OpiniWARGA

Bersepeda dan Tanam Pohon: Untuk Kualitas Hidup Generasi dan Lingkungan Berkelanjutan

Oleh: Dr. Najamuddin Amy, S.Sos., MM.

Saya masih ingat betul pengalaman di Jepang. Jarak 1 kilometer saya tempuh dengan berjalan kaki, 2 kilometer dengan bersepeda, 3 kilometer naik mobil, dan sisanya baru menggunakan kendaraan umum. Kebiasaan itu bukan sekadar soal transportasi, tetapi sebuah disiplin yang membentuk kemandirian sejak dini. Di Sumbawa Besar, saya tumbuh dengan berjalan kaki ke sekolah—bukan hanya saat SD, bahkan hingga SMA. Pengaruhnya luar biasa: kemandirian, kesehatan, dan keseimbangan fisik menjadi modal hidup yang tak ternilai.

IKLAN

Sekarang, setelah 13 tahun tinggal di Kota Mataram, saya menyaksikan realitas yang berbeda. Setiap pagi, siang, dan sore hari, kemacetan menghantui kota kecil ini. Volume kendaraan yang meningkat drastis, berbarengan dengan jam jemputan sekolah dan pulang kantor, menciptakan hiruk-pikuk yang seharusnya bisa dihindari. Padahal, Mataram adalah kota yang kompak dan relatif kecil—sangat ideal untuk mobilitas aktif seperti berjalan kaki dan bersepeda.

Di tengah ancaman krisis energi global dan bumi yang semakin tua, kita tak punya banyak pilihan selain mengubah cara hidup. Saatnya kita berbicara serius tentang dua hal fundamental: bersepeda dan menanam pohon. Bukan sekadar gaya hidup, tetapi investasi untuk generasi mendatang.

IKLAN

Krisis Energi dan Momentum Perubahan

Tekanan global akibat gejolak harga minyak dunia dan ancaman krisis energi telah memaksa banyak pihak mengambil kebijakan baru. Pemerintah Kota Mataram, misalnya, mengambil langkah berani dengan memangkas belanja Bahan Bakar Minyak (BBM) kendaraan dinas hingga 50 persen pada tahun 2026 . Kebijakan ini tidak lahir dari ruang hampa, melainkan kebutuhan nyata untuk efisiensi.

IKLAN

Yang menarik, Pemerintah Kota Mataram memilih jalan tengah: mewajibkan pejabat menggunakan sepeda ke kantor, alih-alih menerapkan kerja dari rumah. Ini adalah kebijakan yang sarat makna. Sepeda bertransformasi dari sekadar alat rekreasi menjadi instrumen kebijakan publik. Sayangnya, kebijakan ini baru sebatas wacana dan belum sepenuhnya implementatif. Bahkan sejak saya tinggal di Mataram hampir 13 tahun, belum ada kebijakan afirmatif yang konsisten terkait bersepeda ke kantor atau ke sekolah.

Presiden Prabowo Subianto, untungnya, sejak awal telah menyadari pentingnya kemandirian energi. Arahan beliau untuk mengakselerasi hilirisasi sumber daya mineral dan optimalisasi energi nasional, termasuk pengembangan etanol dan biodiesel dari kelapa sawit serta transisi ke energi terbarukan, menunjukkan keseriusan pemerintah pusat dalam menghadapi tantangan energi global. Namun, kebijakan dari pusat perlu ditindaklanjuti dengan aksi nyata di daerah.

Belajar dari Kota-kota Ramah Sepeda Dunia

Dunia telah memberi kita banyak contoh keberhasilan membangun budaya bersepeda. Kopenhagen, ibu kota Denmark, dikenal sebagai kota terbaik untuk bersepeda di dunia. Sekitar 41 persen penduduknya menggunakan sepeda untuk mobilitas sehari-hari. Orang Denmark sangat sadar lingkungan, dan budaya bersepeda telah mengakar kuat dalam kehidupan mereka sejak kecil.

