Bangkit dari Gempa 2018, Dubes Australia Puji Lima Desa di KLU Bangun Ketahanan Ekonomi
Mataram (NTBSatu) – Pagi beranjak menuju siang. Awan menggantung di langit, sementara matahari bersinar leluasa menyinari kawasan Pasar Pemenang, Kabupaten Lombok Utara (KLU).
Satu per satu pedagang mulai merapikan lapak dan mengemas sisa dagangan mereka. Setelah menghabiskan waktu sejak pagi menawarkan berbagai produk kepada pembeli.
Pasar Pemenang, menjadi salah satu pusat perbelanjaan yang terdampak gempa Lombok 2018 lalu. Namun kini kembali hidup berkat kolaborasi lima desa penyangga. Di antaranya: Pemenang Barat, Pemenang Timur, Menggala, Malaka, dan Gili Indah.
Kolaborasi ini menjadi titik awal kebangkitan masyarakat setempat pascagempa tersebut. Terutama dalam memperkuat kesiapsiagaan bencana sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat.
Kegigihan masyarakat tersebut menarik perhatian Duta Besar Australia untuk Indonesia, Rod Brazier. Ia mengunjungi langsung Pasar Pemenang, KLU, pada Rabu, 4 November 2026.
Kehadiran Rod Brazier untuk melihat langsung bagaimana lima desa mengubah pengalaman menghadapi bencana menjadi kolaborasi yang memperkuat kesiapsiagaan sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat, melalui pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), ketahanan pangan, dan penguatan mata pencaharian masyarakat.
“Saya senang sekali dapat mengunjungi Pasar Pemenang karena pasar ini merupakan contoh nyata bagaimana upaya pemulihan pascagempa tahun 2018 tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga pada penguatan ketahanan ekonomi dan ketahanan pangan masyarakat,” kata Brazier.
Selama kunjungan, Duta Besar meninjau produk UMKM, berdialog dengan perempuan pelaku usaha, serta mendengarkan langsung pengalaman masyarakat dalam membangun mekanisme evakuasi dan kesiapsiagaan bersama.
Berbagai produk hasil olahan UMKM lokal tersaji. Mulai dari keripik nangka, rempeyek, minyak kelapa murni atau virgin coconut oil (VCO), sabun olahan, hingga kerajinan perhiasan hasil tangan masyarakat setempat.
Ia juga berdialog dengan perempuan pelaku UMKM mengenai pengembangan produk dan peluang pasar, termasuk potensi menjangkau wisatawan yang berkunjung ke Lombok Utara.
“Saya sangat terkesan saat bertemu ibu-ibu pemilik UMKM yang berani membangun bisnis sendiri, membuat produk berkualitas seperti keripik, VCO, dan sabun, serta siap memasarkannya kepada wisatawan mancanegara,” ujar Brazier.
Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Lombok Utara, Sahabudin mengatakan, kunjungan tersebut menjadi kesempatan untuk memperlihatkan bagaimana pemerintah daerah, pemerintah desa, dan masyarakat menerjemahkan pengalaman menghadapi bencana menjadi upaya bersama untuk memperkuat ekonomi lokal.
“Pengalaman gempa dan pandemi COVID-19 menunjukkan besarnya dampak bencana terhadap perekonomian daerah. Kerja sama ini sangat membantu peningkatan perekonomian masyarakat serta kapasitas para pelaku UMKM,” kata Sahabudin.
Ia berharap praktik baik yang berkembang di Pemenang dapat terus diperkuat dan diperluas ke kecamatan lain di Kabupaten Lombok Utara.
Inisiatif di Pemenang mempertemukan lima desa, yakni Gili Indah, Malaka, Pemenang Barat, Pemenang Timur, dan Menggala, melalui Badan Kerja Sama Antar Desa (BKAD). Sejak dibentuk pada 2024, BKAD berfokus pada tiga bidang yang saling berkaitan: penanggulangan bencana, ketahanan ekonomi, dan pengelolaan sampah.
“Kami menyatukan lima desa dalam kerja sama kawasan, yaitu Desa Gili Indah, Desa Malaka, Desa Pemenang Barat, Desa Pemenang Timur, dan Desa Menggala,” kata Ketua BKAD, Ahmad Rahmatullah.
Komitmen lima desa juga diwujudkan melalui investasi bersama untuk Pasar Kawasan Pemenang. Masing-masing desa mengalokasikan Rp60 juta, dengan total Rp300 juta, untuk mendukung pengembangan pasar yang dikelola Badan Usaha Milik Desa Bersama (BUMDesma) Kecamatan Pemenang.
Pasar tersebut menjadi ruang bagi UMKM lokal sekaligus memperkuat keterhubungan ekonomi antara Gili Indah, sebagai salah satu pusat pariwisata, dan desa-desa di daratan.
Selain penguatan ekonomi, Duta Besar mendapat penjelasan mengenai upaya lima desa membangun mekanisme kesiapsiagaan dan evakuasi bersama berdasarkan pengalaman menghadapi bencana sebelumnya.
Brazier mengapresiasi kepemimpinan pemerintah daerah dan pemerintah desa serta peran aktif masyarakat dalam membangun ketangguhan kawasan.
“Kami percaya bahwa masyarakat yang tangguh adalah fondasi bagi pembangunan yang berkelanjutan dan inklusif,” kata Brazier.
Upaya penguatan ketangguhan di Pemenang didukung melalui Program SIAP SIAGA, Kemitraan Australia–Indonesia untuk Manajemen Risiko Bencana, bersama KONSEPSI sebagai mitra. Pendampingan mempertemukan pemerintah daerah, pemerintah desa, BKAD, BUMDesma, pelaku UMKM, dan masyarakat untuk memperkuat keterkaitan antara kesiapsiagaan bencana dan ketangguhan ekonomi kawasan.
“Semoga praktik baik yang telah dikembangkan di Pemenang dapat terus diperkuat dan menjadi inspirasi bagi wilayah lain di Indonesia,” kata Brazier. (*)




