LingkunganLombok Timur

Sudah Puluhan Tahun, Warga Jerowaru Menabung untuk Beli Air

Lombok Timur (NTBSatu) – Bagi warga Desa Ekas Buana, Seriwe, dan Sekaroh di Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur, air bukan sekadar kebutuhan sehari-hari. Mereka harus menyiapkan uang khusus agar bisa mendapatkan air, terutama ketika musim kemarau tiba.

Kebiasaan itu sudah berlangsung selama puluhan tahun. Setiap musim hujan, warga menampung air untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Mereka menyimpan persediaan tersebut sebagai bekal ketika hujan berhenti turun.

Namun, air hujan tidak selalu cukup untuk memenuhi kebutuhan selama berbulan-bulan. Ketika persediaan habis, warga harus membeli air tangki. Mereka menyisihkan uang jauh-jauh hari agar tetap bisa mandi, mencuci, memasak, hingga memberi minum ternak.

Camat Jerowaru, H. Sirah mengatakan, warga bahkan sudah terbiasa menghitung kebutuhan air selama musim kemarau. Mereka memisahkan anggaran pembelian air dari pengeluaran rumah tangga lainnya.

“Kalau dua tangki dalam sebulan, mereka sudah menyiapkan uang sekitar Rp300 ribu sampai Rp350 ribu. Itu memang harus disisihkan dan tidak boleh diganggu untuk kebutuhan lain,” kata H. Sirah, Minggu, 18 Oktober 2026.

Kondisi geografis ikut memengaruhi persoalan air bersih di wilayah tersebut. Sejumlah permukiman berada jauh dari jangkauan jaringan layanan air. Warga di dusun-dusun terpencil pun menghadapi tantangan lebih besar untuk mendapatkan pasokan air secara rutin.

Upaya mencari sumber air melalui sumur juga belum memberikan jalan keluar yang memadai. Air tanah memang muncul ketika warga menggali sumur. Namun, rasanya sangat pahit sehingga tidak layak menjadi sumber air minum bagi warga.

“Kalau pakai sumur, airnya memang keluar. Tetapi rasanya lebih pahit daripada air laut. Warnanya jernih, tetapi warga tidak mau meminumnya,” ujarnya.

Harapan dari Jaringan PDAM

Setelah bertahun-tahun bergantung pada air hujan dan air tangki, pada 2026 warga mulai merasakan perubahan. Jaringan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) mulai menjangkau Desa Ekas Buana, Seriwe, dan Sekaroh pada tahun ini.

“Dulu Ekas belum terjangkau, sekarang sudah mulai masuk. Seriwe juga sudah, meskipun belum seluruhnya. Pemasangan mulai tahun ini dan airnya sudah masuk ke rumah-rumah,” kata H. Sirah.

Pemasangan jaringan tersebut mulai membantu memenuhi kebutuhan air hingga ke rumah-rumah dan sejumlah hotel. Meski begitu, layanan belum menjangkau seluruh wilayah. Sejumlah dusun yang lokasinya jauh masih menunggu perluasan jaringan.

Persoalan lain muncul ketika warga mulai menikmati layanan tersebut. Debit air yang mengalir melalui jaringan PDAM kini mulai menurun. Kondisi ini membuat keberlanjutan pasokan air tetap menjadi perhatian.

“Sekarang sudah mulai masuk, meskipun belum seluruhnya. Kita lakukan secara bertahap karena ada dusun-dusun yang letaknya cukup jauh,” tutur H. Sirah.

Bagi warga, kehadiran jaringan air bersih menjadi harapan setelah puluhan tahun mengandalkan tampungan air hujan dan pembelian air tangki.

Namun, mereka masih membutuhkan pasokan yang stabil agar tidak kembali mengeluarkan biaya tambahan saat kemarau.

Selama air belum mengalir secara memadai, kebiasaan menyisihkan uang untuk membeli air akan tetap menjadi bagian dari kehidupan warga Jerowaru.

Bagi mereka, menyiapkan uang untuk air sama pentingnya dengan memenuhi kebutuhan pokok keluarga lainnya. (*)

Artikel Terkait