Jalan Rusak Tak Kunjung Tuntas, Warga Mekarsari Gotong Jenazah Sejauh 3 Kilometer
Lombok Barat (NTBSatu) – Kerusakan jalan kembali memaksa warga Desa Mekarsari, Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat, menggotong jenazah menuju permukiman. Pada Selasa, 20 Oktober 2026, warga menggotong jenazah seorang warga yang meninggal di rumah sakit karena kendaraan roda empat tidak bisa menjangkau lokasi.
Peristiwa itu kembali memperlihatkan sulitnya akses transportasi di wilayah utara Desa Mekarsari. Warga harus membawa jenazah melewati jalan rusak, sementara hujan menambah berat perjalanan.
Kepala Desa Mekarsari, Faizul Bayani mengatakan, kejadian tersebut mengulang peristiwa serupa pada Januari 2026. Saat itu, warga juga terpaksa menggotong jenazah karena kondisi jalan tidak memungkinkan kendaraan melintas.
“Ini terjadi lagi hal yang serupa, yang pernah kejadian di awal 2026, itu bulan Januari, dengan permasalahan yang sama, dengan ruas jalan yang sama, dengan kondisi jalan yang sama,” kata Faizul saat wawancara, Selasa, 20 Oktober 2026.
Menurut Faizul, warga menggotong jenazah dari batas jalan yang bisa kendaraan lalui menuju permukiman. Panjang akses dari ujung jalan beraspal mencapai sekitar tiga kilometer.
Sementara itu, sekitar 1,5 kilometer ruas jalan masih belum mendapat rabat beton. Kondisi tersebut membuat kendaraan roda empat kesulitan mencapai permukiman warga.
“Harapannya hanya itu. Bagaimanapun juga, kondisi ini sudah berkali-kali. Ini bukan yang pertama, bisa dikatakan yang kesekian kalinya,” ujarnya.
Janji Perbaikan Belum Tuntaskan Masalah
Faizul mengaku pemerintah kabupaten pernah merespons persoalan jalan tersebut setelah kejadian serupa pada Januari lalu. Namun, menurutnya, warga belum merasakan penyelesaian menyeluruh atas persoalan akses jalan itu.
Ia meminta pemerintah daerah tidak berhenti pada pernyataan atau respons di media sosial. Menurutnya, warga membutuhkan kepastian realisasi pembangunan agar kejadian serupa tidak terus berulang.
“Jangan hanya di media sosial, jangan hanya kami diberikan bayang-bayang, jangan diberikan angan-angan, supaya bagaimana jalan ini bisa terealisasi dan tidak terjadi lagi hal seperti ini,” tegasnya.
Faizul juga menyebut pemerintah provinsi telah menyampaikan sejumlah komitmen terkait pembangunan di wilayah tersebut. Ia mengaku sebagian komitmen itu mulai terealisasi, tetapi warga masih menunggu informasi mengenai kelanjutan pembangunan jalan pada 2027.
“Kalau dari pihak gubernur, itu masih kami menunggu informasi 2027,” katanya.
Meski demikian, belum ada kepastian dalam keterangan Faizul mengenai jadwal, anggaran, maupun panjang ruas jalan yang akan pemerintah tangani pada 2027.
Tiga Dusun Terdampak
Persoalan jalan tersebut tidak hanya menyangkut satu keluarga yang mengalami musibah. Faizul menyebut wilayah utara yang terdampak mencakup tiga dusun di Desa Mekarsari dan wilayah desa tetangga, Gelangsar.
Ia memperkirakan lebih dari 300 kepala keluarga tinggal di tiga dusun yang berada di kawasan tersebut. Kondisi jalan yang sulit kendaraan lalui berpotensi menyulitkan mobilitas warga, terutama ketika menghadapi keadaan darurat.
Peristiwa penggotongan jenazah menjadi gambaran nyata dampak keterbatasan akses tersebut. Jalan yang tidak dapat kendaraan roda empat lalui memaksa warga menangani sendiri proses pengangkutan jenazah menuju permukiman.
Namun, pemerintah daerah masih perlu menjelaskan rencana konkret untuk menuntaskan persoalan itu. Kepastian status ruas jalan, kebutuhan anggaran, dan jadwal pembangunan menjadi informasi penting bagi warga yang telah berulang kali menghadapi masalah serupa.
Faizul berharap pemerintah kabupaten memberikan perhatian lebih serius terhadap akses jalan di wilayahnya. Ia menegaskan warga tidak ingin kembali mengalami kejadian serupa akibat kerusakan jalan yang tak kunjung tuntas. (*)