Amsterdam, kota sepeda dunia lainnya, memiliki jumlah sepeda yang melebihi jumlah penduduknya—sekitar 800.000 sepeda untuk 700.000 orang. Fasilitas jalur sepeda yang terintegrasi dengan tata ruang kota menjadi kunci keberhasilan mereka. Montreal di Kanada memiliki lebih dari 600 kilometer jalur sepeda khusus, dua kali lipat dari Kopenhagen. Mereka mengalokasikan anggaran besar setiap tahunnya untuk memelihara jalur sepeda, memastikan keamanan para pesepeda.

Negara-negara Skandinavia seperti Norwegia, Swedia, Denmark, dan Jerman memiliki jumlah pesepeda tertinggi di dunia. Mereka tidak hanya membangun infrastruktur, tetapi juga menciptakan budaya. Di kota-kota ini, jalan dirancang dengan mempertimbangkan keselamatan pesepeda, pengendara sepeda diajari aturan lalu lintas sejak sekolah, dan ada program edukasi rutin yang melibatkan kepolisian dan lembaga pendidikan.

Sepeda dan Kesehatan Generasi: Bukti Ilmiah yang Kuat

Tidak hanya ramah lingkungan, bersepeda ke sekolah memiliki dampak luar biasa bagi kesehatan anak. Penelitian yang diterbitkan dalam Scandinavian Journal of Medicine & Science in Sports tahun 2023, yang dilakukan oleh para peneliti dari University of Granada, menemukan bahwa mobilitas aktif ke dan dari sekolah dapat memenuhi hingga 48 persen dari kebutuhan aktivitas fisik harian yang direkomendasikan untuk anak-anak dan remaja.

Penelitian yang melibatkan lebih dari 7.000 anak usia 6-18 tahun ini menunjukkan bahwa perjalanan ke sekolah dengan berjalan kaki atau bersepeda menyumbang rata-rata 9 menit aktivitas fisik sedang hingga berat, sementara perjalanan pulang sekolah dapat menyumbang hingga 20 menit. Secara keseluruhan, kedua perjalanan ini menyumbang hampir setengah dari total kebutuhan aktivitas fisik harian yang direkomendasikan.

Lebih penting lagi, anak-anak yang membiasakan diri berjalan atau bersepeda ke sekolah cenderung mempertahankan gaya hidup aktif hingga dewasa. Penelitian ini langsung mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama SDG 3 tentang Kesehatan dan Kesejahteraan yang Baik, serta SDG 11 tentang Kota dan Komunitas Berkelanjutan.

Tantangan di Kota Mataram

Sayangnya, realitas di Mataram masih jauh dari ideal. Berdasarkan kajian teknis dan analisis kondisi wilayah yang dipaparkan Wali Kota Mataram dalam penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) 2025-2045, kemacetan lalu lintas di sejumlah ruas jalan, terutama pada jam masuk dan pulang sekolah maupun kantor, menjadi isu strategis nomor satu. Selain itu, ancaman banjir dan genangan akibat menurunnya kinerja drainase dan berkurangnya daerah resapan air juga menjadi masalah serius.

Kota Mataram saat ini masih menghadapi tantangan pemenuhan Ruang Terbuka Hijau (RTH) minimal 30 persen. Inilah titik temu antara dua isu: bersepeda dan penanaman pohon. Jalur sepeda yang teduh karena ditumbuhi pepohonan bukan hanya indah, tetapi juga fungsional untuk menekan suhu perkotaan dan menyerap karbon.

Pengamat Transportasi NTB, H. Rudi Razak, menekankan bahwa Pemerintah Kota Mataram seharusnya bisa menginisiasi penggunaan sepeda ke sekolah, terutama dengan sistem zonasi yang telah diterapkan. “Tempat tinggal mereka tentu tidak jauh dari sekolahnya, sehingga sepeda bisa jadi sarana transportasi yang tepat,” ujarnya. Namun, ia juga mengingatkan perlunya komitmen kuat antara Dinas Pemuda dan Olahraga, Dinas Pendidikan, dan Dinas Perhubungan untuk menyiapkan jalur sepeda yang aman bagi siswa.

