Oleh: Miptahudin Khairi – Wasekwil Lakpesdam NU NTB & Direktur CEIS
Di era modern, pendidikan Islam tidak lagi sekadar soal transfer ilmu dan pembentukan moral. Sebagaimana dicatat oleh penelitian Yanwar Pribadi (2019) (dikutip dalam Cambridge University Press).
“Islamic schools in Indonesia function not only as sites of education but as symbols of urban Muslim identity, reflecting the aspirations and religious ideals of the middle class”.
Pernyataan ini menegaskan bahwa sekolah Islam telah menjadi arena simbolik bagi masyarakat Muslim untuk menegaskan identitas, aspirasi, dan nilai-nilai religius mereka.
Fenomena ini awalnya banyak diamati di kota-kota besar seperti Serang, Jakarta, atau Bandung, tetapi tren serupa kini mulai terlihat di Pulau Lombok.
Transformasi Lanskap Pendidikan Islam di Lombok
Tradisi pesantren telah lama menjadi pilar pendidikan Islam di Lombok. Pesantren tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga berfungsi sebagai penjaga tradisi dan budaya lokal masyarakat Sasak.
Namun dalam beberapa dekade terakhir, muncul Sekolah Islam Modern dan Terpadu yang menggabungkan kurikulum umum dan pendidikan agama secara intensif.
Sekolah-sekolah ini tidak hanya menyediakan fasilitas pendidikan yang lebih formal dan terstruktur, tetapi juga menawarkan cara baru bagi keluarga Muslim untuk menegaskan identitas keagamaan anak mereka.
Pilihan sekolah semacam ini bukan semata-mata soal kualitas akademik atau metode pengajaran modern. Lebih dari itu, sekolah Islam modern dipandang sebagai medium simbolik di mana orang tua dapat memperagakan interpretasi mereka terhadap Islam yang dianggap otentik dan sesuai zaman. Sebagaimana dicatat Pribadi (2019),
“These schools are arenas where parents negotiate and perform their religious ideals, often in response to the perceived challenges of modern urban life.”
Di Lombok, fenomena ini semakin mengemuka. Beberapa sekolah Islam menawarkan kegiatan intensif seperti hafalan Qur’an, pengajian harian, pendidikan akhlak, hingga aktivitas sosial keagamaan sebagai bagian dari kurikulum inti.
Model ini menarik bagi keluarga kelas menengah Muslim yang ingin anaknya memiliki identitas keagamaan yang kuat sekaligus siap menghadapi dunia modern.
Identitas, Status Sosial, dan Aspirasi Kelas Menengah
Sekolah Islam modern di Lombok mencerminkan pergeseran lanskap sosial yang luar. Pendidikan Islam kini tidak hanya soal ilmu dan nilai agama, tetapi juga tentang satatus sosial dan aspirasi kelas menengah Muslim baru di Lombok.
Sekolah menjadi panggung di mana orang tua dapat menunjukkan kepedulian mereka terhadap agama, sekaligus menegaskan posisi sosial mereka melalui akses pendidikan yang dianggap berkualitas dan religius.
Dinamika ini juga memunculkan interaksi kompleks antara sekolah Islam modern dan pesantren tradisional. Beberapa pesantren beradaptasi dengan menambahkan kurikulum formal atau kerja sama dengan sekolah-sekolah modern, sementara yang lain tetap mempertahankan metode klasik.
Adaptasi ini menunjukkan bahwa pendidikan Islam di Lombok sedang melalui fase pluralisasi dan diverifikasi, di mana tradisi lokal bertemu dengan modernitas dan simbol modernitas diproduksi melalui berbagai jalur pendidikan.
Munculnya sekolah Islam modern di Lombok membuka pertanyaan penting: apakah tren ini akan memperkuat pesantren tradisional dengan menyediakan jalur alternatif bagi pendidikan Islam, atau justru mengurangi peran pesantren sebagai komunitas dan budaya islam lokal? Fenomena ini menunjukkan bahwa sekolah Islam bukan lagi hanya tempat belajar, tetapi simbol sosial yang menegaskan identitas sosial, aspirasi, dan identitas keagamaan masyarakat muslim di Lombok.
Selain itu, tantangan berikutnya adalah menjaga keseimbangan antara inovasi pendidikan modern dan kelestarian pesantren tradisional sebagai sumber budaya dan identitas lokal.
Pendidikan Islam modern memiliki potensi besar untuk mempersiapkan generasi muda menghadapi dunia global, tetapi tanpa perhatian terhadap akar tradisi, simbol identitas lokal dapat mengalami erosi. (*)



