Distanbun NTB Jawab Tuntutan Mahasiswa Terkait Anjloknya Harga Bawang Merah
Mataram (NTBSatu) – Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Provinsi NTB menerima dan mendengarkan aspirasi dari mahasiswa yang tergabung dalam Forum Komunikasi Pelajar Mahasiswa Ncera, Diha, Soki (FKP-Macerdas) Mataram, terkait harga pembelian komoditi bawang merah yang anjlok di tingkat petani saat ini.
Adapun dari beberapa perwakilan massa menekankan dan sangat mengharapkan peran pemerintah dalam memberikan solusi kepada petani terkait permasalahan harga bawang merah yang selalu anjlok tiap tahunnya.
Menanggapi hal itu, Sekretaris Distanbun NTB, Ni Nyoman Darmilaswati menyampaikan, pemerintah sejauh ini terus aktif memantau kondisi harga bawang merah ditingkat petani.
“Secara terus menerus harga bawang merah dilaporkan kepada kami oleh petugas kami yang ada ditingkat kecamatan,” katanya, 23 Oktober 2023.
Ia mengakui, petugasnya selalu aktif memonitor naik turunnya harga bawang merah dan komoditi pertanian lainnya.
Berita Terkini:
- Gratifikasi DPRD NTB: Tiga Tersangka Segera Disidang, 15 Dewan Terancam
- Kejati NTB Telusuri Aliran Uang TPPU Kasus Pembelian Lahan Samota
- 73.706 Anak Tercatat Putus Sekolah, Pemprov NTB Dorong Sistem Peringatan Dini Hingga Bantuan Insidental
- Banjir Empang Jadi Alarm Kerusakan Alam, Bupati Jarot Soroti Hutan Gundul dan Sungai Menyempit
Walaupun pada dasarnya tupoksi dari Distanbun Provinsi NTB sebenarnya hanya fokus dalam peningkatan dan penstabilan hasil produksi yang ada disetiap komoditi pertanian maupun perkebunan.
Namun ia mengaku, pihaknya tetap memantau terkait harga tersebut. Terbaru, Pemprov NTB sudah melakukan MoU terkait kesepakatan harga dengan provinsi lain seperti Provinsi Jawa Timur.
“Jawa Timur juga sebagai penghasil bawang merah yang tertuang pada sebuah MoU untuk penetapan harga bawang merah ditingkat nasional,” jelasnya.
Ia menjelaskan, harga hari ini tidak bisa dijadikan acuan yang baku untuk harga pembelian pada saat ini. Karena dari hasil pemantauan Distanbun NTB, harga bawang merah ditingkat petani sangat cepat berubah, 3-4 hari bisa jadi harganya naik atau bahkan turun secara drastis.
“Ini karena ada beberapa permainan pada tingkat pengepul di lapangan akibat panen raya. Karena kejadian seperti ini terus berulang, kami mengharapkan petani juga tidak terbawa suasana maupun panik dengan keadaan tersebut,” imbuhnya.
Hal ini, lanjutnya, menjadi peran bersama semua pihak, baik lingkup Pemprov, kabupaten, kecamatan, serta adik-adik mahasiswa dan lembaga sosial masyarakat untuk membantu petani dalam mengupdate harga bawang merah baik ditingkat petani maupun nasional.
“Dengan memberikan informasi harga yang terupdate paling tidak bisa memberikan informasi yang valid kepada petani. Sehingga petani tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan saat menjual,” tutupnya. (MYM)



