjadi “bapak asuh” yang baik.Tidak cuma duduk manis. Tapi aktif membantu menguatkan sistem digital, membina SDM, dan memastikan keamanan teknologi transaksi Bank NTBs.

Bank NTBs wajib punya teknologi sistem peringatan dini yang lebih canggih. Semoga tak ada lagi lubang kejahatan siber yang tak bisa dideteksi.

Akhir kata. Salut pada pengurus lama Bank NTBs atas kerja kerasnya. Bank NTBs tetap tumbuh sehat meski dalam goncangan. Selamat datang pada jajaran pengurus baru. Selamat bekerja!. (*)

Berita Terkait

Back to top button