HukrimLombok Timur

Sosok DSZ, Kakak yang Mengorbankan Diri demi Adik-adiknya

Lombok Timur (NTBSatu) – Di mata keluarga, DSZ bukan sekadar kakak tertua. Ia menjadi sosok yang mengambil peran besar dalam kehidupan adik-adiknya setelah ayah mereka meninggal dunia. Kepedulian itu terus melekat hingga ia dewasa, bahkan ketika harus mengesampingkan kepentingan pribadinya.

Daeng Muhammad Husen, adik ketiga DSZ, mengenang kakaknya sebagai sosok yang berjasa bagi keluarga. Sejak ayah mereka meninggal, DSZ mengambil peran penting dalam mengurus kebutuhan adik-adiknya, mulai dari pendidikan hingga berbagai urusan keluarga.

“Jasanya Almarhumah di kami, adik-adiknya itu sangat banyak. Banyak jasanya. Dia sosok yang sangat berjasa menggantikan posisi bapak, walaupun perempuan,” ujar Husen mengenang sosok kakak sulungnya, Selasa sore, 27 Oktober 2026.

Husen mengingat bagaimana kakaknya selalu sigap ketika adik-adiknya membutuhkan bantuan. Saat ia hendak masuk kuliah atau ketika adik lainnya melanjutkan sekolah, DSZ yang sibuk mengurus berbagai keperluan.

Kepedulian DSZ juga tidak terbatas pada keluarga. Ia dikenal ramah dan ringan tangan membantu warga sekitar. Bagi Husen, banyak masyarakat yang mengenal kakaknya karena sifatnya yang mudah membantu siapa saja.

Di antara lima bersaudara, DSZ menjadi anak tertua sekaligus orang yang paling akhir menikah. Adik-adiknya lebih dahulu membangun rumah tangga dan memiliki anak sebelum DSZ menikah pada 2014.

“Di antara kami bersaudara ini, dia paling besar, tapi paling terakhir menikah. Adik-adiknya semua sudah punya anak pada saat dia menikah,” kata Husen.

Husen menilai, keputusan itu mencerminkan besarnya tanggung jawab DSZ terhadap keluarga. Meski tidak pernah secara terbuka mengungkapkan alasan di balik keputusannya, keluarga melihat bagaimana ia selalu mendahulukan kepentingan adik-adiknya.

Namun, di balik sosok yang dikenal kuat dan peduli itu, keluarga mengaku tidak banyak mengetahui persoalan yang mungkin ia hadapi dalam rumah tangganya.

DSZ Sosok yang Tertutup

Husen mengatakan, DSZ tidak pernah bercerita kepadanya mengenai masalah rumah tangga. Ia menduga kakaknya lebih memilih menyimpan persoalan pribadi daripada menceritakannya kepada saudara laki-lakinya.

“Kami sedang mencoba menggali informasi dari orang-orang terdekat. Tidak semua orang bisa curhat kepada saudaranya, apalagi laki-laki. Biasanya mungkin kepada teman perempuan,” ujarnya.

Hal serupa disampaikan Lalu Hapiz, perwakilan keluarga korban. Ia mengenang DSZ sebagai perempuan yang sabar dan selalu menjaga hubungan baik dengan orang-orang di sekitarnya, termasuk keluarga suaminya.

Menurutnya, DSZ menunjukkan perhatian besar kepada keluarga suaminya, meski harus mengurus berbagai kebutuhan mereka.

“Mertuanya dua-duanya sakit, laki perempuan. Dia rawat, luar biasa. Saking sayangnya sama mertuanya,” ujarnya.

Ia juga mengaku beberapa kali melihat kondisi fisik DSZ yang mencurigakan. Ketika menanyakan penyebab pembengkakan pada tubuhnya, DSZ hanya menjawab bahwa dirinya terjatuh.

“Kalau saya tanya bengkak itu kenapa, dia bilang jatuh. Masa jatuh setiap minggu? Itu luar biasa, karakternya luar biasa,” kata Hapiz.

Keluarga menduga DSZ memilih menutupi persoalan yang dialaminya. Hingga kini, mereka masih berupaya menggali informasi dari orang-orang yang dekat dengan korban untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi sebelum peristiwa tersebut.

DSZ meninggal dunia pada Jumat, 23 Oktober 2026. Ia diduga menjadi korban pembacokan oleh suaminya, NW, yang merupakan anggota TNI Angkatan Laut.

Komandan Pangkalan TNI Angkatan Laut (Danlanal) Mataram, Letkol Laut (P) Eko Darmawan sebelumnya menyebut cekcok antara keduanya sebagai pemicu peristiwa tersebut.

Bagi keluarga, kepergian DSZ bukan hanya meninggalkan duka, tetapi juga kehilangan sosok yang selama ini menjadi tumpuan.

Perempuan yang mereka kenal selalu hadir untuk orang lain itu kini meninggalkan pertanyaan tentang persoalan yang mungkin selama ini ia tanggung sendiri. (*)

Artikel Terkait