NTB

Saran Tokoh Lintas Agama dalam Menghadapi Permasalahan Kejiwaan

Mataram (NTB Satu) – Demi melenyapkan stigma negatif terhadap Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), tokoh lintas agama di NTB sepakat menangani permasalahan kejiwaan secara kolektif. Salah satu upayanya adalah keterbukaan dan penerimaan pihak keluarga para ODGJ.

Ketua Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) NTB, I Wayan Sianto mengatakan, masalah kesehatan mental telah merebak luas. Terlebih, manakala bencana pandemi Covid-19. Banyak masyarakat yang mengalami depresi akibat kehilangan pekerjaan, keluarga, dan lain-lain.

IKLAN

“Pemimpin agama harus mendampingi dan membina umat yang mengalami depresi agar tidak berencana untuk bunuh diri,” ujar I Wayan Sianto dihubungi NTB Satu, Selasa, 21 Juni 2022.

Seruan untuk umat yang menderita depresi agar senantiasa bertahan dan segera melepaskan diri cengkraman depresi harus terus ditingkatkan. Sianto percaya, bila penderita depresi terus mendapatkan pendampingan, maka mereka akan meraih capaian spiritualitas yang tinggi.

“Kami sebagai umat Buddha, merasa perlu adanya keterbukaan dalam lingkup keluarga untuk mengurangi beban penderita masalah kejiwaan. Sebab, umat yang tertimpa masalah kejiwaan pasti berat menjalani hidupnya,” terang Sianto.

Cara lain yang dinilai efektif adalah mengubah stigma masyarakat tentang rumah ibadah. Dari sebelumnya hanya dijadikan tempat melaksanakan ibadah, diperkaya dengan menjadikan rumah ibadah sebagai bengkel kejiwaan.

“Menurut saya, tokoh agama tidak bisa bertindak sendiri. Harus bekerja sama dengan berbagai stakeholder untuk membantu seluruh ODGJ,” tutur Sianto.

Apabila tidak terjadi sinergi antar tokoh agama, pemerintah, dan pihak terkait lainnya, maka tidak akan membuahkan hasil.

Sementara itu, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) NTB, Ida Made Santi Adnya mengatakan, gejala permasalahan kejiwaan tengah menjadi isu global. Bahkan, upaya bunuh diri dari penderita depresi sudah mencapai taraf yang mengkhawatirkan.

“Oleh karena itu, permasalahan gangguan kejiwaan mesti ditarik menjadi masalah besar,” ujar Made, dihubungi NTB Satu, Selasa, 21 Juni 2022.

Apabila permasalahan gangguan kejiwaan tidak segera ditangani, hal tersebut dinilai akan berdampak makin luas. Atas dasar itu, diperlukan kampanye dari seluruh tokoh lintas agama mengenai perangkulan penderita depresi.

“Pasalnya, bila terus dibiarkan, hal tersebut dapat mengakibatkan kerugian yang besar bagi umat,” papar Made.

Dalam ajaran Hindu, antara manusia dan kemanusiaan, terdapat unsur fisik, mental, dan spiritual. Kemudian, penderita depresi dipastikan harus mendapatkan tempat aman, baik secara fisik dan spiritual.

“Sekarang, sudah banyak tokoh agama yang turun secara langsung dan berkonsentrasi penuh untuk merangkul para penderita depresi,” ungkap Made.

Senada dengan Sianto, Made menyampaikan, masalah kesehatan mental harus segera mendapatkan penanganan khusus. Kemudian metode penanganan tersebut harus disebarluaskan dan disosialisasikan, agar para penderita depresi tidak merasa sendiri. (GSR)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button