Tekan Biaya Operasional, Petani Lombok Timur Gunakan Oven Listrik untuk Pengeringan Tembakau
Lombok Timur (NTBSatu) – Petani tembakau di Desa Rarang, Kecamatan Terara, Lombok Timur, mulai mencoba oven listrik. Teknologi ini menawarkan biaya pengovenan yang lebih murah dibandingkan oven konvensional.
Ketua Kelompok Tani Lingsir Bajang Empat, Dusun Pengongsor, Desa Rarang, Mansur mengatakan, oven listrik membantu menekan biaya operasional petani. Terutama untuk kebutuhan bahan bakar.
Selama ini, petani mengandalkan kayu bakar dan cangkang kemiri. Mereka juga harus mengawasi proses pengovenan secara rutin.
“Kalau menurut saya sebagai petani, oven listrik jauh lebih efisien. Baik dari segi biaya tenaga maupun bahan bakar,” kata Mansur, Senin, 19 Oktober 2026.
Ia menyebut, pengovenan tiga ton tembakau menggunakan listrik menghabiskan sekitar Rp1 juta hingga Rp1,3 juta. Biaya itu untuk token listrik selama satu kali proses pengovenan.
Sementara itu, oven konvensional membutuhkan kayu bakar dalam jumlah besar.
Harga kayu tertentu berkisar Rp3,2 juta hingga Rp3,5 juta per truk. Bahkan, kayu jenis mintis bisa mencapai Rp8 juta per truk.
“Kalau pakai oven listrik, paling tidak Rp1 juta sampai Rp1,3 juta sudah selesai untuk kapasitas tiga ton. Lebih hemat dan tidak memerlukan kayu lagi,” ujarnya.
Petani Pantau Lewat HP
Kelompok tani tersebut mulai menguji coba oven listrik pada awal Agustus 2026. Waktu pengovenannya berkisar lima hingga enam hari. Durasi ini hampir sama dengan oven konvensional.
Namun, Mansur menilai, oven listrik menghasilkan tembakau yang lebih bersih. Warnanya juga terlihat lebih tajam jika petani menggunakan bahan baku dengan kualitas yang sama.
Penggunaan oven listrik turut memudahkan petani mengontrol suhu. Mereka tidak perlu terus-menerus menjaga tungku atau menambah kayu bakar.
“Oven manual mengharuskan kita menjaga kayu atau cangkang kemiri setiap hari. Kalau oven listrik, kita cukup memantau melalui aplikasi di HP,” jelasnya.
Sistem tersebut mengatur suhu sesuai kebutuhan tembakau. Petani juga bisa menaikkan suhu melalui pengaturan mesin.
Menurut Mansur, oven listrik lebih aman karena tidak menggunakan api secara langsung. Mesin itu juga memiliki alarm untuk memberi tanda jika proses pengovenan belum merata.
Meski lebih hemat, oven listrik yang mereka uji coba masih memiliki keterbatasan. Kapasitasnya hanya sekitar tiga ton tembakau dalam sekali proses.
Mansur berharap, pemerintah mengembangkan mesin dengan kapasitas lebih besar. Ia menginginkan oven yang mampu menampung lima hingga enam ton tembakau.
“Supaya petani bisa menghemat biaya dan memperoleh keuntungan lebih baik,” katanya.
Ia mengaku belum mengetahui harga pengadaan mesin tersebut. Karena itu, ia berharap pemerintah dan investor ikut mengkaji biaya agar petani kecil mampu mengakses teknologi ini.
Mansur menilai, efisiensi biaya menjadi kebutuhan penting bagi petani. Terlebih, harga kayu bakar terus menjadi beban dalam proses pengolahan tembakau.
“Harapan kita bertani tembakau ini bisa menghasilkan keuntungan. Mudah-mudahan pemerintah membantu mengembangkan oven ini supaya beban petani semakin ringan,” pungkasnya. (*)




