Sopir Pimpinan Ponpes Abul Barokat Disebut Terlibat Kasus Dugaan Pelecehan Seksual
Mataram (NTBSatu) – Lembaga Perlindungan Anak (LPA) berancang-ancang akan melaporkan seorang pria inisial M. Ia merupakan sopir mantan pimpinan Ponpes Abul Barokat Wannafahat Bunkate, Lombok Tengah, M. Imanuddin Sumar.
Laporan itu berkaitan dengan dugaan pelecehan seksual terhadap sejumlah santriwati di pondok pesantren. Para korban kini sudah menjadi alumni.
Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Mataram, M ketika insiden tersebut menjadi ustaz Ponpes Abul Barokat Wannafahat Bunkate. “Jadi, ada dugaan pencabulan terhadap empat santriwati,” ujarnya, Rabu, 30 September 2026.
Joko menyebut, M melancarkan aksinya dengan modus melatih bela diri. Di mana ketika mengajarkan santriwati, ia sengaja menyentuh bagian sensitif korban. “Jadi, selain korban tuan guru, ada juga yang jadi korban M,” beber Joko.
Kendati demikian, LPA Kota Mataram fokus pada laporan yang menyeret Imanuddin Sumar. Di kasus ini, satu per satu korban dugaan pelecehan seksual terus bermunculan. Terbaru, jumlah alumni santriwati yang mengaku pernah menjadi korban pelecehan menjadi 17 orang.
12 orang di antaranya sudah memberikan keterangan di hadapan penyidik Unit PPA Sat Reskrim Polresta Lombok Tengah. Mereka mengaku menjadi korban Imanuddin Sumar saat menjadi santriwati.
Selain para korban, kepolisian juga telah memintai keterangan mantan Pimpinan Ponpes Abul Barokat Wannafahat Bunkate.
Tanggapan Pimpinan Ponpes Terduga Pelaku
Sebelumnya, Pimpinan Ponpes Abul Barokat Wannafahat Bunkate, H M. Imanuddin Sumar menegaskan, seluruh tuduhan tersebut tidak benar dan tidak mendasar.
Ia juga memberikan klarifikasi terkait rekaman suara yang tayang dalam pemberitaan BBC News. Ia menegaskan rekaman tersebut bukan merupakan pengakuan.
Menurutnya, percakapan dalam rekaman itu merupakan bagian dari upaya tabayun atau klarifikasi bersama Yusron dan sejumlah santri yang disebut dalam dokumen sebagai pihak yang diduga menjadi korban.
Ia mengklaim, melakukan langkah tersebut secara persuasif untuk menepis isu yang menurutnya berkembang dari sebuah draf teks berisi klaim sepihak.
“Langkah ini saya ambil secara persuasif untuk menepis isu miring yang tersebar dalam bentuk draf teks berisi klaim sepihak dari terduga korban. Agar tidak menjadi liar dan berkembang menjadi opini publik yang buruk,” katanya saat konferensi pers di Hotel Kautaman, Kota Mataram, Rabu 23 September 2026.
Imanuddin juga menegaskan persoalan tersebut merupakan masalah pribadi dan tidak berkaitan dengan institusi Pondok Pesantren Abul Barokat.
Ia mengaku khawatir pemberitaan yang berkembang berdampak terhadap keberlangsungan aktivitas belajar-mengajar di pesantren.
Karena itu, ia menyatakan telah mengambil keputusan untuk mundur dari seluruh jabatan yang diembannya di Pondok Pesantren Abul Barokat Wannafahat Bunkate maupun pesantren lainnya. Posisinya kemudian digantikan oleh Muhammad Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang (TGB).
“Saya mengambil keputusan besar, dengan hati yang ikhlas untuk mundur dan melepas semua jabatan saya,” ucap Imanudin. (*)




