Kabupaten Bima

Jalan dan Jembatan Tak Pernah Disentuh Pemerintah, Warga Bima Sindir Lewat Kasidah Rebana MTQ

Bima (NTBsatu) – Ada hal menarik saat lomba Kasidah Rebana pada Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat Desa Ntoke yang ke-33 tahun 2026, yang berlangsung di Dusun Wanca.

Tampak dalam acara pembukaan, tim Kasidah Rebana membawakan lagu berbahasa Bima yang menyoroti infrastruktur jalan rusak, bronjong hingga jembatan yang belum pernah di bangun sajak zaman dahulu kala hingga tahun 2026.

Dalam lagu yang dibawakan tim dari dusun Nenti Rasa, Desa Ntoke menyampaikan bahwa ada tiga jembatan yang belum di bangun. Oleh karena itu mereka berharap kepada Camat Wera, Edison untuk melihat kondisi tersebut.

“Kalembo Ade dei pak Edi (Camat Wera), Aina tio kamboto tiopo jembatan tolumbua, kombi loampa ruku ru,u ba masyarakat, tu,u wea jembatan ru,u douma mboto,”.

“Berlapang dada, jangan lupa lihat tiga jembatan, siapa tau bisa bergerak untuk masyarakat, bangun jembatan untuk orang banyak,” kata Aminah dalam lagu tersebut.

Salain itu, Amina cs berharap pemerintah Kecamatan, Kabupaten Bima untuk membangun bronjong di Sungai Kaleli agar permukiman warga tidak terbawa arus banjir jika musim hujan datang.

“Wara nde raho ba mada doho, nde raho karaso de mada doho dusun nenti rasa, aina kalalo baronjo sori kaleli, mai si mbere ma kento rasa malao sa konto,

Salain itu, sindiran juga ditujukan jalan Lintas Nunggi Ntoke yang mengalami rusak parah sejak dulu hingga sekarang

“Aina toi bosan tio ncai da ao beso kareke kone nde landa basi. Raka si ura ai, na nconki nde iu, mabu si ura susa ra mada doho ta ara. Na rakalate koro orepoda ma kura, dana waura mabu, mai mbere ma kento ncai na lao sakonto, mai si mbere kone jembatan ma sambura,” lanjutnya.

“Jangan bosan lihat jalan, banyak kerikil, jika musim hujan turun, ma masyarakat susah. Jika musim hujan susah masyarakat Ntoke. Tanjakan klate koro semakin terkikis oleh banjir. Banjir datang jembatan rusak,” tambahnya.

Sebagai informasi, jalan Lintas Nunggi Ntoke mengalami rusak parah dari zaman dulu hingga saat ini. Belum ada tanda-tanda perbaikan jalan yang dilakukan pemerintah.

Jika musim hujan datang, maka jalan berubah menjadi sungai akibat banjir bandang, ruas jalan di penuhi kerikil, tanah dan pasir.

Kondisi tersebut membuat masyarakat yang berlalulintas mengalami kendala. Kecelakaan kerap terjadi karena kondisi jalan yang becek. (MSR)

Artikel Terkait