Dari Limbah Pantai ke Pasar Asia, Cerita Baiq Andrea Sulap Kerang dan Kain Perca Jadi Cuan Lewat Pasar Digital
Bekerja di kapal pesiar dengan segala kemewahannya pernah jadi keseharian Baiq Andrea (37). Namun, hantaman pandemi Covid-19 membuatnya harus menerima kenyataan pahit terkena PHK. Bagaimana akhirnya Baiq Andrea bisa bangkit?
———————
Kehilangan pekerjaan justru menjadi titik balik bagi perempuan asal Beleka, Praya Timur, Lombok Tengah ini untuk pulang dan membangun bisnisnya sendiri dari nol. Lewat brand yang ia beri nama ‘Local Corner’, Andrea membuktikan kalau barang yang dianggap sepele seperti limbah pantai dan kain perca bisa tembus pasar ekspor.
Pulang Kampung Memanfaatkan Kain
Perjalanan Andrea tidak langsung berjalan mulus. Saat masih berdomisili di Labuan Bajo, ia sempat mencoba berjualan masker kain, namun terbentur masalah minimnya variasi kain tenun NTT yang harganya terjangkau. Keterbatasan ini justru memicu kreativitasnya ketika pulang ke Lombok pada tahun 2020 silam.
Ia mendapatkan inspirasi saat melihat hamparan kerang di Pantai Kuta. Andrea berpikir, selama ini oleh-oleh khas Lombok selalu identik dengan mutiara, yang memiliki harga yang relatif mahal dan sulit dijangkau oleh semua kalangan, termasuk anak sekolah.
Dari sanalah, akhirnya muncul ide untuk mengolah kerang-kerang pantai yang berserakan menjadi aksesoris cantik yang murah namun tetap punya nilai seni.
“Mutiara itu kalau kualitasnya bagus harganya pasti mahal. Saya mikir, ada tidak ya produk yang murah dan terjangkau yang bisa dibeli anak-anak sekolah untuk oleh-oleh? Pas saya lihat banyak kerang berserakan di Pantai Kuta, saya langsung terpikir untuk memanfaatkan itu,” cerita Andrea, Kamis, 22 Januari 2026.
Setelah memutuskan pulang dan menetap di Beleke, Praya Timur, inovasi Andrea semakin berkembang. Ia tidak hanya mengandalkan kerang, tapi juga memanfaatkan tumpukan kain perca etnik milik ibunya yang merupakan mantan penjahit. Kain-kain tradisional sisa yang tak terpakai itu ia daur ulang dan dipadukan dengan kerang serta anyaman ketak.
Kemudian lahirlah ragam aksesoris handmade unik, mulai dari anting, gelang, kalung dan tas. “Kain sisa milik ibu saya modifikasi, saya campur dengan bahan alam. Ternyata hasilnya punya nilai seni tinggi dan banyak yang suka,” tambahnya.
Inovasi ini ternyata meledak di pasaran, hingga akhirnya ia memberdayakan 10 orang ibu-ibu di sekitar rumahnya untuk membantu produksi agar tetangganya juga bisa memiliki penghasilan tambahan tanpa harus jauh dari keluarga.
“Saya ingin usaha ini bukan cuma soal keuntungan pribadi. Saya bilang ke ibu-ibu di sini, ‘ayo kita belajar bareng’. Sekarang, mereka sudah mahir membantu proses produksi. Rasanya bangga melihat mereka punya penghasilan tambahan tanpa harus jauh dari rumah,” ungkapnya.
Menembus Batas Negara
Andrea fokus membangun reputasi di Shopee selama lima tahun terakhir. Melalui program Layanan Ekspor Shopee, produk buatan tangan dari Desa Beleka ini berhasil menembus batas negara dan rutin terbang ke Singapura, Malaysia, Vietnam, hingga Thailand. Andrea merasa sistem digital sangat memudahkan UMKM kecil sepertinya untuk go internasional tanpa harus pusing dengan urusan logistik yang rumit.
Kini, pesanan yang masuk ke Local Corner seringkali mencapai 1.000 aksesoris dalam sekali waktu. Dengan harga yang sangat merakyat, mulai dari Rp8 ribu hingga Rp25 ribu untuk aksesoris kecil, serta Rp60 ribu hingga Rp300 ribu untuk tas ketak, Andrea mampu mengelola ekosistem bisnis yang sehat.
Dari penjualan produk-produk kecil saja, ia mengantongi omzet Rp2 juta hingga Rp3 juta per bulannya. Sementara untuk penghasilan bulanan dari tas ketak berada pada kisaran Rp15 juta hingga Rp20 juta.
“Rasanya senang sekali, produk yang awalnya dari limbah pantai dan kain perca sekarang punya pelanggan tetap di luar negeri. Shopee benar-benar jadi jembatan buat kami untuk promosi tanpa batas,” tutupnya. (*)



