Lonjakan Sampah SPPG Capai 300 Kilogram per Hari, DLH Kota Mataram Soroti Kepatuhan Pengolahan Masih Minim
Mataram (NTBSatu) – Program Sistem Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kota Mataram, mulai memunculkan persoalan baru. Di tengah upaya pemenuhan gizi, lonjakan produksi sampah dari SPPG justru berpotensi membebani sistem pengelolaan sampah kota.
Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram, setiap SPPG menghasilkan 100 hingga 300 kilogram sampah per hari.
Saat ini, terdapat 48 SPPG yang beroperasi di Kota Mataram dan proyeksinya jumlah tersebut akan meningkat hingga 70 bahkan 100 unit. Jika tidak dikendalikan, akumulasi sampah dari aktivitas ini dinilai bisa memperparah kondisi lingkungan.
Kepala Bidang Tata Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram, Salikin mengakui, kepatuhan pengelola SPPG terhadap kewajiban pengolahan sampah masih rendah. Meskipun, pemerintah sudah memfasilitasi melalui nota kesepahaman (MoU).
“Kami sudah paparkan konsepnya, sudah ada MoU, tapi pada kenyataannya masih ada yang belum menjalankan,” kata Salikin, Jumat, 9 Januari 2026.
DLH sebelumnya telah mengumpulkan seluruh pengelola SPPG di TPST Sandubaya dan mewajibkan mereka melakukan pemilahan dan pengolahan sampah secara mandiri.
Pemilahan tidak hanya sebatas organik dan anorganik, tetapi juga mencakup sampah bernilai ekonomi dan residu yang benar-benar tidak bisa diolah.
Namun, dari seluruh SPPG yang beroperasi, baru sekitar 10 persen yang benar-benar bekerja sama dan menjalankan pengelolaan sampah sesuai ketentuan.
“Kami menargetkan hanya 20 persen sampah SPPG yang ditangani oleh pemerintah kota. Sisanya seharusnya dikelola sendiri oleh SPPG, terutama sampah organik basah,” ujarnya.
DLH mendorong, agar pemanfaatan sampah organik sebagai pakan maggot atau menyalurkannya ke peternak, seperti peternak unggas dan babi. Sayangnya, tidak semua SPPG konsisten menerapkan pola tersebut.
Kondisi ini membuat DLH Kota Mataram berada pada posisi dilematis. Di satu sisi, program SPPG mendukung pemenuhan gizi masyarakat. Namun di sisi lain, ketidakpatuhan pengelola berisiko memindahkan beban pengelolaan sampah ke pemerintah daerah.
“Kalau ini tidak dikendalikan dari sumbernya, maka yang terbebani tetap kota,” tegas Salikin.
Timbulan Sampah Makanan SPPG
Data terbaru dari SPPG Selaparang–Rembiga mencatat, timbulan food waste menu basah cukup besar. Sisa nasi mencapai 4,80 kilogram, sayur 22,88 kilogram, tulang ayam 10,98 kilogram, dan tahu 1,56 kilogram. Sementara itu, menu kering tidak menghasilkan sisa makanan.
Kepala SPPG Selaparang–Rembiga, I Gede Artana Putra mengakui, menu basah masih mendominasi limbah makanan. “Iya, food waste ada di menu basah. Kalau menu kering tidak ada food waste,” ujar Artana.
Ia menyebut, pengelola dapur telah melakukan langkah terbatas untuk mengurangi dampak sampah MBG. Salah satunya, melalui kerja sama dengan DLH Kota Mataram dan peternak lokal.
“Kami kan kerja sama dengan DLH untuk pengangkutan sampahnya. Selain itu, ada juga peternak lokal yang mengambil sisa makanan untuk pakan ternak,” katanya.
Namun, langkah tersebut belum cukup menjawab persoalan pengelolaan sampah MBG secara menyeluruh. Berdasarkan estimasi pusat, food waste MBG berkisar 25–50 gram per siswa per hari.
Dengan asumsi satu dapur melayani sekitar 3.000 siswa, perkiraannya timbulan sampah organik mencapai 75 hingga 150 kilogram per hari dari satu dapur. Angka tersebut berpotensi menambah beban sistem persampahan Kota Mataram yang hingga kini masih berada dalam kondisi darurat. (*)



