BREAKING NEWS

BREAKING NEWS – Dalang Wayang Sasak Legendaris Lalu Nasib AR Wafat

Mataram (NTBSatu) – Dunia seni dan budaya Sasak berduka. Maestro wayang kulit Sasak, H. Lalu Nasib AR, tutup usia pada Jumat, 29 Agustus 2025, di rumahnya di Lingkungan Prigi, Kecamatan Gerung, Lombok Barat.

Kabar duka ini disampaikan oleh keluarga besar Almarhum dan sejumlah budayawan dan tokoh politik, juga membenarkan kabar tersebut.

“Semoga Allah SWT memuliakan dan mengampuni segala khilaf serta kesalahannya,” ujar Gubernur NTB 2018-2023, Zulkieflimansyah dalam postingan Facebooknya, Jumat, 29 Agustus 2025.

Sementara itu dari pihak keluarga juga mengumumkan terkait prosesi pemakaman sang maestro.

“Telah berpulang ke rahmatullah H. Lalu Nasib AR, suami tercinta dari Hajjah RR Endang Hartaningsih dan Ibu Nursinah, pada hari Jumat, 29 Agustus 2025 sekitar pukul 12.30 Wita di rumah duka Lingkungan Perigi, Gerung Selatan, Kecamatan Gerung, Lombok Barat. Sehubungan dengan itu, keluarga besar almarhum mengundang Bapak/Ibu/Saudara untuk menghadiri rangkaian prosesi,” tulis perwakilan keluarga, Lalu Nurahman.

IKLAN

Pelaksanaan Salat jenazah pada hari Sabtu, 30 Agustus 2025 pukul 11.00 Wita di Masjid Miftahurrahmah Lingkungan Perigi. Selanjutnya, pemakaman akan dilaksanakan pada hari yang sama, Sabtu, 30 Agustus 2025 pukul 16.00 Wita (ba’da Ashar) di Pemakaman Umum Gode Gerung.

Awal Kehidupan dan Kecintaan pada Wayang

Lalu Nasib lahir sebagai putra semata pasangan Lalu Aruman dan Baiq Mustiar. Sejak kecil, ia sudah menunjukkan kecintaannya pada wayang. Saat duduk di kelas 5 Sekolah Rakyat (SR) tahun 1957, ia bersama teman-temannya membuat wayang-wayangan dari kardus bekas.

Meski tidak memiliki guru, Lalu Nasib mampu menghafal cerita-cerita wayang yang sering ia saksikan di lapangan desa. Ia belajar mendalang secara otodidak dengan daya ingat yang kuat.

Filosofi yang selalu ia pegang, “Wayang ditentukan oleh dalang, sementara nasib ditentukan oleh Tuhan.”

Namun, kedua orang tuanya sempat kurang berkenan jika putra semata wayangnya menekuni profesi dalang. Untuk menjauhkannya dari dunia pedalangan, mereka bahkan mengirimnya ke Sekolah Pelayaran Ampenan setelah tamat SR.

IKLAN

Karier Panjang di Dunia Pedalangan

Cinta terhadap wayang tak pernah padam. Setelah melalui perjalanan panjang, Lalu Nasib memulai karier profesionalnya sebagai dalang wayang kulit pada 1969. Gayanya yang khas penuh humor, komunikatif, serta menggunakan bahasa Sasak dan Indonesia membuat pertunjukannya mudah orang memahaminya, merakyat, dan selalu orang nanti.

Selama lebih dari 55 tahun berkarya, ia tak hanya melestarikan wayang Sasak, tetapi juga menghadirkan inovasi. Ia berani memasukkan unsur modern, dari cidomo hingga pesawat antariksa Apollo, ke dalam pakelirannya.

Ia juga menciptakan tokoh-tokoh lokal seperti Rerencek, Punakawan, Inak Ocong, Amak Ocong, Amak Amat, Amak Baok, hingga Inak Etet yang sangat dekat dengan kehidupan rakyat kecil.

Penghargaan dan Pengakuan

Dedikasinya terhadap seni tradisi mendapat apresiasi di tingkat nasional. Pada 1981, ia menerima penghargaan dari Bina Graha di era Presiden Suharto berkat kiprahnya melestarikan dan mengembangkan wayang Sasak.

Sebagai dalang, Lalu Nasib dikenal bukan hanya penghibur, tetapi juga penyampai pesan moral dan kritik sosial. Ia rajin membaca koran, mendengarkan radio, serta berdiskusi dengan banyak kalangan untuk memperkaya lakon yang ia bawakan.

Meski era televisi dan media sosial mendominasi, pesona pertunjukan Lalu Nasib tetap bertahan. Ia berhasil menjaga eksistensi wayang Sasak dengan sentuhan modern tanpa meninggalkan pakem aslinya.

Namanya kini tercatat sebagai salah satu ikon budaya Lombok dan NTB, yang bukan hanya dikenal di panggung seni lokal, tetapi juga diperhitungkan di kancah nasional.

“Hanya satu yang selalu saya ingat, untuk menjadikan pertunjukan wayang sebagai tontonan dan tuntunan bagi masyarakat,” ujarnya dalam sebuah kesempatan. (*)

Berita Terkait

Back to top button