Pendaki Asal Makassar Diduga Jadi Korban Pelecehan Seksual di Rinjani
Mataram (NTBSatu) – Pendaki perempuan berinisial S melaporkan dugaan tindak kekerasan dan pelecehan seksual yang ia alami selama perjalanan wisata pendakian Gunung Rinjani, NTB.
Peristiwa tersebut melibatkan seorang rekan pendaki pria asal Makassar, Sulawesi Selatan, yang korban kenal melalui siaran langsung di platform TikTok.
“Saya korban pelecehan dari kapal sampai di basecamp Rinjani. Saat di jalur terjadi penyerangan verbal abuse dengan membawa fisik saya,” ujarnya, mengutip akun Instagram @hadissalsabilah_ pada Selasa, 3 November 2026.
Kronologi Kejadian
Relasi antara korban dan terduga pelaku bermula ketika terduga pelaku mengajak S mendaki Gunung Rinjani lewat siaran langsung di TikTok. Menurut korban, terduga pelaku berjanji menanggung biaya perjalanan.
Namun, setibanya dalam persiapan, korban justru dibebankan untuk menanggung patungan biaya transportasi dan akomodasi. Termasuk untuk kebutuhan terduga pelaku sendiri.
S juga mengatakan mereka berdua bersama dua orang rekan korban kemudian berangkat dari Makassar menuju Lombok pada 19 Agustus 2026. Setibanya di atas kapal penyeberangan menuju Surabaya, terduga pelaku mulai menunjukkan gelagat tidak senonoh dengan menyentuh tubuh korban secara paksa saat korban beristirahat.
Tindakan pelecehan berlanjut pada rute penyeberangan berikutnya ketika terduga pelaku masuk ke tempat tidur korban, berbaring, dan memeluk korban secara sepihak. Korban yang merasa terancam lari menuju musala kapal dan melaporkan insiden tersebut kepada rekan prianya yang berinisial A.
Tidak hanya mengalami pelecehan fisik, korban juga mengaku dibebankan berbagai pengeluaran di luar kesepakatan awal. Terduga pelaku meminta uang tambahan untuk mentraktir temannya di Surabaya serta membebankan biaya cek kesehatan pemandu wisata kepada korban.
Setibanya di basecamp kaki Gunung Rinjani, S mengatakan terduga pelaku kembali melakukan kekerasan fisik berupa pemaksaan dan penciuman kepala korban.
Puncak Kekerasan di Jalur Pendakian
Situasi semakin memburuk ketika rombongan memasuki jalur pendakian menuju puncak Gunung Rinjani. Terduga pelaku secara sengaja mengancam dan meninggalkan korban seorang diri di tengah cuaca dingin ekstrem tanpa perlindungan memadai.
Korban mengaku akhirnya berhasil terselamatkan setelah ditemukan oleh pemandu pendakian lain di jalur yang berbeda. Meski demikian, terduga pelaku sempat menjemput kembali korban dan memberikan intimidasi agar korban memilih bungkam.
Dalam perjalanan turun dari puncak, korban mengungkapkan terduga pelaku kembali melontarkan pelecehan verbal dengan menyebutkan bagian-bagian intim korban.
Menanggapi narasi kasus yang viral di ruang publik, pihak terduga pelaku menyampaikan bantahan melalui pernyataan resmi. Ia menyatakan apa yang beredar di media sosial merupakan potongan cerita dari satu sisi saja.
“Apa yang beredar di media sosial merupakan potongan cerita dari satu sisi. Sementara itu, ada rangkaian kejadian, konteks, komunikasi, serta kondisi di lapangan yang tidak terlihat dalam narasi tersebut,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Sub Bagian Tata Usaha (KSBTU) Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), Astekito Ardiaristo, menyayangkan adanya dugaan peristiwa tersebut.
“Kami sangat menyayangkan adanya dugaan pelecehan seksual tersebut. Kami memandang persoalan ini sebagai hal serius karena keselamatan, keamanan, dan kenyamanan pengunjung merupakan prioritas kami,” ujarnya kepada NTBSatu pada Selasa, 3 November 2026.
Risto juga menjelaskan terkait peristiwa yang terjadi pada 13 Oktober 2026 yang baru ramai belakangan ini. Semua pihak perlu memastikan terlebih dahulu kronologi dan fakta yang sebenarnya.
Selain itu, BTNGR juga menegaskan akan menghormati proses hukum yang berlaku dan siap berkoordinasi dengan pihak berwenang sesuai kewenangan. Risto mengaku kejadian ini menjadi perhatian dan bahan evaluasi untuk memperkuat pengawasan serta pencegahan agar kejadian serupa tidak terulang kembali. (*)




