Advertorial

Kedutaan Polandia Tinjau Progres Pembangunan PLTU Sambelia

Mataram (NTB Satu) – Setelah berkunjung tahun 2019 lalu, Perwakilan Kedutaan Polandia di Indonesia, Piotr Firlus kembali menyambangi proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang dibangun oleh PLN (Persero) di Sambelia untuk melihat sejauh mana perkembangan investasi yang telah dikucurkan sejak tahun 2018.

Sebelum kunjungannya ke Lombok, Perwakilan Kedutaan Polandia terlebih dahulu mengunjungi Dirut PLN dan Dirjen Ketenagalistrikan di Jakarta.

Dalam kunjungan keduanya ini, Piotr Firlus menyempatkan bertemu dengan Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah sebelum singgah ke kantor PLN UIP Nusa Tenggara untuk mendengarkan  pencapaian progres proyek serta kendala yang dihadapi paska pandemi Covid-19.

“Kunjungan ini sangatlah penting untuk merberikan suntikan semangat kepada rekanan pelaksana konstruksi paska Pandemi Covid-19, selain untuk menjaga kepercayaan antara PLN dan Polandia sebagai Investor kami,” tutur Wahidin,  General Manager PLN UIP Nusa Tenggara.

Progres pembangunan saat ini mencapai 80%. Penyelesaian PLTU FTP-2 ini otomatis menjadi konsen utama PLN untuk menjaga kehandalan sistem kelistrikan Lombok.

Melalui kerjasama bilateral yang terjadi, proses alih teknologi dan perkembangan ilmu pengetahuan tentang konstruksi dan sistem pembangkit listrik, proyek ini direncanakan menggunakan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) melebihi 40% atau di atas standar yang ditetapkan pemerintah, serta tenaga kerjal lokal yang terlibat mencapai 95% dari keseluruhan proses pembangunan.

“Proyek ini adalah hasil kolaborasi bilateral G to G pemerintah Indonesia dengan pemerintah Polandia, dengan banyaknya kendala yang dihadapi terutama pandemi Covid-19, kami melalui Rafako SA (perusahaan Polandia), tetap berkomitmen untuk menyelesaikan proyek ini sesuai dengan target waktu yang telah diberikan oleh PLN” ungkapnya.

“Dan sebagai salah satu upaya pemenuhan komitmen negara-negara G20, pembangkit kami telah menerapkan teknologi rendah karbon sehingga emisi pembangkit kami lebih rendah dari standart regulasi pemerintah Indonesia” tambahnya.

Pasca pandemi Covid-19, perkembangan proyek PLTU FTP-2 ini tampak lesu dikarenakan hantaman isu komersial hampir diseluruh sektor perekonomian tak terkecuali konsorsium Rekayasa Industri (Indonesia) – Rafako SA (Polandia) sebagai pelaksana proyek.

PLN mengajak seluruh pihak yang terlibat untuk berkomitmen mengupayakan yang terbaik untuk menghadapi permasalahan -permasalahan yang terjadi sehingga proyek ini bisa segera diselesaikan.

“Kami optimis pembangkit ini akan COD pada pertengahan tahun 2023 untuk dua unit, namun kami akan tetap mengusahakan agar akhir tahun 2022 bisa masuk sistem untuk 1 unit dengan kapasitas 50 MW, tentunya kami butuh dukungan dan doa dari masyarakat NTB,’’ harap Wahidin.(ABG)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button