Gagas Klaster Perikanan Air Tawar, KSB Kembangkan Inovasi Albumin Ikan Gabus
Sumbawa Barat (NTBSatu) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumbawa Barat memacu pembentukan titik pertumbuhan ekonomi baru berbasis sumber daya lokal. Langkah ini mengomandoi pembentukan klaster perikanan air tawar demi melepaskan KSB dari ketergantungan pasokan luar daerah.
Selama ini, KSB rutin mendatangkan pasokan ikan air tawar dari Pulau Lombok setiap hari. Pemkab KSB lantas bergerak mengoptimalkan saluran irigasi Bendungan Bintang Bano dan Tiu Suntuk sebagai basis budidaya strategis.
Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) KSB, Mars Anugerainsyah, S.Hut., M.Si., CGCAE., menegaskan program ini berfokus pada hilirisasi produk bernilai ekonomi tinggi, bukan sekadar budidaya ikan konsumsi.
Komoditas utama dalam program ini bertumpu pada pengembangan Ikan Gabus dan Ikan Betok. Selain bahan pangan, Ikan Gabus menyimpan potensi medis besar melalui ekstrak albumin.
“Satu ekor ikan gabus ukuran kecil mampu menghasilkan hingga 60 cc albumin. Ini peluang ekonomi luar biasa karena kebutuhan medis rumah sakit sangat tinggi, sementara 20 cc albumin harganya mencapai Rp150.000,” ujar Mars.
Ia menjelaskan, pengolahan ekstrak ini menerapkan prinsip nirkertas sampah (zero waste). Sisa daging ekstrak dapat diolah menjadi abon, sementara alat pengekstraknya tergolong murah, ringkas, serta sudah dapat terproduksi secara lokal.
Selain Ikan Gabus, Pemkab KSB mengandalkan Ikan Betok sebagai komoditas endemik. Bobot rata-rata ikan ini mencapai 5 ekor per kilogram, bahkan kelompok tani pernah mencatat panen hingga 3 ons per ekor.
Gandeng Akademisi dan PT AMNT
Pemkab KSB merangkul kolaborasi hulu-hilir bersama Universitas Lambung Mangkurat dan PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT). Fakultas Perikanan Universitas Lambung Mangkurat mengawal pendampingan teknis, penyusunan regulasi, hingga riset.
Pemkab KSB dan DPRD KSB telah menuntaskan kunjungan kerja ke universitas tersebut guna memantapkan rencana kemitraan.
Pemkab KSB menyiapkan enam hingga tujuh petak lahan Balai Benih Ikan (BBI) sebagai pusat riset bersama akademisi. Sementara itu, kerja sama dengan PT AMNT berfokus pada pembukaan akses pasar produk olahan perikanan.
Langkah terpadu yang memadukan optimalisasi irigasi, teknologi pengolahan, dan jaminan pasar ini optimis mampu mendongkrak kesejahteraan pembudidaya lokal KSB. (*)




