Lombok-timur

Terpilih Aklamasi Pimpin NWDI, TGB Sampaikan 3 Pesan Perjuangan

Lombok Timur (NTB Satu) – Muktamar perdana Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) di Pancor Lombok Timur berakhir Ahad 30 Januari 2022.

Tuan Guru Bajang (TGB) KH Muhammad Zainul Majdi terpilih secara aklamasi menjadi Ketua Umum Pengurus Besar NWDI masa bakti 2022-2027.

Terpilihnya TGB ini tertuang dalam putusan sidang pleno VI Muktamar Perdana NWDI di Pancor, Kecamatan Selong, Lombok Timur.

Dr. H. Rosiady Sayuti selaku pimpinan sidang membacakan putusan pemilihan Ketua Umum PB NWDI di depan muktamirin/muktamirat yang secara serentak mengumandangkan takbir menandai kegembiraan para peserta.

Dalam sambutannya, TGB. DR. KH. M. Zainul Majdi, MA menyampaikan jabatan Ketua Umum PB NWDI ini adalah amanah yang mesti dia ikhtiarkan dengan baik dan maksimal.

“Ini amanah yang baik, kita akan jalankan rekomendasi muktamar, yang jadi amanat untuk bersama-sama kami tunaikan,” kata Mantan Gubernur NTB dua periode tersebut, dikutip dari nwdionline.com.

Dikatakannya, muara dari kegiatan Muktamar tersebut adalah berkhidmat untuk umat membangun Indonesia maju. Selain itu, dengan muktamar meneguhkan jati diri bahwa NWDI adalah gerakan keislaman kebangsaan.

“Baik itu isu-isu sosial, isu politik, isu ekonomi, termasuk isu keadilan, dan semuanya diteropong oleh NWDI itu dalam perspektif ahlussunnah waljamaah,” tegasnya.

Tiga Pesan Perjuangan

Ia memaparkan tiga prinsip dasar perjuangan NWDI ke depannya.

“Pertama tasamuh, toleransi termasuk dalam konteks perbedaan pandangan di dalam membangun republik ini. Dalam makna yang lugas adalah perbedaan pandangan itu sesuatu yang sah, tidak boleh dipermasalahkan, tentu sepanjang sesuai dengan koridor hukum dan etika yang ada,” paparnya.

Kemudian kedua, kata TGB, adalah tawassul atau proporsionalitas.

“NWDI memandang salah satu yang menjadi pangkal seringnya terjadinya kekisruhan di ruang publik adalah ketika kita tidak bisa memotret suatu masalah secara proporsional,” ujarnya.

Karena terkadang masalah yang sebenarnya adalah kontestasi politik itu ditarik menjadi masalah akidah.

Lebih lanjut menurut TGB, kadang masalah yang sebenarnya muaranya adalah keadilan substansial tetapi kemudian ditarik hanya menjadi demokrasi prosedural.

“Jadi kadang-kadang kalau kita tidak proporsional, salah menempatkan masalah di ruang yang keliru, itu kita akhirnya tidak mampu menangani dengan baik,” jelasnya.

Menurutnya, hal-hal tersebut yang menjadi sumber kekisruhan terus menerus di ruang publik.

“Karena itu kami mendorong semua, termasuk di NWDI sendiri untuk terus meneguhkan cara pandang proporsional, berimbang,” tegas TGB.

Ketiga, adalah tahaddur. Artinya gerak NWDI ini berorientasi ke masa depan.

“Karena itu kami di NWDI sebagaimana disampaikan Bapak Presiden Joko Widodo juga bonus demografi kita hampir mencapai puncak, pastikan itu bisa menjadi keunggulan, bukan bencana,” paparnya.

“Karena itu semua sumber daya kita di Indonesia ini harus bergerak bersama, dan berorientasi masa depan,” tandasnya.

Mengakhiri sambutannya, TGB mengajak kepada muktamirin dan nahdliyyin/nahdliyyat agar tidak terkungkung dengan apa yang sudah terjadi, termasuk didalamnya dikotomi – dikotomi antar orang lama orang baru, pandangan lama pandangan baru.

“Saya pikir semua pandangan itu bermanfaat, semua periode dan masa pemerintahan itu juga sudah berkontribusi untuk Indonesia. Tugas kita adalah mengambil yang terbaik,” jelas TGB mengakhiri sambutannya. (HAK).

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button