Siswi SD di Lombok Barat yang Enggan Masuk Usai Gagal Nikah Kini Kembali Bersekolah
Lombok Barat (NTBSatu) – Seorang siswi SD di Lombok Barat yang sempat tidak mau melanjutkan sekolah akibat gagal menikah, akhirnya kembali bersekolah. Hal ini setelah mendapat pendampingan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) bersama Dinas Sosial dan tim Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA).
Kepala Bidang SD Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lombok Barat, Henry Murdianti, S.Ag., menjelaskan, penanganan kasus tersebut melalui kerja lintas sektor.
“Waktu kami turun, ada dua tim. Kami dari Dikbud fokus agar anak ini tidak putus sekolah. Sementara, dari Dinas Sosial melalui tim PPA memberikan pendampingan psikologis,” ujarnya, Selasa, 10 Februari 2026.
Dalam proses komunikasi, Heny menuturkan, anak tersebut sebenarnya memiliki keinginan kuat untuk tetap bersekolah. Ia mengaku senang belajar dan ingin mengikuti ujian bersama teman-temannya. Sikap anak yang kooperatif tersebut menjadi titik awal penyelesaian persoalan.
“Anaknya menyampaikan sendiri kalau dia senang sekolah dan mau melanjutkan. Itu yang menjadi fokus kami, memastikan dia tetap berada di jalur pendidikan,” jelasnya.
Setelah adanya kesepahaman dengan anak, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lombok Barat kemudian berkoordinasi dengan sekolah. Pihak sekolah, kata Heny, bersikap terbuka dan menerima kembali siswa tersebut tanpa hambatan.
“Begitu sekolah menyatakan siap menerima dan anaknya mau kembali belajar, maka dari sisi pendidikan kami anggap persoalan sudah selesai,” katanya.
Adapun pendampingan lanjutan terkait kondisi psikologis anak dan keluarganya sepenuhnya Dinas Sosial tangani. Dalam pembagian peran tersebut, pihaknya fokus pada keberlanjutan pendidikan anak, sementara Dinas Sosial mendampingi aspek non-akademik.
Heny juga mengungkapkan, dalam proses pendampingan, ia lebih menekankan pada pemberian motivasi dan gambaran masa depan kepada anak. Menurutnya, anak masih memiliki kesempatan luas untuk berkembang jika tetap mengenyam pendidikan.
“Saya sampaikan bahwa dia masih kecil, masih punya masa depan. Kalau sekolah, dia bisa dapat ijazah, bisa lanjut ke jenjang lebih tinggi, bahkan ke pesantren. Saya arahkan ke sana,” tuturnya.