Menanam Pohon: Investasi untuk 20 Tahun Mendatang

Uni Eropa melalui proyek 100KTREEs menyatakan dengan tegas: “We need to plant trees now to allow our children to enjoy their shade in 20 yearstime” (Kita perlu menanam pohon sekarang agar anak-anak kita bisa menikmati naungannya 20 tahun mendatang). Proyek yang melibatkan kota Kopenhagen dan Sofia ini mengembangkan perangkat pemetaan untuk mengoptimalkan penanaman pohon, serta memberikan nilai moneter pada atribut kunci pohon seperti penyerapan polusi, efek pendinginan, pengurangan kebisingan, pengurangan risiko banjir, dan peningkatan keanekaragaman hayati.

Di Mataram, upaya penanaman pohon dan penyediaan RTH menjadi bagian dari target pembangunan jangka panjang. Namun, yang diperlukan bukan sekadar target, melainkan komitmen yang melibatkan semua pihak. Setiap pejabat, setiap sekolah, setiap keluarga perlu terlibat dalam gerakan menanam pohon. Bukan untuk hari ini, tetapi untuk generasi yang akan menghadapi bumi yang semakin tua dan iklim yang semakin ekstrem. Di NTB, seperti baru Kabupaten Sumbawa yang sangat intens dalam gerakan Menanam Pohon ini. Kalau kita membuka jejak digital belum banyak pemda yang serius. Masih sekedar lip services dan seremonial semata. Belum berkelanjutan. Bahkan program eco office pun mandek.

Peran Pemimpin dan Pentingnya Keteladanan

Kebijakan publik tidak cukup dinilai dari logika efisiensi semata. Ada dimensi kemanusiaan yang harus diperhitungkan. Tidak semua pejabat memiliki kondisi yang sama—jarak tempuh, usia, kondisi fisik, faktor keamanan—sehingga kebijakan wajib sepeda perlu mempertimbangkan keadilan. Namun, di sisi lain, kebijakan ini memuat pesan simbolik yang kuat: ketika pejabat memilih bersepeda, ada teladan yang ditunjukkan kepada masyarakat. Ini adalah bentuk kepemimpinan moral yang relevan di tengah situasi ekonomi yang menuntut efisiensi bersama.

Pengalaman Jakarta menarik untuk dicermati. Dinas Perhubungan DKI Jakarta mewajibkan pegawainya bersepeda setiap hari Jumat. Kebijakan ini bukan sekadar imbauan, tetapi diatur dalam instruksi kepala dinas. Mereka bahkan membangun 103,5 kilometer jalur sepeda dan menargetkan 500 kilometer pada 2030. Hasilnya, Dishub menjadi “pemicu” bagi masyarakat untuk ikut menggunakan sepeda. Mereka juga memfasilitasi pegawai yang tidak memiliki sepeda dengan fasilitas bike sharing. Sayangnya, Jakarta belum memiliki kebijakan serupa yang melibatkan semua Organisasi Perangkat Daerah (OPD).

Keteladanan dari setiap level pimpinan menjadi kunci. Bukan sekadar lip service dan menggugurkan administrasi. Komitmen yang nyata dan berkelanjutan—itulah yang dibutuhkan.

Arah Baru: Dari Olahraga Prestasi ke Olahraga Kebiasaan

Selama ini, perhatian pemerintah seringkali terfokus pada olahraga prestasi: membina atlet, membangun stadion, mengirim kontingen ke berbagai kejuaraan. Tentu itu penting. Namun, olahraga kebiasaan—seperti jalan kaki, bersepeda, dan permainan rakyat—justru menyehatkan semua rakyat. Bukan hanya atlet yang bugar, tetapi seluruh lapisan masyarakat.

Maka, seluruh indikator pembangunan daerah yang non-infrastruktur perlu disiapkan untuk generasi ke depan. Bukan hanya soal pembangunan fisik, tetapi pembangunan manusia yang sehat, mandiri, dan tangguh. Saat ini, saya mencoba melihat seluruh indikator pembangunan daerah dari perspektif ini. Apa yang sudah dilakukan untuk mempersiapkan generasi yang mampu menghadapi segala kondisi di masa depan?

