Dukung LWF 2026, Pemprov NTB Integrasikan Moda Transportasi
Mataram (NTBSatu) – Pemprov NTB menegaskan komitmennya untuk mendukung penuh penyelenggaraan ajang akademik internasional. Sekaligus terus mengupayakan pembenahan dan pengintegrasian seluruh moda transportasi di NTB.
Pemprov NTB mengambil langkah ini guna merespons tingginya antusiasme akademisi dunia yang hadir dalam gelaran internasional Lombok World Forum (LWF) 2026 di Mataram, sekaligus menjawab tantangan aksesibilitas menuju NTB.
Sekretaris Daerah (Sekda) NTB, Abul Chair menyampaikan, pemerintah daerah menyambut hangat kedatangan para peneliti dan memandang forum ini sebagai momentum strategis untuk kemajuan daerah.
“Ini luar biasa, tentu ini jadi rujukan buat kita. Potensi NTB ini luar biasa. Jika akademisi dan para peneliti berkumpul di sini untuk meneliti banyak hal, banyak yang bisa dikembangkan dan tentu ini yang kita harapkan,” ujarnya, Kamis, 22 Oktober 2026.
Guna menanggapi keluhan sejumlah peserta mancanegara terkait terbatasnya rute penerbangan langsung ke Lombok seperti dari Osaka di Jepang, Polandia, hingga Toronto di Kanada yang memaksa sebagian peserta transit di Bali bahkan terpaksa menggunakan transportasi laut berupa bot karena kehabisan tiket pesawat.
Pemprov NTB memastikan masukan tersebut menjadi catatan penting untuk membenahi layanan publik ke depan.
“Memang belum seideal apa yang diinginkan, tapi upaya upaya itu terus kita lakukan untuk mengintegrasikan semua moda transportasi dengan pariwisata, pasar, dan layanan publik. Ini masukan berharga yang mudah mudahan bisa menjadi bahan kajian para akademisi demi perkembangan NTB yang semakin maju,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa Gubernur turut menyuarakan isu konektivitas serta potensi NTB ini dalam pertemuannya bersama Presiden di Jakarta.
Ia menekankan pentingnya sinergi antara riset ilmiah, kebijakan publik, dan kebutuhan nyata masyarakat.
Menurutnya, pembangunan NTB yang mengusung visi Bangkit Bersama Menuju NTB Provinsi Kepulauan yang Makmur dan Mendunia menitikberatkan pada kemajuan yang berdaya saing dan merata hingga ke desa, pesisir, serta pulau-pulau kecil.
Lebih lanjut, ia menyatakan pemerintah menyandarkan pentingnya integrasi riset dan kebijakan ini pada data resmi Badan Pusat Statistik (BPS).
BPS mencatat pertumbuhan ekonomi NTB mencapai 7,41 persen secara tahunan pada Triwulan II 2026. Namun, di sisi lain, BPS mencatat angka kemiskinan per Maret 2026 masih berada di angka 11,17 persen.
Menurutnya, kedua indikator ini menjadi refleksi bersama bahwa pencapaian pertumbuhan ekonomi harus berjalan seiring dengan penciptaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan, penguatan usaha lokal, serta pengurangan kesenjangan sosial.
Enam Subtema Strategis LWF 2026
Lombok World Forum 2026 sendiri berlangsung selama empat hari, mulai Rabu 21 Oktober 2026 hingga Sabtu 24 Oktober 2026, dengan pusat kegiatan di Prime Plaza Hotel dan Convention serta STIKES Mataram.
Pihak penyelenggara menjadwalkan sesi diskusi panel dan pemaparan makalah pada 22 hingga 24 Oktober 2026, yang berfokus pada enam subtema meliputi Politik dan Tata Kelola Pemerintahan, Budaya dan Masyarakat (termasuk nilai kekayaan tradisi Sasak, Samawa, dan Mbojo), Komunikasi dan Media, Tata Kelola Kesehatan, Kebijakan Publik dan Pembangunan, serta Keberlanjutan dan Tantangan Global yang mencakup konservasi dan pariwisata berkelanjutan.
Ketua Penyelenggara LWF 2026 yang juga menjabat sebagai Ketua STIKES Mataram, Prof. Dr. Chairun Nasirin, mengungkapkan bahwa antusiasme peserta global sudah terlihat sejak tahap penerimaan makalah yang resmi berakhir pada 30 Juli 2026 dan batas registrasi pada 8 Agustus 2026.
“Lombok World Forum hadir untuk menjembatani dialog antar-sektor dan antar-disiplin ilmu. Kami berharap hasil gagasan dan riset yang para peneliti presentasikan di sini mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembuat kebijakan dan masyarakat luas,” ungkap Prof. Chairun.
Peluang Kerja Sama Global
Sementara itu, Prof. Ofer Feldman menyampaikan kekagumannya atas keindahan alam, kekayaan budaya, dan keramahan warga Lombok, serta mengapresiasi tinggi ketua panitia lokal, Khairul atau Haiwon.
Ia menceritakan bahwa ia bersama Khairul mencetuskan ide konferensi ini sejak pertemuan awal di Bangkok pada tahun 2015 untuk membawa jaringan akademis internasional langsung ke Lombok.
“Negara yang indah, tempat yang menawan, penduduk yang luar biasa, kaya akan budaya, serta penuh semangat untuk mewujudkan forum global yang mampu mempertemukan para akademisi dari seluruh penjuru dunia. Sungguh luar biasa,” kata dia.
Melalui LWF 2026, Pemprov NTB berharap forum ini tidak berhenti pada sesi akademik semata, melainkan terus berlanjut menjadi kerja sama riset, pertukaran akademis, dan kemitraan jangka panjang yang memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat NTB dan dunia. (*)




