Kemarau Panjang Dongkrak Produksi Garam di Pemongkong Lombok Timur
Lombok Timur (NTBSatu) – Kemarau panjang membawa berkah bagi produsen garam di Desa Pemongkong, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur. Cuaca yang lebih terik membuat mereka bisa menghasilkan garam lebih banyak dibandingkan tahun sebelumnya.
Namun, peningkatan produksi belum tentu berbanding lurus dengan pendapatan. Petani masih menghadapi ketidakpastian harga jual dan harus menyesuaikan penghasilan dengan kebutuhan keluarga.
Samidah, salah seorang produsen garam halus di Desa Pemongkong, merasakan langsung perubahan tersebut. Perempuan yang telah menggeluti usaha pembuatan garam selama sekitar 60 tahun itu, kini bisa memproduksi garam setiap hari dengan rata-rata mencapai 18 sak.
Kondisi ini berbeda jauh dibandingkan tahun lalu. Hujan yang kerap turun membuat Samidah lebih sering berhenti berproduksi. Bahkan, untuk menghasilkan 18 sak garam, ia belum tentu bisa mencapainya dalam waktu satu minggu.
“Kalau sekarang benar-benar kemarau. Tahun lalu hujan terus. Jadi, tahun ini garamnya lebih banyak karena cuacanya mendukung. Kalau kemarin sering hujan, hasilnya lebih sedikit,” ujar Samidah, Minggu, 18 Oktober 2026.
Bagi Samidah, cuaca menjadi faktor penting dalam menentukan banyak sedikitnya garam yang bisa dihasilkan. Hujan dapat menghambat proses pembentukan kristal garam, terutama ketika air laut yang mereka olah belum mencapai tahap akhir.
Ia menjelaskan, proses pembuatan garam halus membutuhkan beberapa tahapan. Petani terlebih dahulu memasak air laut hingga jernih, kemudian melanjutkan pemanasan sampai air mengental dan membentuk kristal garam.
“Air laut ini dimasak dulu. Setelah jernih dan bersih, baru kita naikkan ke tempat berikutnya. Setelah itu dimasak lagi sampai airnya mengental dan akhirnya menjadi garam halus seperti ini,” jelasnya.
Proses tersebut membutuhkan panas yang stabil. Ketika hujan turun, air yang mereka olah dapat kembali mencair sehingga petani harus menunggu kondisi cuaca membaik untuk melanjutkan produksi.
“Kalau kena hujan, otomatis lebur lagi. Tidak bisa naik, tidak bisa jadi garam. Makanya, kalau musim hujan sering datang, produksi kami ikut berkurang,” katanya.
Pendapatan Masih Bergantung Cuaca
Kondisi serupa juga dirasakan Slamet, produsen garam kasar di Desa Pemongkong. Menurutnya, cuaca sangat menentukan hasil produksi sekaligus pendapatan yang bisa ia bawa pulang setiap musim.
Ia mengaku memperoleh sekitar Rp12 juta sepanjang musim produksi 2025. Periode produksi biasanya berlangsung mulai Mei atau Juni hingga November, bergantung pada kondisi cuaca.
“Kemarin hujannya banyak, jadi hasil garam juga minim. Penghasilan itu harus cukup untuk kebutuhan keluarga, termasuk biaya anak sekolah,” ungkap Slamet.
Pada musim produksi 2026, Slamet mulai melihat peluang hasil yang lebih baik seiring kondisi kemarau. Meski demikian, ia belum bisa memastikan besaran pendapatan karena sebagian garamnya masih tersimpan di gudang dan menunggu kepastian harga jual.
“Sekarang sudah ada hasil, tetapi masih tersimpan di gudang. Kami belum tahu berapa harga garam nanti. Kalau produksinya meningkat, tentu kami berharap penghasilan ikut membaik, tetapi semuanya juga bergantung pada harga jual,” tuturnya.
Bagi petani garam di Pemongkong, kemarau panjang membuka peluang untuk meningkatkan produksi. Namun, cuaca yang mendukung baru menjadi satu bagian dari perjuangan mereka.
Setelah melewati proses produksi yang membutuhkan panas stabil, petani masih harus menghadapi persoalan harga. Hasil garam yang melimpah belum otomatis menjamin pendapatan lebih besar jika harga jual tidak sesuai harapan.
Di tengah kondisi tersebut, Samidah dan Slamet tetap mengandalkan usaha garam sebagai sumber penghidupan. Mereka berharap, musim kemarau tahun ini memberikan hasil lebih baik, setelah hujan pada musim sebelumnya menghambat produksi dan menekan pendapatan keluarga. (*)




