Direktorat Sungai dan Pantai Apresiasi Kinerja BBWS NT I Bangun Pengendali Banjir Kota Bima
Kota Bima (NTBSatu) – Direktorat Sungai dan Pantai mengapresiasi kinerja Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Nusa Tenggara I dalam menangani persoalan banjir Kota Bima melalui pembangunan kolam retensi.
Proyek Kolam Retensi Amahami terus menunjukkan perkembangan positif. Infrastruktur pengendali banjir tersebut nantinya memiliki fungsi utama untuk menampung air saat debit meningkat sehingga dapat membantu mengurangi risiko genangan pada kawasan Kota Bima.
Selain menjalankan fungsi pengendalian banjir, pemerintah juga menyiapkan kawasan kolam retensi dengan konsep ruang publik. Penataan tersebut mencakup taman dan sejumlah fasilitas pendukung yang dapat menunjang aktivitas masyarakat.
Direktorat Sungai dan Pantai melakukan pemantauan lapangan pada 16–18 September 2026. Tim memusatkan peninjauan pada dua lokasi strategis, yakni kawasan Taman Dae Lakosa dan area pembangunan Kolam Retensi Amahami.
Kegiatan tersebut melibatkan sejumlah pejabat teknis. Mereka antara lain Kepala Subdirektorat Sungai dan Pantai Wilayah III, Kepala BBWS Nusa Tenggara I, Kepala Bidang Pelaksanaan BWS Nusa Tenggara I, serta PPK Sungai dan Pantai I dan PPK Sungai dan Pantai II.
Pemantauan tersebut bertujuan memastikan pelaksanaan pembangunan tetap mengikuti perencanaan, spesifikasi teknis, serta target waktu yang telah ditetapkan. Tim teknis juga melakukan pembinaan dan pengawasan secara berkala untuk menjaga kualitas pekerjaan.
Dorong Dukungan Pemerintah dan Masyarakat
Kasubdit Wilayah III Direktorat Sungai dan Pantai, Surendro menilai, dukungan Pemerintah Kota (Pemkot) Bima dan masyarakat memiliki peran penting dalam kelancaran pembangunan Kolam Retensi Amahami.
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat ikut menjaga proses pembangunan agar berjalan lancar hingga proyek tersebut selesai.
“Kami mengajak segenap warga Kota Bima untuk bersama-sama mendukung suksesnya pembangunan proyek ini. Selain fungsi utamanya sebagai kolam retensi untuk mitigasi dan penanganan banjir, kawasan ini juga didesain secara modern dengan menghadirkan taman serta berbagai wahana rekreasi pendukung,” ungkap Surendro dalam keterangan tertulisnya, Senin, 21 September 2026.
Menurut Surendro, konsep Kolam Retensi Amahami tidak hanya berorientasi pada fungsi teknis. Pemerintah juga menggabungkan aspek mitigasi bencana dengan penataan ruang publik agar kawasan tersebut dapat memberi manfaat lebih luas bagi masyarakat.
Rencana tersebut membuat Kolam Retensi Amahami memiliki dua fungsi utama. Pertama, mendukung upaya pengendalian banjir Kota Bima. Kedua, menyediakan ruang publik yang dapat menunjang aktivitas warga.
Surendro berharap kolaborasi antara pemerintah daerah, jajaran teknis, dan masyarakat terus berjalan selama proses pembangunan. Sinergi tersebut menjadi bagian penting untuk mendukung penyelesaian proyek sekaligus memastikan manfaat infrastruktur dapat masyarakat rasakan secara optimal.
Setelah pembangunan rampung, kawasan Kolam Retensi Amahami diharapkan mampu menjadi salah satu ruang publik baru sekaligus ikon Kota Bima. Infrastruktur tersebut juga menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat penanganan banjir sambil menghadirkan kawasan yang lebih tertata dan nyaman bagi masyarakat. (*)




