Loang Gali, Jejak “Kuang Bawi” yang Berubah Jadi Destinasi Wisata
Lombok Timur (NTBSatu) – Sebelum kolam renang berdiri dan wisatawan datang membawa perlengkapan camping, kawasan Loang Gali di Kecamatan Lenek, Lombok Timur, hanyalah hamparan hutan dengan aliran air di tengahnya.
Pohon-pohon masih tumbuh rapat. Berbagai satwa juga masih mudah ditemukan warga. Salah satunya babi hutan yang meninggalkan banyak lubang di sekitar kawasan. Dari situlah cerita tentang nama Loang Gali bermula.
Ketua Pengelola Wisata Loang Gali, Leong Gara mengatakan, masyarakat dahulu mengenal kawasan tersebut dengan nama “Kuang Bawi”. Dalam pemahaman warga setempat, istilah itu merujuk pada lubang tempat babi hutan berada.
“Dulu di sini banyak babi. Lubang-lubangnya juga banyak. Sebenarnya namanya Kuang Bawi, tapi kemudian dipelesetkan menjadi Loang Gali,” kata Leong, Minggu, 27 September 2026.
Sebutan Kuang Bawi kemudian perlahan bergeser. Masyarakat menggunakan nama Loang Gali yang dianggap lebih halus untuk menyebut kawasan tersebut.
Seiring waktu, hutan yang dahulu menjadi habitat satwa mulai berubah. Warga melihat potensi lain dari kawasan itu, terutama keberadaan Mata Air Loang Gali yang mengalir melewati area tersebut.
Pada 2004, masyarakat mulai bergotong royong membangun wisata alam. Warga dari sejumlah wilayah sekitar ikut membuka kawasan dan menata aliran sungai.
“Karena kan tahun berdirinya ini tahun 2004, sebelum ada kolam renangnya, wisatanya modernnya. Dulu kan masih wisata alamnya dulu kan yang di bawah,” katanya.
Gotong royong menjadi modal awal masyarakat mengembangkan Loang Gali. Perubahan besar mulai terjadi ketika masyarakat mengembangkan konsep wisata yang lebih modern.
Sempat Berhenti Beroperasi
Pengelola mengajukan pembangunan kolam renang pada 2016. Setahun kemudian, pembangunan mulai berjalan. Namun, kawasan itu tidak langsung menerima wisatawan.
“Dari tahun 2016 kita ajukan dan akhirnya 2017 keluar dana. Ya kita bangun, tapi itu gak langsung beroperasi dulu. Karena gempa dicampur covid jadi kita mulai beroperasinya 2021,” ujarnya.
Kini, kawasan yang dikelola mencapai sekitar 2,46 hektare. Pengunjung tidak hanya menemukan kolam renang, tetapi juga gazebo, musala, kamar bilas, toilet, serta area untuk camping.
Pengelola bahkan menyediakan perlengkapan camping dan fasilitas untuk kegiatan memanggang makanan.
Meski wajahnya berubah, satu unsur tetap menjadi pusat kehidupan Loang Gali, air. Air di kawasan ini memiliki siklus yang tidak selalu sama sepanjang tahun.
Pada musim tertentu, debitnya dapat berkurang sekitar 40 persen. Bagian aliran sungai di kawasan atas bahkan bisa tidak mengalir selama periode tertentu.
“Kadang debit airnya berkurang, tapi masih bisa untuk irigasi sawah. Siklusnya memang seperti itu, kadang setahun, kadang bisa sampai dua tahun,” ujar Leong.
Bagi masyarakat sekitar, air Loang Gali tidak berhenti sebagai daya tarik wisata. Alirannya juga membantu mengairi sawah.
Sebagian warga memanfaatkan air untuk kebutuhan sehari-hari, seperti mencuci peralatan rumah tangga dan pakaian.
Karena sangat bergantung pada musim, masyarakat memiliki cara tersendiri menghadapi kemarau. Ketika hujan tidak kunjung turun, warga menjalankan tradisi ngalu hujan.
Tradisi tersebut mempertemukan masyarakat dalam sebuah acara bersama. Mereka membawa sesajian dan melakukan rangkaian kegiatan sebagai bentuk ikhtiar memohon turunnya hujan.
“Kalau kemarau dan tidak pernah hujan, kita ngalu hujan. Itu acara besar bersama masyarakat,” kata Leong.
Tradisi itu memperlihatkan bahwa hubungan masyarakat dengan Loang Gali tidak hanya berkaitan dengan wisata. Air menjadi bagian dari kehidupan, pertanian, sekaligus tradisi warga.
Diserbu saat Hari Besar
Kini, suasana Loang Gali jauh berbeda dibandingkan masa ketika Kuang Bawi masih menjadi sebutan kawasan tersebut.
Hutan yang dulu rimbun telah berdampingan dengan fasilitas wisata. Suara air bercampur dengan aktivitas pengunjung. Anak-anak bermain di kolam, sementara pengunjung lain menikmati gazebo atau menyiapkan kegiatan camping.
Saat hari biasa, suasana kawasan cenderung lebih tenang. Namun, pada momentum tertentu, wajah Loang Gali berubah drastis.
Idul Fitri, Idul Adha, Tahun Baru, dan musim liburan menjadi waktu ketika pengunjung berdatangan dalam jumlah besar. Dalam sehari, jumlahnya bisa mencapai ribuan orang.
“Kalau Idul Fitri itu pasti ribuan lebih dalam satu hari. Parkir sampai tidak muat. Kendaraan bisa sampai ke atas,” ujar Leong.
Ramainya pengunjung menjadi gambaran perubahan Loang Gali dalam dua dekade terakhir.
Dari kawasan hutan dengan lubang-lubang babi hutan, masyarakat mengubahnya menjadi destinasi wisata. Dari Kuang Bawi, nama itu kemudian dikenal sebagai Loang Gali.
Namun, perubahan tersebut tidak sepenuhnya menghapus cerita lama. Nama, mata air, tradisi, dan ingatan masyarakat tentang hutan tetap menjadi bagian dari identitas kawasan. (*)




