Lombok TimurPariwisata

Tabebuya Mekar Serentak, Desa Kembang Kuning Ramai Dikunjungi Wisatawan

Lombok Timur (NTBSatu) – Deretan bunga tabebuya berwarna kuning menghiasi jalan Desa Kembang Kuning, Kecamatan Sikur, Kabupaten Lombok Timur. Mekarnya bunga secara serentak menghadirkan pemandangan yang menarik perhatian warga dan wisatawan untuk datang berkunjung.

Di sepanjang jalan desa, bunga-bunga kuning tumbuh di antara permukiman dan hamparan persawahan. Dari sejumlah titik, pengunjung juga dapat menikmati pemandangan Gunung Rinjani yang menambah daya tarik kawasan tersebut.

Mekarnya tabebuya tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Jika biasanya hanya dua hingga tiga pohon yang berbunga secara bersamaan, kini hampir seluruh pohon di sejumlah titik mengeluarkan bunga pada waktu yang sama.

Mantan Kepala Desa Kembang Kuning, Lalu Sujian, mengatakan kondisi cuaca panas selama musim kemarau memengaruhi mekarnya bunga tabebuya. Fenomena tersebut juga membuat pemandangan di sepanjang jalan desa terlihat lebih menarik.

“Kalau cuaca panas begini, bunganya bagus. Tahun-tahun sebelumnya hanya dua sampai tiga pohon yang berbunga,” kata Sujian, Minggu, 11 Oktober 2026.

Di balik pemandangan yang kini menarik perhatian pengunjung, terdapat cerita tentang upaya Sujian mempercantik lingkungan desa.

Sekitar 2019, ia bersama adiknya, Lalu Ahmad Yani, menanam sekitar 70 bibit yang mereka peroleh dari seorang warga asal Mataram bernama Antoni.

Mereka menanam bibit tersebut di sepanjang jalan, termasuk di kawasan dekat jembatan. Sujian ingin menciptakan lingkungan desa yang asri sekaligus memperkuat daya tarik Kembang Kuning sebagai desa wisata.

“Ya, karena kita desa wisata kan harus asri. Karena juga desa ini kan juara satu nasional. 2019, desa wisata,” katanya.

Tersisa 30 Pohon

Namun, tidak semua bibit bertahan hidup. Sujian memperkirakan hanya sekitar 30 pohon yang tumbuh hingga sekarang. Sebagian tanaman yang dahulu menghiasi jalan juga hilang karena ditebang atau diambil orang.

Meski begitu, pohon-pohon yang bertahan kini tumbuh besar dan mulai menarik perhatian wisatawan ketika memasuki masa berbunga. Sujian menyebut, tabebuya dapat berbunga selama sekitar dua bulan, bergantung pada kondisi cuaca.

Ia juga aktif mempromosikan pemandangan tersebut melalui media sosial dan membagikan foto kepada teman-temannya. Upaya itu ikut memperkenalkan keindahan tabebuya Kembang Kuning kepada lebih banyak orang.

 “Awalnya itu sepi, tapi saya yang upload-upload. Saya upload, saya kirim-kirim ke teman-teman. Jadi rame,” katanya.

Keindahan bunga tersebut, turut menarik pengunjung untuk datang ke Kembang Kuning. Mereka menikmati pemandangan bunga kuning di sepanjang jalan sekaligus mengabadikannya melalui foto dan video.

Sujian mengatakan, kawasan tersebut ramai dikunjungi, termasuk pada siang hari. Jumlah pengunjung biasanya semakin ramai pada sore hari ketika wisatawan datang untuk menikmati suasana desa dan panorama alam di sekitarnya.

“Sekarang tidak pernah sepi, dari pagi sampai sore ramai. Apalagi sore penuh sudah jalan itu,” katanya.

Ramainya pengunjung turut membuka peluang usaha bagi warga. Sujian mengatakan, sejumlah masyarakat mulai berjualan di sekitar lokasi untuk memanfaatkan kunjungan wisatawan.

Bagi Kembang Kuning, tabebuya bukan sekadar tanaman penghias jalan. Bunga tersebut kini menjadi salah satu daya tarik tambahan bagi desa wisata yang selama ini mengandalkan panorama persawahan, alam, dan budaya masyarakat.

Pemandangan yang dahulu tumbuh dari puluhan bibit itu kini menghadirkan warna berbeda di jalan desa. Saat bunga bermekaran serentak. (*)

Artikel Terkait