AdvertorialPendidikan

Fatepa Unram Angkat Potensi Pangan Lombok ke Level Global

Mataram (NTBSatu) – Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri (Fatepa) Universitas Mataram (Unram) memperkenalkan potensi pangan Lombok dan NTB kepada peserta internasional melalui Fatepa Summer Course Program 2026 bertema “Savory The Island”, yang berlangsung pada 24–29 Agustus 2026.

Program ini diikuti 15 peserta. Sebanyak 13 peserta berasal dari Pakistan, Tanzania, Bangladesh, dan Nigeria, sedangkan dua peserta lainnya berasal dari Indonesia. Kegiatan dibuka Wakil Rektor III Unram Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Dr. Sujita, S.T., M.T.

Rumput laut menjadi salah satu komoditas yang mendapat perhatian dalam program tersebut.

IKLAN

Moegiratul Amaro, S.TP., M.P., M.Sc., melalui materi Seaweed Processing and Bioproduct: West Nusa Tenggara and Lombok Island, membahas potensi budidaya rumput laut di Lombok sekaligus persoalan kualitas bahan baku dan penanganan pascapanen.

Lombok memiliki potensi lahan budidaya rumput laut sekitar 5.490 hektare, tetapi baru sekitar 37 persen yang dimanfaatkan. Dalam materinya, Moegiratul menekankan bahwa peningkatan kualitas industri rumput laut tidak hanya bergantung pada teknologi pengolahan. Umur panen, metode pengeringan, kebersihan bahan, dan penyimpanan juga menentukan mutu produk akhir.

Peluang peningkatan nilai tambah rumput laut dilanjutkan Mutia Devi Ariyana, S.Si., MP melalui materi Beyond The Harvest: Development of Bio-products & Seaweed Biorefinery.

IKLAN

Mutia membahas peluang pemanfaatan rumput laut menjadi pangan fungsional, prebiotik, biomaterial, hingga edible film. Pendekatan biorefinery memungkinkan biomassa digunakan secara bertingkat sehingga residu dari satu proses dapat kembali dimanfaatkan untuk menghasilkan produk lain.

Komoditas lokal lainnya, porang, dibahas Prof. Ir. Zainuri, PGDip., M.App.Sc., Ph.D. melalui materi Porang Processing: Glucomannan & Functional Ingredient Innovation.

Dalam paparannya, Zainuri menekankan pentingnya hilirisasi porang melalui pemurnian glukomanan, pengendalian komponen yang tidak diinginkan, serta standardisasi kualitas.

“Langkah tersebut diperlukan agar porang tidak berhenti sebagai komoditas mentah, tetapi dapat dikembangkan menjadi bahan fungsional bernilai lebih tinggi,” katanya.

Sementara itu, Dr. Ansar, S.Pd., M.P., M.Pd. membahas nira melalui materi Palm Sap Processing, Sustainable Sweeteners & Local Agro-industry Innovation.

Nira tidak hanya dapat diolah menjadi gula cetak tradisional, tetapi juga gula semut, sirup, hingga bahan baku pangan fungsional. Ansar menekankan bahwa kualitas produk akhir sangat dipengaruhi oleh kondisi nira sejak penyadapan, kebersihan peralatan, kecepatan penanganan, serta standardisasi proses.

Potensi buah tropis juga dibahas Dr. Kurniawan Yuniarto, S.TP., MP. melalui materi Indonesia Tropical Fruit Abundance from Biodiversity to Postharvest. Ia menjelaskan pentingnya tingkat kematangan, sortasi, pengemasan, dan rantai dingin untuk mempertahankan mutu buah setelah panen. Notulensi Summer Course

Implementasi di Lapangan

Peserta mengunjungi Kampung Coklat, Desa Senare, untuk melihat rantai pengolahan kakao mulai dari fermentasi dan pengeringan biji hingga roasting, winnowing, grinding, dan conching.

Kunjungan berikutnya dilakukan ke Lombok Cashew, tempat peserta mempelajari pengeringan, perlakuan panas, pengupasan, sortasi, grading, pengolahan, hingga pengemasan kacang mete. Diskusi juga mencakup kemitraan dengan petani lokal dan pemasaran produk.

Rangkaian Fatepa Summer Course Program 2026 menunjukkan bahwa potensi pangan Lombok dan NTB tidak hanya terletak pada ketersediaan komoditas. Pengelolaan bahan baku, teknologi pengolahan, keamanan pangan, standardisasi, dan hilirisasi menjadi bagian penting dalam meningkatkan nilai tambah produk lokal sekaligus memperkenalkannya kepada peserta dari berbagai negara. (*)

Artikel Terkait