Rekomendasi dan Harapan

Untuk mewujudkan visi ini, ada beberapa langkah konkret yang bisa dilakukan:

Pertama, perkuat infrastruktur ramah sepeda dan pejalan kaki Berdasarkan studi Stockholm Environment Institute tentang mobilitas aktif di kota-kota Indonesia, infrastruktur untuk mobilitas aktif di Medan—dan dapat diasumsikan juga di banyak kota lain—masih tidak memadai. Jaringan pejalan kaki dan jalur sepeda terfragmentasi, dan koneksi ke lokasi penting seperti sekolah serta ruang publik masih buruk. Mataram perlu belajar dari pengalaman ini. Jalur sepeda yang aman, terintegrasi dengan kawasan pendidikan dan perkantoran, menjadi keharusan.

Kedua, buat kebijakan afirmatif yang konsisten. Tidak hanya untuk pejabat, tetapi juga untuk pelajar. Sistem zonasi yang telah diterapkan adalah peluang emas untuk mendorong siswa bersepeda ke sekolah . Pemerintah Kota Mataram dan Pemerintah Provinsi NTB perlu duduk bersama, melibatkan Dinas Perhubungan, Dinas Pendidikan, dan Dinas Pemuda dan Olahraga, untuk merumuskan kebijakan yang komprehensif.

Ketiga, jadikan keteladanan sebagai budaya. Setiap level pimpinan—dari wali kota, camat, lurah, kepala dinas, hingga kepala sekolah—harus mau dan mampu menjadi role model. Ketika pemimpin terlihat mengayuh sepeda ke kantor atau ke acara resmi, pesan yang disampaikan jauh lebih kuat daripada seribu kata-kata.

Keempat, galakkan gerakan menanam pohon secara masif. Libatkan sekolah-sekolah, komunitas, dan dunia usaha. Pohon yang ditanam hari ini adalah warisan untuk anak cucu. Seperti yang diingatkan proyek 100KTREEs, pohon yang ditanam sekarang akan memberikan keteduhan dalam 20 tahun. Jangan tunda lagi.

Kelima, ubah paradigma dari sekadar olahraga prestasi ke olahraga kebiasaan. Bangun kembali permainan rakyat, biasakan jalan kaki, jadikan bersepeda sebagai gaya hidup. Ini bukan hanya soal kesehatan fisik, tetapi juga membangun kemandirian dan kesadaran ekologis sejak dini.

Penutup

Bumi saat ini sudah tua. Generasi muda perlu diajar menanam pohon, berjalan kaki, bersepeda, dan memiliki ketangkasan hidup. Mereka harus disiapkan menghadapi segala kondisi di masa depan. Ini bukan sekadar urusan teknis transportasi atau penghijauan, tetapi urusan fundamental tentang bagaimana kita menyiapkan peradaban.

Kadang, yang dibutuhkan adalah sentuhan kecil namun serius dari atasan. Komitmen menjadi penting dan sangat berpengaruh. Ketika Presiden Prabowo berbicara tentang kemandirian energi, itu adalah panggilan bagi kita semua untuk melakukan perubahan dari hal-hal kecil di sekitar kita. Ketika Wali Kota Mataram merancang RTRW hingga 2045, itu adalah kesempatan untuk menata ulang kota yang lebih manusiawi dan berkelanjutan.

Marilah kita mulai dari diri sendiri. Dari sepeda yang kita kayuh. Dari pohon yang kita tanam. Dari kebiasaan yang kita wariskan. Karena pada akhirnya, generasi yang akan datang tidak hanya mewarisi infrastruktur, tetapi juga mewarisi cara berpikir, cara hidup, dan keberanian untuk berubah. Bersepeda dan menanam pohon adalah dua gerakan sederhana yang bisa menjadi fondasi bagi masa depan yang lebih baik—untuk generasi, untuk lingkungan, dan untuk bumi yang kita cintai bersama. (Drna76).

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button