Kesehatan

Cakupan Imunisasi Rendah, 985 Anak di Tiga Wilayah NTB Terjangkit Suspek Campak

Mataram (NTBSatu) – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), melalui Dinas Kesehatan (Dinkes), melaporkan situasi terkini Kejadian Luar Biasa (KLB) suspek campak.

Situasi ini melanda beberapa wilayah di NTB, yaitu Kabupaten Bima, Kota Bima, dan Kabupaten Dompu. Hingga minggu ketujuh tahun 2026, tercatat total 987 kasus suspek di wilayah tersebut.

IKLAN

Kepala Dinas Kesehatan NTB,  Dr. dr. H. Lalu Hamzi Fikri, MM., MARS, melalui rilisnya mengungkapkan beberapa faktor, yang mempengaruhi peningkatan kasus campak.

IKLAN

“Peningkatan kasus dipengaruhi oleh beberapa faktor. Antara lain masih adanya kelompok anak yang belum mendapatkan imunisasi campak-rubela (MR) lengkap,” kata Lalu Hamzi dalam keterangan tertulisnya kepada NTBSatu pada Minggu, 8 Maret 2026.

IKLAN

Berdasarkan analisis data, dalam beberapa tahun belakangan, fluktuasi cakupan imunisasi rutin yang tidak optimal, memicu akumulasi populasi rentan.

Kasus didominasi oleh anak Bawah Lima Tahun (Balita). Sebagian besar pasien juga memiliki status imunisasi tidak lengkap, bahkan tidak pernah sama sekali.

Selain faktor metabolisme, pemicu penularan lainnya adalah karena tingginya mobilitas penduduk, dan keterlambatan deteksi dini. Kondisi ini semakin buruk dengan faktor lingkungan dan perilaku masyarakat.

“Hal ini menunjukkan bahwa rendahnya cakupan imunisasi menjadi faktor risiko utama terjadinya KLB,” lanjutnya.

Respons Medis dan Penguatan Surveilans

Adanya situasi ini membuat Pemprov NTB, melalui Dinas Kesehatan NTB, bersama Pemerintah Kabupaten/Kota, melakukan surveilans aktif, serta pelacakan kontak hingga tingkat desa.

Selain itu, pemerintah semakin menggencarkan pelaksanaan Outbreak Response Immunization (ORI) di seluruh wilayah terdampak, dengan memprioritaskan bayi dan balita usia 9 hingga 59 bulan.

Langkah penanganan di fasilitas pelayanan kesehatan, fokus pada pencegahan komplikasi dan menurunkan risiko kematian, dengan pemberian Vitamin A.

Sedangkan untuk memastikan pemisahan cepat antara pasien suspek dan umum di IGD dan rawat jalan, perlu melakukan protokol triase isolasi yang lebih ketat.

Beban Campak Indonesia

Kondisi di NTB menjadi alarm serius, mengingat posisi Indonesia yang saat ini menempati posisi kedua, untuk kasus campak.

Lonjakan di wilayah timur Pulau Sumbawa, menunjukkan tantangan nasional dalam mengejar ketertinggalan cakupan imunisasi.

Tanpa akselerasi imunisasi dasar yang merata, risiko kemunculan KLB serupa di daerah lain akan meningkat juga, dan menjadi ancaman kesehatan publik.

Dinas Kesehatan NTB memastikan akan terus melakukan monitoring, dan evaluasi berkala, hingga situasi benar-benar terkendali.

“Masyarakat kami imbau tetap tenang namun waspada. Tetap berperan aktif dalam memastikan anak mendapatkan imunisasi lengkap sesuai jadwal guna memutus rantai penularan campak,” pungkasnya. (Inda)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button