Pendidikan

Saat Cendekiawan Dunia Bertemu di Mataram, Menagih Konektivitas untuk Destinasi MICE Global

Mataram (NTBSatu) – Puluhan ilmuwan, peneliti, dan praktisi kebijakan dari berbagai belahan dunia berkumpul di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), sejak Rabu, 21 Oktober 2026. Mereka hadir untuk mengikuti perhelatan internasional Lombok World Forum (LWF) 2026 yang diselenggarakan pada 21–24 Oktober 2026 di Prime Plaza Hotel & Convention serta kampus STIKES Mataram.

Forum ini tidak hanya menjadi panggung pemikiran lintas disiplin, tetapi juga memotret secara riil tantangan infrastruktur konektivitas yang dihadapi Indonesia dalam mendorong Lombok sebagai pusat kegiatan MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) dunia.

LWF 2026 dirancang sebagai wadah kolaborasi berskala internasional untuk merumuskan rekomendasi kebijakan atas berbagai isu kritis. Ketua Penyelenggara sekaligus Ketua STIKES Mataram, Prof. Dr. Chairun Nasirin, M.Pd., MARS., menegaskan bahwa antusiasme pendaftar (Call for Papers) sudah terlihat tinggi sejak ditutup pada 30 Juli 2026 lalu.

“Lombok World Forum hadir untuk menjembatani dialog antar-sektor dan antar-disiplin ilmu. Kami berharap hasil gagasan dan riset yang dipresentasikan mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembuat kebijakan dan masyarakat luas,” papar Prof. Chairun.

Selama forum berlangsung, pembahasan difokuskan pada enam subtema strategis. Yaitu Politik dan Tata Kelola Pemerintahan, Budaya dan Masyarakat, Komunikasi dan Media, Tata Kelola Kesehatan, Kebijakan Publik dan Pembangunan serta Keberlanjutan dan Tantangan Global.

Meskipun agenda forum berjalan solid, persoalan aksesibilitas udara menjadi sorotan utama para peserta mancanegara. Belum tersedianya rute penerbangan langsung (direct flight) dari berbagai kota besar dunia menuju Lombok memaksa para akademisi menempuh rute transit yang berliku.

Pakar dari Kyoto University, Jepang, Prof. Ofer Feldman, Ph.D., menceritakan pengalamannya dan sejawat akademisi lain dari Osaka hingga Toronto, Kanada. Seluruh penerbangan internasional harus berhenti di Bali, dan kendala berlanjut saat tiket penerbangan sambungan Bali–Lombok habis terjual.

“Penerbangan dari Osaka maupun Toronto menuju Lombok tidak ada, semua hanya sampai Bali. Bahkan tiket pesawat Bali–Lombok pun kosong, jadi banyak peserta terpaksa menyeberang naik kapal (fast boat) dari Bali ke Lombok agar tidak terlambat,” puji Prof. Feldman seraya memberikan masukan agar rute dan konektivitas penerbangan ke Lombok segera diperbanyak.

Kendati diwarnai keterbatasan transportasi, Prof. Feldman tetap memuji keindahan alam, keramahan warga, dan kekayaan budaya Lombok yang terbukti sukses menyatukan para peneliti dunia dalam satu ruang diskusi.

Kehadiran delegasi terkemuka, seperti Prof. Shunichiro Okamura, Prof. Shunsuke Shirakawa, dan Prof. Ken Kinoshita (Jepang), Prof. Syaza Shukri (Malaysia), Prof. Hongna Miao dan Jiahui Zeng (Tiongkok), Neil Wegenschimmel, Ph.D. dan Alexandra Calzavara (Kanada), Dr. Katarzyna Kaszynska dan Dorota Brzozowska (Polandia), serta Dr. Arif Abdullah Sagran (Timor-Leste), menjadi bukti kuat potensi besar Lombok sebagai hub diskusi akademis tingkat dunia.

Peristiwa ini menjadi masukan berharga bagi pembuat kebijakan perhubungan dan pariwisata nasional, untuk menjadikan Lombok sebagai pusat gelaran internasional yang berkelanjutan, penguatan rute penerbangan langsung internasional adalah syarat mutlak yang tidak bisa ditunda lagi. (*)

Artikel Terkait